Home > Uncategorized > Konsep Penyembuhan Luka

Konsep Penyembuhan Luka


Pengertian Penyembuhan Luka

Penyembuhan adalah proses, cara, perbuatan menyembuhkan, pemulihan (Depdikbud, 1999 : 905).

Luka adalah belah (pecah, cidera, lecet) pada kulit karena kena barang yang tajam (Depdikbud, 1999 : 605).

Jadi penyembuhan luka adalah panjang waktu proses pemulihan pada kulit karena adanya kerusakan atau disintegritas jaringan kulit.

Fase – Fase Penyembuhan Luka

Fase – fase penyembuhan luka menurut Smeltzer (2002 : 490) adalah sebagai berikut:

a.             Fase Inflamasi, berlangsung selama 1 sampai 4 hari.

Respons vaskular dan selular terjadi ketika jaringan teropong atau mengalami cedera. Vasokonstriksi pembuluh terjadi dan bekuan fibrinoplatelet terbentuk dalam upaya untuk mengontrol pendarahan. Reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit dan diikuti oleh vasodilatasi venula. Mikrosirkulasi kehilangan kemampuan vasokonstriksinya karena norepinefrin dirusak oleh enzim intraselular. Juga, histamin dilepaskan, yang meningkatkan permeabilitas kapiler.

Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan, elemen darah seperti antibodi, plasma protein, elektrolit, komplemen, dan air menembus spasium vaskular selama 2 sampai 3 hari, menyebabkan edema, teraba hangat, kemerahan dan nyeri.

b.            Fase Proliferatif, berlangsung 5 sampai 20 hari.

Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggiran luka; kuncup ini berkembang menjadi kapiler, yang merupakan sumber nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru.

Setelah 2 minggu, luka hanya memiliki 3 % sampai 5% dari kekuatan aslinya. Sampai akhir bulan, hanya 35% sampai 59% kekuatan luka tercapai. Tidak akan lebih dari 70% sampai 80% kekuatan dicapai kembali. Banyak vitamin, terutama vitamin C, membantu dalam proses metabolisme yang terlibat dalam penyembuhan luka.

c.             Fase Maturasi, berlangsung 21 hari sampai sebulan atau bahkan tahunan.

Sekitar 3 minggu setelah cedera, fibroblast mulai meninggalkan luka. Jaringan parut tampak besar, sampai fibril kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat. Hal ini, sejalan dengan dehidrasi, mengurangi jaringan parut tetapi meningkatkan kekuatannya. Maturasi jaringan seperti ini terus berlanjut dan mencapai kekuatan maksimum dalam 10 atau 12 minggu, tetapi tidak pernah mencapai kekuatan asalnya dari jaringan sebelum luka.

Bentuk-bentuk Penyembuhan Luka

Dalam penatalaksanaan bedah penyembuhan luka, luka digambarkan sebagai penyembuhan melalui intensi pertama, kedua, atau ketiga.

Penyembuhan melalui Intensi Pertama (Penyatuan Primer). Luka dibuat secara aseptik, dengan pengrusakan jaringan minimum, dan penutupan dengan baik, seperti dengan suture, sembuh dengan sedikit reaksi jaringan melalui intensi pertama. Ketika luka sembuh melalui instensi pertama, jaringan granulasi tidak tampak dan pembentukan jaringan parut minimal.

Penyembuhan melalui Instensi Kedua (Granulasi). Pada luka dimana terjadi pembentukan pus (supurasi) atau dimana tepi luka tidak saling merapat, proses perbaikannya kurang sederhana dan membutuhkan waktu lebih lama.

Penyembuhan melalui Instensi Ketiga (Suture Sekunder). Jika luka dalam baik yang belum disuture atau terlepas dan kemudian disuture kembali nantinya, dua permukaan granulasi yang berlawanan disambungkan. Hal ini mengakibatkan jaringan parut yang lebih dalam dan luas.

Gambar 2.1 Jenis Penyembuhan Luka

Faktor – Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka

a.             Lingkungan

Dukungan dari lingkungan keluarga, dimana ibu akan selalu merasa mendapatkan perlindungan dan dukungan serta nasihat – nasihat khususnya orang tua dalam merawat kebersihan pasca persalinan.

b.            Tradisi

Di Indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan pasca persalinan masih banyak digunakan, meskipun oleh kalangan masyarakat modern. Misalnya untuk perawatan kebersihan genital, masyarakat tradisional menggunakan daun sirih yang direbus dengan air kemudian dipakai untuk cebok.

c.             Pengetahuan

Pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan sangat menentukan lama penyembuhan luka perineum. Apabila pengetahuan ibu kurang telebih masalah kebersihan maka penyembuhan lukapun akan berlangsung lama.

d.            Sosial ekonomi

Pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama penyebuhan perineum adalah keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan aktifitas sehari-hari pasca persalinan. Jika ibu memiliki tingkat sosial ekonomi yang rendah, bisa jadi penyembuhan luka perineum berlangsung lama karena timbulnya rasa malas dalam merawat diri.

e.             Penanganan petugas

Pada saat persalinan, pembersihannya harus dilakukan dengan tepat oleh penangan petugas kesehatan, hal ini merupakan salah satu penyebab yang dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum.

f.              Kondisi ibu

Kondisi kesehatan ibu baik secara fisik maupun mental, dapat menyebabkan lama penyembuhan. Jika kondisi ibu sehat, maka ibu dapat merawat diri dengan baik.

g.             Gizi

Makanan yang bergizi dan sesuai porsi akan menyebabkan ibu dalam keadaan sehat dan segar. Dan akan mempercepat masa penyembuhan luka perineum (Smeltzer, 2002 : 493).

Faktor – Faktor Internal yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka

a.             Usia

Penyembuhan luka lebih cepat terjadi pada usia muda dari pada orang tua. Orang yang sudah lanjut usianya tidak dapat mentolerir stress seperti trauma jaringan atau infeksi.

b.            Penanganan jaringan

Penanganan yang kasar menyebabkan cedera dan memperlambat penyembuhan.

c.             Hemoragi

Akumulasi darah menciptakan ruang rugi juga sel-sel mati yang harus disingkirkan. Area menjadi pertumbuhan untuk infeksi.

d.            Hipovolemia

Volume darah yang tidak mencukupi mengarah pada vasokonstriksi dan penurunan oksigen dan nutrient yang tersedia utuk penyembuhan luka.

e.             Faktor lokal Edema

Penurunan suplai oksigen melalui gerakan meningkatkan tekanan interstisial pada pembuluh.

f.              Defisit nutrisi

Sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori.

g.             Personal hygiene

Personal hygiene (kebersihan diri) dapat memperlambat penyembuhan, hal ini dapat menyebabkan adanya benda asing seperti debu dan kuman.

h.             Defisit oksigen

1)      Insufisien oksigenasi jaringan :  Oksigen yang tidak memadai dapat diakibatkan tidak adekuatnya fungsi paru dan kardiovaskular juga vasokonstriksi setempat.

2)      Penumpukan drainase  :  Sekresi yang menumpuk menggangu proses penyembuhan.

i.               Medikasi

1)      Steroid  :  Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal.

2)      Antikoagulan  :Dapat menyebabkan hemoragi.

3)      Antibiotik spektrum luas / spesifik  :  Efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patolagi spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular.

j.              Overaktivitas

Menghambat perapatan tepi luka. Mengganggu penyembuhan yang diinginkan.

(Smelzer, 2002 : 493).

Perawatan Luka Perineum Menurut APN

Perawatan luka perineum menurut APN adalah sebagai berikut :

1.            Menjaga agar perineum selalu bersih dan kering.

2.            Menghindari pemberian obat trandisional.

3.            Menghindari pemakaian air panas untuk berendam.

4.            Mencuci luka dan perineum dengan air dan sabun 3 – 4 x sehari.

Kontrol ulang maksimal seminggu setelah persalinan untuk pemeriksaan penyembuhan luka.

About these ads
  1. November 18, 2008 at 3:51 pm

    thank u for ur informative article!really help me doing my assignment!

  2. March 29, 2009 at 6:30 am

    bagus bAgus tapi kurang pathways yaaaaa trim

  3. June 28, 2009 at 6:58 am

    bagus… tapi pake latar yang kerenan dikit yaaahhh… biar makin semangat yang bacanya

  4. Mbahtosai
    September 23, 2009 at 8:04 am

    aduh
    lengkap banget!
    membantu tugas saya ^^

    FK Unsrat

  5. mages
    November 1, 2009 at 4:55 am

    thank u for ur information.

  6. lela
    May 7, 2010 at 5:33 am

    btuh KTI tentang “gambaran pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka jahitan perineum, donk.. !mksh

  7. Anonymous
    December 21, 2010 at 4:45 am

    thanks yaaahhhhh……..

  8. Anonymous
    October 11, 2011 at 7:20 am

    thanx….artikelnya sangat berguna

  9. October 11, 2011 at 7:30 am

    thanx boss….

  10. November 4, 2011 at 1:54 am

    thanks artikelnya, snagt bagus dan berguna…

  11. anggra
    July 27, 2012 at 1:29 am

    bleh tw ga apa judul buku dr (Smelzer, 2002)

  12. nuraini daulay
    August 28, 2012 at 6:56 am

    thanks artikelnya sangat bagus dan bermanfaat

  13. Anonymous
    October 9, 2012 at 11:41 am

    mksi banyak ya atas literaturnya…
    ini sangat bermanfaat bangaet untuk saya..

  14. dina
    October 9, 2012 at 5:04 pm

    yang nulis artikelnya atas nama siapa yah ?
    buat referensi nih,,,

  15. Anonymous
    October 30, 2012 at 1:11 pm

    mkasih bgt lumayan nambah refrensi buat KTI sya, tp minta dilengkapin lg dong soalnya msh kurang nihhh…hehe
    mksiiihh

    mhsiswa akbid

  16. June 23, 2013 at 8:28 am

    sip mas makasih

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52 other followers

%d bloggers like this: