<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>Pengertian
Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba, 1998 : 221).
<!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Etiologi / Penyebab Persalinan Preterm
Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui :
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Eastman = kausa prematur 61,9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui)
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Holmer = sebagian besar tidak di ketahui.
( Mochtar , 1998 : 219 )
<!–[if !supportLists]–>Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan preterm
Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :
Menurut Manuaba (1998 : 221)
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Kondisi umum
<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Keadaan sosial ekonomi rendah
<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Kurang gizi
<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Anemia.
<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Perokok berat, dengan lebih dari 10 batang/ hari.
<!–[if !supportLists]–>d) <!–[endif]–>Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun.
<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Penyakit ibu yang menyertai kehamilan
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Penyulit kebidanan
Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya persalinan preterm diantaranya :
<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Kehamilan dengan hidramnion, ganda, pre-eklampsia.
<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Kehamilan dengan perdarahan antepartum pada solusio plasenta, plasenta previa, pecahnya sinus marginalis.
<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Kehamilan dengan ketuban pecah dini: terjadi gawat janin, temperatur tinggi.
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Kelainan anatomi rahim
<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Keadaan rahim yang sering menimbulkan kontraksi dini : Serviks inkompeten karena kondisi serviks, amputasi serviks.
<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Kelainan kongenital rahim:
<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Infeksi pada vagina aseden (naik) menjadi amnionitis
Sedangkan menurut Mochtar (1998 : 220), faktor yang mempengaruhi Prematuritas adalah sebagai berikut:
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Umur ibu, suku bangsa, sosial ekonomi
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Bakteriura (infeksi saluran kencing )
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>BB ibu sebelum hamil, dan sewaktu hamil
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Kawin dan tidak kawin:
Tak syah 15 % prematur; kawin sah 13 %prematur
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Prenatal ( antenantal ) care
<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Anemia, penyakit jantung
<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Jarak antara persalinan yang terlalu rapat
<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil berat
<!–[if !supportLists]–>i. <!–[endif]–>Keadaan dimana bayi terpaksa dilahirkan prematur, misalnya pada plasenta praevia, toksemia gravidarum, solusio plasentae, atau kehamilan ganda
<!–[if !supportLists]–>Kondisi yang menimbulkan kontraksi
Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan, kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin :
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Kelainan Bawaan Uterus
Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten, Hidramnion, kehamilan ganda, infeksi vagina dan serviks, dan lain-lain, infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah.
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Serviks Inkompeten
Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm , riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya inkompeten. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami konisasi, Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam.
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Kehamilan Ganda
Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek.
( Wiknjosastro et. al., 2002 : 313 )
<!–[if !supportLists]–>Penanganan Persalinan Pretern
Penanganan Umum
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu.
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.
Prinsip Penanganan.
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau.
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya.
( Saifuddin et.al., 2002 : 302 ).
<!–[if !supportLists]–>Kelahiran Prematur
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat.
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran.
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial.
Kantong ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar.
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Episiotomi mengurangi tekanan pada cranium bayi.
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan.
<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar.
<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Kelahiran presipitatus dan yang tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur.
<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran.
( Oxorn, 2003 : 588 ).
<!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Pencegahan Persalinan Preterm
Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut :
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Hal – hal yang dapat dicegah
<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Menurunkan atau mengobati
<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi.
<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat.
<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat.
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Hal – hal yang tidak dapat dicegah :
<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).
<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Vaktor Ovum.
<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Tempat insersi plasenta.
<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Insersi tali pusat.
<!–[if !supportLists]–>5) <!–[endif]–>Plasenta previa.
<!–[if !supportLists]–>6) <!–[endif]–>Congenital anomaly.
<!–[if !supportLists]–>7) <!–[endif]–>Hamil ganda.
<!–[if !supportLists]–>8) <!–[endif]–>Suku bangsa.
<!–[if !supportLists]–>9) <!–[endif]–>Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan) ( Mochtar, 1998 : 220 ).

August 9, 2008 at 6:02 am
kurang gizi
October 1, 2009 at 1:51 pm
Hallo…