Home > Bayi, Anak dan remaja > Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


<!–[if gte mso 9]&gt; Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]–><!–[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]–>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
A. <!–[endif]–>MENGAPA ANAK PERLU DIASUH DAN DIBIMBING

Anak perlu diasuh dan dibimbing karena mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah bertumbuhnya anak dari segi jasmani. Perkembangan ialah berkembangnya kepribadian anak, dari seorang mahluk yang tadinya secara mutlak bergantung pada lingkungannya, menjadi seorang yang secara relatif mandiri dan berguna bagi lingkungannya.

 

Perkembangan anak merupakan proses. Artinya, perkembangan itu meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, dan terjadi sebagai hasil interaksi antara faktor bawaan dan faktor lingkungan. Agar perkembangan itu berjalan sebaik-baiknya, anak perlu diasuh dan dibimbing oleh orang dewasa, terutama dalam lingkungan kehidupan berkeluarga.

 

<!–[if !supportLists]–>B. <!–[endif]–>HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK

Sebagaimana dijelaskan diatas, perkembangan anak dipengaruhi oelh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Kedua faktor itu perlu diperhatikan dalam mengasuh anak.

  1. Faktor bawaan

Faktor bawaan adalah sifat yang dibawa anak sejak lahir :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ada anak yang penyabar, pemarah, pendiam, banyak bicara, ceradas, bodoh, dll

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kedaan fisik yang berbeda-beda , ada yang tinggi/pendek, ada yang berkulit hitam/putih, hidung mancung/pesek, dll

Faktor bawaan dapat mempercepat, menghambat, atau melemahkan pengaruh faktor lingkungan. Setiap anak itu unik, artinya bahwa tidak ada satu anak pun yang persis sama. Dalam mengasuh dan membimbing anak, kita tidak boleh membandingkan perkembangan anak yang satu dengan yang lainnya, tanpa memperhatikan sifat mereka masing-masing.

  1. Faktor lingkungan

Adalah pengaruh luar atau lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak. Faktor lingkungan meliputi suasana lingkungan dalam keluarga dan hal lain yang berpengaruh dalam perkembangan anak, seperti sarana dan prasarana yang tersedia, misalnya alat bermain, lapangan bermain atau televisi.

Faktor lingkungan dapat merangsang berkembangnya fungsi tertentu dari anak, shingga mempercepat perkembangan anak. Namun, faktor lingkungan juga dapat mmeperlambat atau mengganggu kelangsungan perkembangan anak. Peran orangtua adalah menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak ke arah yang positif.

 

<!–[if !supportLists]–>C. <!–[endif]–>HAKIKAT MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam mendidik anak. Pendidikan di lingkungan keluarga merupakan dasar-dasar pertama perkembangan anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan membimbing anak ialah mendidik anak agar kepribadian anak dapat berkembang dengan sebaik-baiknya, sehingga menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan mebimbing anak melibatkan seluruh aspek kepribadian anak, baik aspek jasmani, intelektual, emosional dan keterampilan, serta aspek norma dan nilai.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Hakikat mengasuh dan membimbing anak meliputi pemberian kasih sayang dan rasa aman, sekaligus disiplin dan contoh yang baik. Oleh karena itu, diperlukan suasana kehidupan keluarga yang stabil dan bahagia

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan membimbing anak selain merupakan tantangan dalam kelauraga, juga merupakan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan membimbing anak membutuhkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan kesabaran orangtua

 

<!–[if !supportLists]–>D. <!–[endif]–>MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK UMUR 0 – 1,5 TAHUN

  1. Ciri dan tuntutan perkembangan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memperoleh rasa aman dan rasa percaya dari lingkungan merupakan dasar yang penting dalam hubungan anak dengan lingkungannya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa aman ini diperolehnya melalui sentuhan fisik yang menyenangkan dengan ibunya dan sesedikit mungkin mengalami hal-hal yang kurang mneynangkan

  1. Sikap orangtua

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Penuh kasih sayang dalam merawat dan mengasuh akan menimbulkan perasaan aman serta percaya pada bayi

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesiapan ibu pada setiap saat dibutuhkan oleh bayi, juga menimbulkan rasa aman dan percaya pada bayi

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah ASI sesuai dengan kebutuhan bayi anda. Jangan terlalu ketat dengan jadwal pemberian makanan, karena setiap bayi mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Bila ibu terpaksa memberikan susu botol, perlakukanlah seperti bayi minum ASI, yaitu dengan cara memeluknya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ketika bayi rewel, carilah penyebabnya dan atasilah masalahnya. Tangisan tidak selalu berarti bayi lapar.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Angkat dan peluklah bayi anda serta gendonglah berkeliling rumah/halaman sambil menunjukkan benda-benda yang ada di sekitarnya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sering-seringlah berbicara kepada bayi anda setiap hari, pada saat memakaikan pakaian, memberinya makan, memandikan, atau ketika melakukan kesibukan rumah tangga lainnya. Bayi tidak pernah terlalu muda untuk diajak berbicara

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ajaklah bayi anda bermain sambil tersenyum dan tirukanlah gerakan, mimik, dan kegiatannya. Bayi anda akan menirukan kegiatan anda pula.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Senandungkan dan ayunkanlah bayi anda pada saat menidurkan, sehingga ia akan tertidur dengan nyaman.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perkenalkan dengan berbagai macam benda, bunyi-bunyian, dan warna. Hal ini akan mempercepat perkembangan bayi anda.

 

Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu dan anak pada tahap ini akan menyebabkan terganggunya pembentukan rasa aman dan percaya. Hal ini menyebabkan goyahnya tahap perkembangan berikutnya. Anak diliputi rasa tidak aman dan tidak percaya.

 

  1. Gagguan/penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesulitan makan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mudah terangsang, marah, tersinggung (Irritabilitas)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menolak segala sesuatu yang baru

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sikap dan tingkah laku yang seolah-olah ingin melekat pada ibu dan menolak lingkungan

 

Bila gangguan tersebut tidak diatasi dengan baik, maka pada masa dewasa kemungkinan besar akan timbul kelainan jiwa yang bercorak ketergantungan yang kuat seperti :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Depresi (rasa murung, sedih, dan perasaan tertekan)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Adiksi obat (ketergantungan obat)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Skizofrenia (gangguan jiwa dengan kepribadian terpecah)

 

<!–[if !supportLists]–>E. <!–[endif]–>MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK UMUR 1,5 – 3 TAHUN

  1. Ciri dan tuntutan perkembangan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak akan bergerak dan berbuat sesuatu sesuai dengan keamuannya sendiri, sehingga ia seolah-olah ingin mencoba apa yang dapat dilakukannya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak dapat menuntut atau menolak apa yang ia kehendaki atau tidak ia kehendaki

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Akan tertanam perasaan otonomi diri, yaitu rasa kemampuan mengatur badannya dan lingkungannya sendiri. Hal ini menjadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri di kemudian hari

 

  1. Sikap orangtua

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Doronglah agar anak dapat bergerak bebas dan berlatih melakukan hal-hal yang diperkirakan mampu ia kerjakan, sehingga akan menumbuhkan rasa kemampuan diri. Namun harus bersikap tegas untuk melindungi dari bahaya, karena dorongan anak berbuat belum diimbangi oleh kemmapuan untuk melaksanakannya secara wajar dan rasional

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Usahakan agar anak mau bermain dengan anak lainnya. Dengan demikian ia akan belajar bagaimana mengikuti aturan permainan. Namun jangan lupa bahwa dalam bermain atau berhubungan dengan orang lain, anak masih bersifat egoistis, yaitu mementingkan diri sendiri dan memperlakukan orang lain sebagai obyek atau benda sesuai dengan kemauannya sendiri

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Banyaklah berbicara kepada anak dalam kalimat pendek yang mudah dimengerti

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Bacakan buku cerita atau dongeng kepada anak setiap hari, dan doronglah agar ia mau menceritakan kepada anda apa yang ia lihat atau dengar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ajak anak ke taman, toko, kebun binatang, lapangan, atau tempat lainnya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Usahakan agar anak membereskan mainannya setelah bermain, membantu kegiatan rumah tangga yang ringan dan menanggalkan pakaiannya tanpa dibantu. Hal ini akan melatih anak untuk bertanggung jawab.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Latihlah anak dalam hal kebersihan diri, yaitu buang air kecil dan buang air besar pada tempatmnya, namun jangan terlalu ketat

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Latihlah anak untuk makan sendiri memakai sendok dan garpu, dan ajaklah ia makan bersama keluarga

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah alat permainan yang sederhana, dan doronglah agar anak mau bermain balok-balok atau menggambar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jangan terlalu banyak memberikan larangan. Namun orangtua pun jangan terbiasa menuruti segala permintaan anak. Bujuk dan tenangkanlah anak ketika ia kecewa dengan cara memeluknya dan mengajaknya berbicara.

 

Gangguan dalam mencapai rasa otonomi diri akan berakibat bahwa anak dikuasai oleh rasa malu dan keragu-raguan serta pengekangan diri yang berlebihan. Sebaliknya, dapat juga terjadi sikap melawan dan memberontak.

 

  1. Gangguan / penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesulitan makan, terutama bila ibu memaksa makan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Suka mengadat (ngambek/tempertantrum)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tingkah laku kejam

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tingkah laku menentang dan keras kepala

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Gangguan dalam berhubungan dengan orang lain yang diwarnai oleh sikap menyerang

 

<!–[if !supportLists]–>F. <!–[endif]–>MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK UMUR 3 – 6 TAHUN

  1. Ciri dan tuntutan perkembangan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya berbagai macam, dan meniru kegiatan di sekitarnya.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak mulai melibatkan diri dalam kegiatan bersama dan menunjukkan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu, tapi ia tidak mementingkan hasilnya. Pengalaman dalam melakukan aktivitas ini amat penting artinya bagi anak.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Seringkali kita lihat bahwa anak cenderung berpindah-pindah dan meninggalkan tugas yang diberikan kepoadanya untuk melakukan yang lain. Hal ini dapat menimbulkan krisis baru karena hal itu bertentangan dengan lingkungan yang semakin menuntut, sehingga anak mengalami kekecewaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jika dalam tahap sebelumnya hanya tokoh ibu yang bermakna bagi anak, dalam tahap ini tokoh ayah mempunyai peran penting baginya. Disini terbentuk segitiga hubungan kasih sayang ayah-ibu-anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang kepada ibunya, dan anak perempuan lebih sayang kepada ayahnya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Melalui peristiwa ini, anak dapat mengalami perasaan sayang, benci, irihati, persaingan, memiliki dan lain-lain. Begitu pula perasaan takut dan cemas.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kedua orangtua harus bekerjasama untuk membantu anak melalui tahap ini. Peranan orangtua sebagai tokoh ayah dan tokoh ibu sangat penting

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ayah dan ibu merupakan suatu kesatuan. Oleh karena itu jangan mau dimanipulasi oleh anak. Ayah dan ibu memberikan kasih sayang yang sama, baik terhadap anak perempuan ataupun anak laki-laki

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dengan terselesaikannya hubungan segitiga tersebut, maka anak wanita akan beridentifikasi dengan ibunya dan anak laki-laki dengan ayahnya (identitas seksual maupun identitas diri)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Bila ibu terlalu dominan (menonjol pengaruhnya) dalam rumah tangga, sedangkan ayah kurang tegas atau ayah tidak ada (absen) baik secara lahiriah maupun kejiwaan, maka akan terjadi identifikasi (proses meniru) yang salah. Anak laki-laki akan beridentifikasi dengan ibunya, sehingga ia lebih mengembangkan sikap kewanitaan dan sebaliknya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin. Kadang-kadang, ia terpaku pada alat kelaminnya. Sering kita melihat anak laki-laki memegang alat kelaminnya sampai ereksi. Jangan dimarahi karena hal ini tetapi alihkanlah perhatiannya. Bila diatasi dengan baik, fase ini akan berakhir dengan baik pada usia 6 tahun.

 

  1. Sikap orangtua

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah kesempatan kepada anak untuk menyalurkan inisiatifnya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ikut sertakan anak dalam aktivitas keluarga, misalnya menyapu, berbelanja ke pasar, memasak, atau membetulkan mainan yang rusak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jangan menakut-nakuti anak. Pada anak laki-laki akan berakibat cemas, karena pada tahap ini ia sangat takut akan kehilangan alat kelaminnya (kastrasi), sedangkan pada anak perempuan timbul rasa iri hati.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dengar dan hargailah pendapat serta usul yang dikemukakan oleh anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jangan menuntut yang melebihi kemampuan anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ibu perlu lebih dekat kepada anak perempuannya. Sedangkan ayah perlu lebih akrab dengan anak laki-lakinya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jawablah pertanyaan anak dengan benar, jangan membohongi atau menunda jawaban, misalnya bila anak bertanya bagaimana caranya adik keluar dari perut mama, jawablah bahwa keluarnya melalui jalan lahir, jangan katakan dibelah dari perut. Hal ini akan menakutkan bagi anak yang dapat berdampak negatif pada jiwanya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sering-seringlah membacakan buku cerita atau dongeng. Kemudian diskusikanlah isi ceritanya dan tanyakanlah beberapa pertanyaan kepada anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah ia kesempatan untuk mengunjungi tetangga, teman, dan saudara tanpa ditemani.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Luangkan waktu setiap hari untuk berdialog dengan anak. Dengarkanlah ia dan tunjukkanlah bahwa anda mengerti pembicaraannya dengan mengulangi apa yang dikatakannya. Pada saat ini janganlah menggurui, mencaci dan menyepelekannya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ajarkanlah untuk membedakan yang salah dan yang benar, serta tata tertib dan sopan santun yang berlaku di masyarakat setempat

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Peranan ayah menjadi penting disini. Oleh karena itu ajaklah anak bermain bersama. Disini, ayah perlu bersikap sebagai teman bagi anak

 

Gangguan dalam mencapai rasa inisiatif akan menyebabkan anak merasa bersalah, rasa takut berbuat sesuatu, takut mengemukakan sesuatu, serta serba salah dalam bergaul

 

  1. Gangguan/ Penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesulitan belajar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Masalah sekolah

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Masalah pergaulan dengan teman

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak yang pasif dan takut serta kurang kemauan, kurang inisiatif

 

Riwayat Tumbuh Kembang

Menurut Ibu anak bisa mengangkat bahu umur bulan. Bisa duduk umur bulan. Berdiri umur tahun dan bicara lancar umur tahun. Hingga saat ini anak berat badan anak kg, TB : cm, LK : cm, LD : cm, LLA : cm.

 

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Faktor Keturunan ; yaitu faktor gen yang diturunkan dari kedua orang tuanya.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Faktor Hormonal ; banyak hormon yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, namun yang paling berperan adalah Growth Hormon (GH).

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Faktor Gizi ; Setiap sel memerlukan makanan atau gizi yang baik. Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik dibutuhkan gizi yang baik.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Faktor Lingkungan; Terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan biologi dan lingkungan psikososial.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Faktor keturunan (genetik)

Seperti kita ketahui bahwa warna kulit, bentuk tubuh dan lain-lain tersimpan dalam gen. Gen terdapat dalak kromosom, yang dimiliki oleh setiap manusia dalam setiap selnya. Baik sperma maupun ovum masing masing mempunyai 23 pasang kromosom. Jika ovum dan sperma bergabung akan terbentuk 46 pasang kromosom, yang kemudian akan terus smembelah untuk memperbanyak diri sampai akhirnya terbentuk janin, bayi. Setiap kromosom mengandung gen yang mempunyai sifat diturunkan pada anak dari keluarga yang memiliki abnormalitas tersebut.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Faktor Hormonal

Kelenjar petuitari anterior mengeluarkan hormon pertumbuhan (Growth Hormone, GH) yang merangsang pertumbuhan epifise dari pusat tulang panjang. Tanpa GH anak akan tumbuh dengan lambat dan kematangan seksualnya terhambat. Pada keadaan hipopetuitarisme terjadi gejala-gejala anak tumbuh pendek, alat genitalia kecil dan hipoglikemi. Hal sebaliknya terjadi pada hiperfungsi petuitari, kelainan yang ditimbulkan adalah akromegali yang diakibatkan oleh hipersekresi GH dan pertumbuhan linear serta gigantisme bila terjadi sebelum pubertas. Hormon lain yang juga mempengaruhi pertumbuhan adalah hormon-hormon dari kelenjar tiroid dan lainya.

 

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Faktor Gizi.

Proses tumbuh kembang anak berlangsung pada berbagai tingkatan sel, organ dan tumbuh dengan penambahan jumlah sel, kematangan sel, dan pembesaran ukuran sel. Selanjutnya setiap organ dan bagian tubuh lainnya mengikuti pola tumbuh kembang masing-masing. Dengan adanya tingkatan tumbuh kembang tadi akan terdapat rawan gizi. Dengan kata lain untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal dibutuhkan gizi yang baik.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Faktor Lingkungan

Lingkungan fisik; termasuk sinar matahari, udara segar, sanitas, polusi, iklim dan teknologi

Lingkungan biologis; termasuk didalamnya hewan dan tumbuhan. Lingkungan sehat lainnya adalah rumah yang memenuhi syarat kesehatan.

Lingkungan psikososial; termasuk latar belakang keluarga, hubungan keluarga.

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Faktor sosial budaya

Faktor ekonomi, sangat memepengaruhi keadaan sosial keluarga.

Faktor politik serta keamanan dan pertahanan; keadaan politik dan keamanan suatu negara juga sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang seorang anak.

Teori Kepribadian anak Menurut Teori Psikoseksual Sigmund Freud

Kepribadian ialah hasil perpaduan antara pengaruh lingkungan dan bawaan, kualitas total prilaku individu yang tampak dalam menyesuaikan diri secara unit dengan lingkungannya.

Tiori kepribadian yang dikemukakan oleh ahli psikoanlisa Sigmund freud (1856 – 1939). Meliputi tahap-tahap :

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Fase oral, usia antara 0 – 11/2 Tahun

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Fase anal, usia antara 11/2 – 3 Tahun

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Fase Falik, usia antara 3 – 5 Tahun

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Fase Laten, usia antara 5 – 12 Tahun

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Fase Genital, usia antara 12 – 18 Tahun

Tahap perkembangan anak menurut Teori Psikososial Erik Erikson.

Erikson mengemukakan bahwa dalam tahap-tahap perkembangan manusia mengalami 8 fase yang saling terkait dan berkesinambungan.

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Bayi (oral) usia 0 – 1 Tahun

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Usia bermain (Anal ) yakni 1 – 3 Tahun

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Usia prasekolah (Phallic) yakni 3 – 6 Tahun

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Usia sekolah (latent) yakni 6 – 12 tahun

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Remaja (Genital) yakni 12 tahun lebih

<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Remaja akhir dan dewasa muda

<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Dewasa

<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>Dewasa akhir

TUGAS PERKEMBANAGAN

BILA TUGAS PERMKEMBANGAN TIDAK TERCAPAI

Bayi (0 – 1 tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa percaya mencapai harapan,

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dapat menghadapi frustrasi dalam jumlah kecil

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengenal ibu sebagai orang lain dan berbeda dari diri sendiri.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tidak percaya

Usia bermain (1 – 3 Tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan otonomi.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai keinginan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memulai kekuatan baru

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menerima kenyataan dan prinsip kesetiaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Malu dan ragu-ragu

Usia pra sekolah ( 3 – 6 Tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan inisiatif mencapai tujuan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menyatakan diri sendiri dan lingkungan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Membedakan jenis kelamin.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa bersalah.

Usia sekolah ( 6 – 12 Tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan berprestasi

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dapat menerima dan melaksanakan tugas dari orang tua dan guru

Rasa rendah diri

Remaja ( 12 tahun lebih)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa identitas

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai kesetiaan yang menuju pada pemahaman heteroseksual.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memilih pekerjaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai keutuhan kepribadian

Difusi identitas

Remaja akhir dan dewasa muda

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa keintiman dan solidaritas

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memperoleh cinta.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mampu berbuat hubungan dengan lawan jenis.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Belajar menjadi kreatif dan produktif.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Isolasi

Dewasa

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan keturunan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memperoleh perhatian.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Belajar keterampilan efektif dalam berkomunikasi dan merawat anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menggantungkan minat aktifitas pada keturunan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Absorpsi diri dan stagnasi

Dewasa akhir

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan integritas

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai kebijaksanaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>keputusasaan

 

About these ads
  1. June 28, 2013 at 11:12 pm

    Thanks for a marvelous posting! I truly enjoyed reading it, you could be a great
    author.I will make sure to bookmark your blog and will eventually come back in the foreseeable future.
    I want to encourage you to ultimately continue your great job, have a nice evening!

  2. February 4, 2014 at 11:09 pm

    Highly energetic blog, I enjoyed that a lot. Will there
    be a part 2?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52 other followers

%d bloggers like this: