Cara Membuat MP-ASI

May 12, 2008

Bahan - bahan MP- ASI

Makanan campuran yang ideal untuk bayi / anak dibawah usia 1 tahun mengandung 6 kelompok adalah sebagai berikut:

2.2.6.1 Makanan Pokok

Makanan pokok adalah makanan yang dikonsumsi dalam jumlah yang paling banyak dibandingkan jenis makanan lainnya dan mengandung zat tepung sebagai sumber tenaga untuk aktivitas sehari - hari.

2.2.6.2 Jenis kacang-kacangan

Kacang - kacangan ini meliputi kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah dll. Jenis ini diperlukan juga oleh bayi untuk memenuhi kebutuhan protein yang sangat penting untuk pertumbuhan. Agar bayi menyukai rasa kacang maka pemberian awal dapat dicampur dalam bubur kemudian secara bertahap pasti ditinggalkan.

2.2.6.3 Bahan pangan hewan

Hampir semua bahan makanan / pangan berasal dari hewani, bergizi tinggi dan sangat baik sebagai campuran makanan bayi. Bahan pangan hewani yang baik untuk bayi antara lain daging sapi, ikan segar, telur, susu beserta hasil olahan seperti keju, susu asam.

2.2.6.4 Sayuran berwarna

Karena organ pencernaan bayi belum sempurna sebaiknya di pilih sayuran yang lunak, tidak menimbulkan rasa merangsang, tidak berbau daun.

Contoh : Dengan mengukus / merebus sampai lunak di cincang lalu dicampurkan ke bubur.

2.2.6.5 Buah – buahan

Pilih yang masak dan pastikan tidak masam, sebaiknya dipilih buah yang berwarna jingga seperti halnya sayuran. Selain mengandung vitamin dan mineral, pisang pun mengandung karbohidrat.

Umur 6 bulan buah harus dihaluskan dan diambil sarinya saja, saat umur 8 bulan bisa langsung dimakan tanpa dihaluskan.

2.2.6.6 Lemak dan Minyak

Lemak dan minyak diperlukan bayi karena mengandung energi yang tinggi dan memberikan rasa gurih, makanan jadi lebih lunak dan mudah ditelan.

(Anonim, 1996 : 36 – 37)


Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

May 12, 2008

Pengertian

MP-ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. MP-ASI diberikan mulai usia 4 bulan sampai 24 bulan. Semakin meningkat usia bayi/anak, kebutuhan akan zat gizi semakin bertambah karena tumbuh kembang, sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi. MP-ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak. Pemberian MP-ASI yang cukup dalam hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini.

Persyaratan MP ASI

Kriteria yang harus dimiliki oleh MP-ASI adalah sebagai berikut:
- Nilai gizi dan kandungan proteinnya tinggi.
- Memiliki nilai suplementasi yang baik, mengandung vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup.
- Dapat diterima dengan baik.
- Sebaiknya dapat diproduksi dari bahan-bahan yang tersedia secara lokal.
- Bersifat pada gizi
Kandungan serat kasar / bahan lain sukar dicerna terlalu banyak justru akan mengganggu pencernaan bayi.

Cara Pemberian MP- ASI pada bayi

  • Berikan secara hati-hati sedikit demi sedikit dari bentuk encer kemudian yang lebih kental secara berangsur - angsur.
  • Makanan diperkenalkan satu persatu sampai bayi benar-benar dapat menerimanya.
  • Makanan yang dapat menimbulkan alergi diberikan paling terakhir dan harus dicoba sedikit demi sedikit misalnya telur, cara pemberiannya kuningnya lebih dahulu setelah tidak ada reaksi alergi, maka hari berikutnya putihnya.
  • Pada pemberian makanan jangan dipaksa, sebaliknya diberikan pada waktu lapar ( Notoatmodjo, 1998: 138 ).

Jenis Jenis MP-ASI

Umur Bayi

Jenis makanan

Berapa kali sehari

0 - 4 / 6 bulan

ASI

10 - 12x / hari

Kira-kira 6 bulan

- ASI

Kapan diminta

- Bubur lunak / sari buah

- Bubur : bubur Havernout/ bubur tepung beras merah

1 - 2x / hari

Kira-kira 7 bulan

- ASI

Kapan diterima

- Buah – buahan

- Hati ayam / kacang - kacangan

- Beras merah / ubi

- Sayuran (wortel, bayam)

- Minyak / santan / advokad

- Air tajin

3x / hari

Kira-kira 9 bulan

- ASI

Kapan diterima

- Buah-buahan

- Bubur / roti

- Daging / kacang-kacangan/ ayam/ ikan

- Beras merah/ kentang/ labu/jagung

- Kacang tanah

- Minyak / santan/ advokat

- sari buah tanpa gula

4 - 6x / hari

Kira-kira 12 bulan/ lebih

- ASI

Kapan diterima

- Makanan pada umumnya, termasuk telur dengan kuningnya

- Jeruk

4 - 6x / hari


Enterovirus 71 (EV 71)

May 10, 2008

Kementerian Kesehatan Cina mengeluarkan perintah siaga nasional Sabtu (3/5) karena merebaknya virus maut yang telah merenggut jiwa 23 anak-anak di satu kota dengan cepat. Peningkatan kesiagaan dilakukan karena melonjaknya kasus penyakit yang disebabkan virus Enterovirus 71 atau EV-71, satu jenis penyakit kaki, mulut dan tangan. Fenomena ini tampaknya harus diantisipasi dengan cermat dan cepat oleh masyarakat khususnya pihak departemen kesehatan. Bukankah penyakit SARS dan flu burung juga diawali terjadinya di daratan Asia tersebut ? Tetapi justru selanjutnya di Indonesia penyakit yang berpotensi pandemi itu sering lebih sulit dikendalikan di Indonesia.

Bagi masyarakat Indonesia kejadian luar biasa tersebut sebenarnya mungkin merupakan hal yang biasa. Karena, infeksi kaki, tangan dan mulut adalah suatu yang sering terjadi di Indonesia. Yang menjadi tidak biasa adalah penyebabnya enterovirus 71, yang cukup mematikan. Dalam era globalisasi dimana tranportasi serta perpindahan penduduk antar negara yang demikian pesat bukan tidak mungkin penyakit yang sangat cepat penyebarannya itu nantinya berpotensi mengancam masyarakat Indonesia. Kejadian luar biasa yang ditemukan di bagian selatan Cina memicu kekhawatiran bahwa virus itu kemungkinan akan menyebar, karena bulan Juni dan Juli dianggap sebagai musim puncak penyakit ini

Infeksi Kaki tangan dan Mulut
Dalam masyarakat infeksi virus tersebut sering disebut sebagai “Flu Singapura”. Dalam dunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM ). Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae, Genus Enteroviru. Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus. Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71.

Satu kelompok dengan infeksi KTM adalah vesicular stomatitis dengan eksantema (KTM)- Cox A 16, EV 71, vesikular faringitis (Herpangina) - EV 70 dan Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10.

Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum yang biasa terjadi pada kelompok masyarakat yang sangat padat dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun. Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur, tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa penyakit seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Penyakit tangan, kaki dan mulut adalah penyakit umum dan penyebarannya dapat terjadi di antara kelompok anak, misalnya di sekolah atau di tempat penitipan anak. Penyakit tangan, kaki dan mulut biasanya tersebar melalui hubungan sesama manusia. Virus ini tersebar dari kotoran seorang yang terkena ke mulut orang lain lewat tangan tercemar, tapi bisa juga disebarkan lewat lendir mulut atau sistem pernapasan dan sentuhan langsung dengan cairan di dalam lepuhnya. Sesudah berhubungan dengan orang yang terkena, biasanya makan waktu di antara 3-5 hari baru lepuhnya timbul. Selama masih ada cairannya, lepuh ini bisa menulari. Virus ini bisa berminggu-minggu berada di dalam kotoran.

Manifestasi klinis.
Penyakit tangan, kaki dan mulut yang ringan biasanya disebabkan oleh Coxsackievirus. Anak usia di bawah 5 tahun sering terkena infeksi virus ini, meskipun pada orang dewasa dapat juga terjadi. Infeksi Coxsackievirus mungkin sama sekali tidak menunjukkan gejala atau hanya ringan

Gejala penyakit diawali dengan demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti nyeri tengorokan atau infeksi tengorokan (faringitis), sulit makan dan minum karena nyeri akibat luka di mulut dan lidah. Kadang disertai sedikit pilek atau gejala seperti flu. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus atau luka dimulut seperti sariawan di sekitar lidah, gusi, pipi sebelah dalam, terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan. Bersamaan dengan itu timbul rash atau ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki. Kadang-kadang rash atau ruam (makulopapel) ada dibokong.

 

Pada bayi atau anak usia di bawah 5 tahun yang timbul gejala berat harus dirujuk ke rumah sakit. Gejala yang dianggap berat adalah hiperpireksia (suhu lebih dari 39oC) atau demam tidak turun-turun, denyut jantung sangat cepat (Tachicardia), sesak, malas makan minum, muntah atau diare dengan dehidrasi, badan sangat lemas, kesadaran turun atau kejang-kejang.

Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit ini adalah infeksi selaput otak atau meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa atau non bakterial), infeksi otak atau encefalitis (bulbar), infeksi otot jantung atau miokarditis (Coxsackie Virus Carditis) dan perikarditis, paralisis akut flasid (Polio-like illness), infeksi paru atau pneumonia. Resiko untuk terjadi ancaman jiwa lebih sering terjadi pada infeksi enterovirus 71, sedangkan virus Coxsackie sangat jarang terjadi ancaman jiwa kecuali pada penderita dengan kondisi daya tahan tubuh yang menurun.

Diagnosis laboratorium adalah dengan mendeteksi virus melalui Immuno histochemistry (insitu) Imunofluoresensi antibodi (indirek), Isolasi dan identifikasi virus. Pemeriksaan lain dengan mendeteksi RNA seperti RT-PCR Primer, partial DNA sekuensing (PCR Product). Sebenarnya secara klinis atau tanpa pemeriksaan laboratorium sudah cukup untuk mendiagnosis KTM. Sedangkan melalui pemeriksaan penunjang tersebut dapat diketahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.

Penanganan penyakit ini tidak ada yang khusus, karena merupakan penyakit “self limiting disease” atau penyakit yang sembuh sendiri dalam 7-10 hari. Penderita perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Obat golongan paracetamol atau penurun panas digunakan dalam penganan demam yang terjadi. Dalam keadaan tertentu dapat diberikan Immunoglobulin IV (IGIV) pada pasien dengan daya tahan tubuh yang menurun seperti pada bayi. Pemberian cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan demam.

Pencegahan dan Antisipasi
Perilaku hidup sehat dan bersih adalah pencegahan dan perlindungan terbaik. Sebaiknya mencuci tangan dengan sabun dan air sesudah ke WC, sebelum makan, sesudah membuang ingus dan sesudah mengganti popok atau pakaian kotor. Pinjam-meminjam cangkir, sendok garpu, alat kebersihan pribadi misalnya handuk, lap muka, sikat gigi dan pakaian, terutama sepatu dan kaus kaki adalah perilaku yang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit ini. Mencuci pakaian kotor harus dengan baik dan higienis. Perilaku batuk dan bersin, sebaiknya harus menutup mulut dan hidung dengan baik. Bersihkanlah hidung serta mulut dengan tisu wajah, sesudah dipakai sekali buanglah, kemudian cucilah tangan. Anak yang terkena penyakit tangan, kaki dan mulut seyogyanya jangan dulu ke sekolah atau tempat penitipan anak sampai lepuhnya mengering. Penyakit ini sebaiknya dilaporkan kepada pengurus tempat penitipan anak atau kepala sekolah untuk dilakukan pencegahan dengan baik.

Seperti halnya infeksi virus pandemi lainnya seperti SARS atau flu burung, fenomena infeksi enterovirus 71 di bagian selatan Cina tersebut sangat berpotensi menyebar di Negara Indonesia bila tidak dilakukan antisipasi dengan baik. Meskipun diakui untuk melakukan skrening atau deteksi manusia yang masuk dari negera tersebut ke Indonesia sulit dilakukan. Paling tidak departemen kesehatan dan berbagai jajarannya termasuk tenaga medis di Indonesia nantinya harus cepat dalam mengantisipasinya. Tindakan yang mungkin segera dapat dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan “traveller warning” kepada masyakat Indonesia dalam berkunjung ke daerah yang berpotensi terjadi penularan. Nantinya harus lebih dicermati apakah infeksi KTM yang terjadi di dalam masyarakat adalah Coxsackie A 16 atau Enterovirus 71. Untuk itu diperlakukan penemuan kasus dan pelaporan yang baik dan terkoordinasi bila terjadi. Jangan sampai infeksi enterovitrus 71 sudah banyak mengancam nyawa anak Indonesia, tetapi tindakan antisipasi baru dilakukan.

 


Status Gizi Versi KMS

May 1, 2008

2.1. Konsep status gizi

2.1.1 Definisi

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit.(Beck, 2000).

2.1.2 Pengukuran status gizi

a. Pengukuran status gizi dengan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat)

1) Definisi

KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter.

KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi kesalahan atau ketidakseimbangan pemberian makan pada anak.

KMS juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatan- nya.

KMS berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan anak, imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak, pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan rujukan ke Puskesmas/ Rumah Sakit.

KMS juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang tua balita tenta ng kesehatan anaknya (Depkes RI, 2000).

2) Manfaat KMS (Kartu Menuju Sehat)

Manfaat KMS adalah :

a) Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.

b) Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak

c) Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.

(Depkes RI, 2000)

3) Cara Memantau Pertumbuhan Balita

Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya (Depkes RI, 2000).

a) Balita naik berat badannya bila :

(1) Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna, atau

(2) Garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna diatasnya.

Gambar 2.1. Indikator KMS bila balita naik berat badannya

b) Balita tidak naik berat badannya bila :

Garis pertumbuhannya turun, atau

Garis pertumbuhannya mendatar, atau

Garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya.

Gambar 2.2. Indikator KMS bila balita tidak naik berat badannya

c) Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertumbuhan balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.

Gambar 2.3. Indikator KMS bila berat badan balita dibawah garis merah

d) Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak nail (3T), artinya balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.

Gambar 2.4. Indikator KMS bila berat badan balita tidak stabil

e) Balita tumbuh baik bila: Garis berat badan anak naik setiap bulannya.

Gambar 2.5. Indikator KMS bila berat badan balita naik setiap bulan

f) Balita sehat, jika : Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah ke pita warna diatasnya.

Gambar 2.6. Indikator KMS bila pertumbuhan balita sehat

b. Pengukuran status gizi dengan NCHS

Kriteria keberhasilan nutrisi ditentukan oleh status gizi :

1) Gizi baik, jika BB menurut umur > 80% standart WHO – NHCS.

2) Gizi kurang, jika berat badan menurut umur 61% sampai 80% standart WHO – NHCS.

3) Gizi buruk, jika berat badan menurut umur ≤ 60% standart WHO – NHCS.

( Supariasa, 2002)

Rumus Antropometri pada anak : ( Soetjiningsih : 1998).

1) Berat badan

Umur 1 – 6 tahun = ( tahun ) x 2 + 8

2) Tinggi badan

Umur 1 tahun = 1,5 x tinggi badan lahir

Umur 2 – 12 tahun = umur ( tahun ) x 6 + 77

2.1.3 Manfaat nutrisi

a. Nutrisi untuk pertumbuhan

Dengan makanan bergizi, tubuh manusia tumbuh dan dipelihara. Semua organ tubuh dapat berfungsi dengan baik. Bagian tubuh yang rusak diganti. Kulit dan rambut terus berganti, sel – sel tubuh terus bertumbuh. Sel-sel tubuh memasak dan mengolah zat makanan yang masak agar zat makanan dapat dipakai untuk pekerjaan tubuh.

b. Makanan sebagai suku cadang

Makanan juga bermanfaat untuk memulihkan badan yang baru sembuh dari sakit. Selama sakit banyak bagian tubuh yang rusak. Mungkin juga sebagian selnya mati. Selama orang juga kurang makan sehingga tubuh kekurangan berbagai zat makanan yang dibutuhkannya. Mungkin juga banyak kehilangan darah sehingga makin lama sakit berlangsung, makin banyak zat makanan yang harus ditambahkan.

Untuk itu, setelah sakit kita perlu banyak makan makanan bergizi. Begitu juga untuk yang menjalani operasi atau yang baru melahirkan.


c. Makanan sebagai bensin tubuh

Makanan juga dibutuhkan untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, menyapu, juga berkebun. Dalam keadaan tidurpun tubuh tetap membutuhkan tenaga untuk bernafas, degup jantung, serta tenaga memasak zat makanan dan memakainya. Namun, makanan perlu diatur agar sesuai dengan kebutuhan tubuh. Jumlahnya harus memadai, dan mutunya sesuai dengan kebutuhan sehari-hari (Nadesul, 2001).


DDST : Indikator Perkembangan Anak Usia 12 bulan - 14 bulan

April 20, 2008
  • Dapatkah anak anda membedakan anda dengan orang yang belum ia kenal? Ia dapat menunjukkan sikap malu-malu atau ragu-ragu pada saat permulaan bertemu dengan orang yang belum dikenalnya.
  • Jika anak anda memungut benda kecil seperti kacang, apakah ia mengambilnya dengan meremas di antara ibu jari dan jarinya seperti yang terlihat pada gambar?

  • Dapatkah bayi anda duduk sendiri tanpa bantuan?
  • Sebutkan dua atau tiga kata yang dapat ditiru oleh bayi anda (tidak perlu kata-kata yang lengkap). Menurut pendapat anda, apakah ia mencoba meniru kata-kata tadi?
  • Tanpa anda menggerakkan tangan bayi anda, dapatkah ia mempertemukan dua balok kecil? Kerincian bertangkai dan tutup panci tidak ikut dinilai.
  • Dapatkah anak anda jalan sendiri atau jalan dengan berpegangan?
  • Tanpa bantuan dapatkah anak anda bertepuk tangan atau melambai-lambai? (Jawablah TIDAK jika ia membutuhkan bantuan)
  • Dapatkah anak anda mengatakan “pa-pa” jika ia memanggil atau melihat ayahnya?
  • Dapatkah anak anda mengatakan “ma-ma” jika ia memanggil atau melihat ibunya?  (Jawablah YA jika anak anda mengatakan salah satu diantaranya)
  • Dapatkah anak anda berdiri tanpa berpegangan selama kira-kira 5 detik?
  • Dapatkah anak anda berdiri tanpa berpegangan selama 30 detik atau lebih?

DDST : Indikator Perkembangan Bayi (0 - 6 bulan)

April 20, 2008
  • Jika anda bersembunyi di belakang sesuatu (atau dipojok) dan kemudian muncul dan menghilang secara berulang-ulang, apakah bayi anda mencari anda atau mengharapkan anda muncul kembali?
  • Berikan bayi anda pena atau pinsil dan letakkan di telapak tangannya. Cobalah untuk mengambil pena / pinsil tersebut secara perlahan-lahan. Sulitkah anda mendapatkan pena atau pinsil itu kembali?
  • Apakah bayi anda dapat berdiri selama 30 detik atau lebih dengan berpegangan pada kursi atau meja?
  • Dapatkah bayi anda mengatakan “ma-ma” atau “pa-pa”? Jawablah YA jika bayi anda mengeluarkan salah satu suara tadi.
  • Dapatkah bayi anda mengangkat dirinya sendiri sampai berdiri tanpa bantuan anda?
  • Dapatkah bayi anda membedakan anda dengan orang yang belum ia kenal? Ia dapat menunjukkan sikap malu-malu atau ragu-ragu pada saat permulaan bertemu dengan orang yang belum dikenalnya.
  • Jika bayi anda memungut benda kecil seperti kacang, apakah ia mengambilnya dengan meremas di antara ibu jari dan jarinya seperti yang terlihat pada gambar?

  • Dapatkah bayi anda duduk sendiri tanpa bantuan?
  • Sebutkan dua atau tiga kata yang dapat ditiru oleh bayi anda (tidak perlu kata-kata yang lengkap). Menurut pendapat anda, apakah ia mencoba meniru kata-kata tadi?
  • Tanpa anda menggerakkan tangan bayi anda, dapatkah ia mempertemukan dua balok kecil? Kerincian bertangkai dan tutup panci tidak ikut dinilai.

<!–[if gte mso 9]&gt; Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]–><!–[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]–>


Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

April 19, 2008

<!–[if gte mso 9]&gt; Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]–><!–[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]–>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
A. <!–[endif]–>MENGAPA ANAK PERLU DIASUH DAN DIBIMBING

Anak perlu diasuh dan dibimbing karena mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah bertumbuhnya anak dari segi jasmani. Perkembangan ialah berkembangnya kepribadian anak, dari seorang mahluk yang tadinya secara mutlak bergantung pada lingkungannya, menjadi seorang yang secara relatif mandiri dan berguna bagi lingkungannya.

 

Perkembangan anak merupakan proses. Artinya, perkembangan itu meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, dan terjadi sebagai hasil interaksi antara faktor bawaan dan faktor lingkungan. Agar perkembangan itu berjalan sebaik-baiknya, anak perlu diasuh dan dibimbing oleh orang dewasa, terutama dalam lingkungan kehidupan berkeluarga.

 

<!–[if !supportLists]–>B. <!–[endif]–>HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK

Sebagaimana dijelaskan diatas, perkembangan anak dipengaruhi oelh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Kedua faktor itu perlu diperhatikan dalam mengasuh anak.

  1. Faktor bawaan

Faktor bawaan adalah sifat yang dibawa anak sejak lahir :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ada anak yang penyabar, pemarah, pendiam, banyak bicara, ceradas, bodoh, dll

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kedaan fisik yang berbeda-beda , ada yang tinggi/pendek, ada yang berkulit hitam/putih, hidung mancung/pesek, dll

Faktor bawaan dapat mempercepat, menghambat, atau melemahkan pengaruh faktor lingkungan. Setiap anak itu unik, artinya bahwa tidak ada satu anak pun yang persis sama. Dalam mengasuh dan membimbing anak, kita tidak boleh membandingkan perkembangan anak yang satu dengan yang lainnya, tanpa memperhatikan sifat mereka masing-masing.

  1. Faktor lingkungan

Adalah pengaruh luar atau lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak. Faktor lingkungan meliputi suasana lingkungan dalam keluarga dan hal lain yang berpengaruh dalam perkembangan anak, seperti sarana dan prasarana yang tersedia, misalnya alat bermain, lapangan bermain atau televisi.

Faktor lingkungan dapat merangsang berkembangnya fungsi tertentu dari anak, shingga mempercepat perkembangan anak. Namun, faktor lingkungan juga dapat mmeperlambat atau mengganggu kelangsungan perkembangan anak. Peran orangtua adalah menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak ke arah yang positif.

 

<!–[if !supportLists]–>C. <!–[endif]–>HAKIKAT MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam mendidik anak. Pendidikan di lingkungan keluarga merupakan dasar-dasar pertama perkembangan anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan membimbing anak ialah mendidik anak agar kepribadian anak dapat berkembang dengan sebaik-baiknya, sehingga menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan mebimbing anak melibatkan seluruh aspek kepribadian anak, baik aspek jasmani, intelektual, emosional dan keterampilan, serta aspek norma dan nilai.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Hakikat mengasuh dan membimbing anak meliputi pemberian kasih sayang dan rasa aman, sekaligus disiplin dan contoh yang baik. Oleh karena itu, diperlukan suasana kehidupan keluarga yang stabil dan bahagia

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan membimbing anak selain merupakan tantangan dalam kelauraga, juga merupakan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan membimbing anak membutuhkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan kesabaran orangtua

 

<!–[if !supportLists]–>D. <!–[endif]–>MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK UMUR 0 – 1,5 TAHUN

  1. Ciri dan tuntutan perkembangan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memperoleh rasa aman dan rasa percaya dari lingkungan merupakan dasar yang penting dalam hubungan anak dengan lingkungannya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa aman ini diperolehnya melalui sentuhan fisik yang menyenangkan dengan ibunya dan sesedikit mungkin mengalami hal-hal yang kurang mneynangkan

  1. Sikap orangtua

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Penuh kasih sayang dalam merawat dan mengasuh akan menimbulkan perasaan aman serta percaya pada bayi

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesiapan ibu pada setiap saat dibutuhkan oleh bayi, juga menimbulkan rasa aman dan percaya pada bayi

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah ASI sesuai dengan kebutuhan bayi anda. Jangan terlalu ketat dengan jadwal pemberian makanan, karena setiap bayi mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Bila ibu terpaksa memberikan susu botol, perlakukanlah seperti bayi minum ASI, yaitu dengan cara memeluknya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ketika bayi rewel, carilah penyebabnya dan atasilah masalahnya. Tangisan tidak selalu berarti bayi lapar.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Angkat dan peluklah bayi anda serta gendonglah berkeliling rumah/halaman sambil menunjukkan benda-benda yang ada di sekitarnya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sering-seringlah berbicara kepada bayi anda setiap hari, pada saat memakaikan pakaian, memberinya makan, memandikan, atau ketika melakukan kesibukan rumah tangga lainnya. Bayi tidak pernah terlalu muda untuk diajak berbicara

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ajaklah bayi anda bermain sambil tersenyum dan tirukanlah gerakan, mimik, dan kegiatannya. Bayi anda akan menirukan kegiatan anda pula.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Senandungkan dan ayunkanlah bayi anda pada saat menidurkan, sehingga ia akan tertidur dengan nyaman.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perkenalkan dengan berbagai macam benda, bunyi-bunyian, dan warna. Hal ini akan mempercepat perkembangan bayi anda.

 

Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu dan anak pada tahap ini akan menyebabkan terganggunya pembentukan rasa aman dan percaya. Hal ini menyebabkan goyahnya tahap perkembangan berikutnya. Anak diliputi rasa tidak aman dan tidak percaya.

 

  1. Gagguan/penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesulitan makan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mudah terangsang, marah, tersinggung (Irritabilitas)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menolak segala sesuatu yang baru

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sikap dan tingkah laku yang seolah-olah ingin melekat pada ibu dan menolak lingkungan

 

Bila gangguan tersebut tidak diatasi dengan baik, maka pada masa dewasa kemungkinan besar akan timbul kelainan jiwa yang bercorak ketergantungan yang kuat seperti :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Depresi (rasa murung, sedih, dan perasaan tertekan)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Adiksi obat (ketergantungan obat)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Skizofrenia (gangguan jiwa dengan kepribadian terpecah)

 

<!–[if !supportLists]–>E. <!–[endif]–>MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK UMUR 1,5 – 3 TAHUN

  1. Ciri dan tuntutan perkembangan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak akan bergerak dan berbuat sesuatu sesuai dengan keamuannya sendiri, sehingga ia seolah-olah ingin mencoba apa yang dapat dilakukannya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak dapat menuntut atau menolak apa yang ia kehendaki atau tidak ia kehendaki

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Akan tertanam perasaan otonomi diri, yaitu rasa kemampuan mengatur badannya dan lingkungannya sendiri. Hal ini menjadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri di kemudian hari

 

  1. Sikap orangtua

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Doronglah agar anak dapat bergerak bebas dan berlatih melakukan hal-hal yang diperkirakan mampu ia kerjakan, sehingga akan menumbuhkan rasa kemampuan diri. Namun harus bersikap tegas untuk melindungi dari bahaya, karena dorongan anak berbuat belum diimbangi oleh kemmapuan untuk melaksanakannya secara wajar dan rasional

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Usahakan agar anak mau bermain dengan anak lainnya. Dengan demikian ia akan belajar bagaimana mengikuti aturan permainan. Namun jangan lupa bahwa dalam bermain atau berhubungan dengan orang lain, anak masih bersifat egoistis, yaitu mementingkan diri sendiri dan memperlakukan orang lain sebagai obyek atau benda sesuai dengan kemauannya sendiri

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Banyaklah berbicara kepada anak dalam kalimat pendek yang mudah dimengerti

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Bacakan buku cerita atau dongeng kepada anak setiap hari, dan doronglah agar ia mau menceritakan kepada anda apa yang ia lihat atau dengar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ajak anak ke taman, toko, kebun binatang, lapangan, atau tempat lainnya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Usahakan agar anak membereskan mainannya setelah bermain, membantu kegiatan rumah tangga yang ringan dan menanggalkan pakaiannya tanpa dibantu. Hal ini akan melatih anak untuk bertanggung jawab.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Latihlah anak dalam hal kebersihan diri, yaitu buang air kecil dan buang air besar pada tempatmnya, namun jangan terlalu ketat

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Latihlah anak untuk makan sendiri memakai sendok dan garpu, dan ajaklah ia makan bersama keluarga

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah alat permainan yang sederhana, dan doronglah agar anak mau bermain balok-balok atau menggambar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jangan terlalu banyak memberikan larangan. Namun orangtua pun jangan terbiasa menuruti segala permintaan anak. Bujuk dan tenangkanlah anak ketika ia kecewa dengan cara memeluknya dan mengajaknya berbicara.

 

Gangguan dalam mencapai rasa otonomi diri akan berakibat bahwa anak dikuasai oleh rasa malu dan keragu-raguan serta pengekangan diri yang berlebihan. Sebaliknya, dapat juga terjadi sikap melawan dan memberontak.

 

  1. Gangguan / penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesulitan makan, terutama bila ibu memaksa makan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Suka mengadat (ngambek/tempertantrum)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tingkah laku kejam

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tingkah laku menentang dan keras kepala

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Gangguan dalam berhubungan dengan orang lain yang diwarnai oleh sikap menyerang

 

<!–[if !supportLists]–>F. <!–[endif]–>MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK UMUR 3 – 6 TAHUN

  1. Ciri dan tuntutan perkembangan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya berbagai macam, dan meniru kegiatan di sekitarnya.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak mulai melibatkan diri dalam kegiatan bersama dan menunjukkan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu, tapi ia tidak mementingkan hasilnya. Pengalaman dalam melakukan aktivitas ini amat penting artinya bagi anak.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Seringkali kita lihat bahwa anak cenderung berpindah-pindah dan meninggalkan tugas yang diberikan kepoadanya untuk melakukan yang lain. Hal ini dapat menimbulkan krisis baru karena hal itu bertentangan dengan lingkungan yang semakin menuntut, sehingga anak mengalami kekecewaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jika dalam tahap sebelumnya hanya tokoh ibu yang bermakna bagi anak, dalam tahap ini tokoh ayah mempunyai peran penting baginya. Disini terbentuk segitiga hubungan kasih sayang ayah-ibu-anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang kepada ibunya, dan anak perempuan lebih sayang kepada ayahnya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Melalui peristiwa ini, anak dapat mengalami perasaan sayang, benci, irihati, persaingan, memiliki dan lain-lain. Begitu pula perasaan takut dan cemas.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kedua orangtua harus bekerjasama untuk membantu anak melalui tahap ini. Peranan orangtua sebagai tokoh ayah dan tokoh ibu sangat penting

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ayah dan ibu merupakan suatu kesatuan. Oleh karena itu jangan mau dimanipulasi oleh anak. Ayah dan ibu memberikan kasih sayang yang sama, baik terhadap anak perempuan ataupun anak laki-laki

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dengan terselesaikannya hubungan segitiga tersebut, maka anak wanita akan beridentifikasi dengan ibunya dan anak laki-laki dengan ayahnya (identitas seksual maupun identitas diri)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Bila ibu terlalu dominan (menonjol pengaruhnya) dalam rumah tangga, sedangkan ayah kurang tegas atau ayah tidak ada (absen) baik secara lahiriah maupun kejiwaan, maka akan terjadi identifikasi (proses meniru) yang salah. Anak laki-laki akan beridentifikasi dengan ibunya, sehingga ia lebih mengembangkan sikap kewanitaan dan sebaliknya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin. Kadang-kadang, ia terpaku pada alat kelaminnya. Sering kita melihat anak laki-laki memegang alat kelaminnya sampai ereksi. Jangan dimarahi karena hal ini tetapi alihkanlah perhatiannya. Bila diatasi dengan baik, fase ini akan berakhir dengan baik pada usia 6 tahun.

 

  1. Sikap orangtua

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah kesempatan kepada anak untuk menyalurkan inisiatifnya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ikut sertakan anak dalam aktivitas keluarga, misalnya menyapu, berbelanja ke pasar, memasak, atau membetulkan mainan yang rusak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jangan menakut-nakuti anak. Pada anak laki-laki akan berakibat cemas, karena pada tahap ini ia sangat takut akan kehilangan alat kelaminnya (kastrasi), sedangkan pada anak perempuan timbul rasa iri hati.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dengar dan hargailah pendapat serta usul yang dikemukakan oleh anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jangan menuntut yang melebihi kemampuan anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ibu perlu lebih dekat kepada anak perempuannya. Sedangkan ayah perlu lebih akrab dengan anak laki-lakinya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jawablah pertanyaan anak dengan benar, jangan membohongi atau menunda jawaban, misalnya bila anak bertanya bagaimana caranya adik keluar dari perut mama, jawablah bahwa keluarnya melalui jalan lahir, jangan katakan dibelah dari perut. Hal ini akan menakutkan bagi anak yang dapat berdampak negatif pada jiwanya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sering-seringlah membacakan buku cerita atau dongeng. Kemudian diskusikanlah isi ceritanya dan tanyakanlah beberapa pertanyaan kepada anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah ia kesempatan untuk mengunjungi tetangga, teman, dan saudara tanpa ditemani.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Luangkan waktu setiap hari untuk berdialog dengan anak. Dengarkanlah ia dan tunjukkanlah bahwa anda mengerti pembicaraannya dengan mengulangi apa yang dikatakannya. Pada saat ini janganlah menggurui, mencaci dan menyepelekannya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ajarkanlah untuk membedakan yang salah dan yang benar, serta tata tertib dan sopan santun yang berlaku di masyarakat setempat

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Peranan ayah menjadi penting disini. Oleh karena itu ajaklah anak bermain bersama. Disini, ayah perlu bersikap sebagai teman bagi anak

 

Gangguan dalam mencapai rasa inisiatif akan menyebabkan anak merasa bersalah, rasa takut berbuat sesuatu, takut mengemukakan sesuatu, serta serba salah dalam bergaul

 

  1. Gangguan/ Penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesulitan belajar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Masalah sekolah

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Masalah pergaulan dengan teman

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak yang pasif dan takut serta kurang kemauan, kurang inisiatif

 

Riwayat Tumbuh Kembang

Menurut Ibu anak bisa mengangkat bahu umur bulan. Bisa duduk umur bulan. Berdiri umur tahun dan bicara lancar umur tahun. Hingga saat ini anak berat badan anak kg, TB : cm, LK : cm, LD : cm, LLA : cm.

 

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Faktor Keturunan ; yaitu faktor gen yang diturunkan dari kedua orang tuanya.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Faktor Hormonal ; banyak hormon yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, namun yang paling berperan adalah Growth Hormon (GH).

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Faktor Gizi ; Setiap sel memerlukan makanan atau gizi yang baik. Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik dibutuhkan gizi yang baik.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Faktor Lingkungan; Terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan biologi dan lingkungan psikososial.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Faktor keturunan (genetik)

Seperti kita ketahui bahwa warna kulit, bentuk tubuh dan lain-lain tersimpan dalam gen. Gen terdapat dalak kromosom, yang dimiliki oleh setiap manusia dalam setiap selnya. Baik sperma maupun ovum masing masing mempunyai 23 pasang kromosom. Jika ovum dan sperma bergabung akan terbentuk 46 pasang kromosom, yang kemudian akan terus smembelah untuk memperbanyak diri sampai akhirnya terbentuk janin, bayi. Setiap kromosom mengandung gen yang mempunyai sifat diturunkan pada anak dari keluarga yang memiliki abnormalitas tersebut.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Faktor Hormonal

Kelenjar petuitari anterior mengeluarkan hormon pertumbuhan (Growth Hormone, GH) yang merangsang pertumbuhan epifise dari pusat tulang panjang. Tanpa GH anak akan tumbuh dengan lambat dan kematangan seksualnya terhambat. Pada keadaan hipopetuitarisme terjadi gejala-gejala anak tumbuh pendek, alat genitalia kecil dan hipoglikemi. Hal sebaliknya terjadi pada hiperfungsi petuitari, kelainan yang ditimbulkan adalah akromegali yang diakibatkan oleh hipersekresi GH dan pertumbuhan linear serta gigantisme bila terjadi sebelum pubertas. Hormon lain yang juga mempengaruhi pertumbuhan adalah hormon-hormon dari kelenjar tiroid dan lainya.

 

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Faktor Gizi.

Proses tumbuh kembang anak berlangsung pada berbagai tingkatan sel, organ dan tumbuh dengan penambahan jumlah sel, kematangan sel, dan pembesaran ukuran sel. Selanjutnya setiap organ dan bagian tubuh lainnya mengikuti pola tumbuh kembang masing-masing. Dengan adanya tingkatan tumbuh kembang tadi akan terdapat rawan gizi. Dengan kata lain untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal dibutuhkan gizi yang baik.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Faktor Lingkungan

Lingkungan fisik; termasuk sinar matahari, udara segar, sanitas, polusi, iklim dan teknologi

Lingkungan biologis; termasuk didalamnya hewan dan tumbuhan. Lingkungan sehat lainnya adalah rumah yang memenuhi syarat kesehatan.

Lingkungan psikososial; termasuk latar belakang keluarga, hubungan keluarga.

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Faktor sosial budaya

Faktor ekonomi, sangat memepengaruhi keadaan sosial keluarga.

Faktor politik serta keamanan dan pertahanan; keadaan politik dan keamanan suatu negara juga sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang seorang anak.

Teori Kepribadian anak Menurut Teori Psikoseksual Sigmund Freud

Kepribadian ialah hasil perpaduan antara pengaruh lingkungan dan bawaan, kualitas total prilaku individu yang tampak dalam menyesuaikan diri secara unit dengan lingkungannya.

Tiori kepribadian yang dikemukakan oleh ahli psikoanlisa Sigmund freud (1856 - 1939). Meliputi tahap-tahap :

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Fase oral, usia antara 0 - 11/2 Tahun

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Fase anal, usia antara 11/2 - 3 Tahun

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Fase Falik, usia antara 3 - 5 Tahun

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Fase Laten, usia antara 5 - 12 Tahun

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Fase Genital, usia antara 12 - 18 Tahun

Tahap perkembangan anak menurut Teori Psikososial Erik Erikson.

Erikson mengemukakan bahwa dalam tahap-tahap perkembangan manusia mengalami 8 fase yang saling terkait dan berkesinambungan.

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Bayi (oral) usia 0 - 1 Tahun

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Usia bermain (Anal ) yakni 1 - 3 Tahun

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Usia prasekolah (Phallic) yakni 3 - 6 Tahun

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Usia sekolah (latent) yakni 6 - 12 tahun

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Remaja (Genital) yakni 12 tahun lebih

<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Remaja akhir dan dewasa muda

<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Dewasa

<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>Dewasa akhir

TUGAS PERKEMBANAGAN

BILA TUGAS PERMKEMBANGAN TIDAK TERCAPAI

Bayi (0 - 1 tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa percaya mencapai harapan,

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dapat menghadapi frustrasi dalam jumlah kecil

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengenal ibu sebagai orang lain dan berbeda dari diri sendiri.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tidak percaya

Usia bermain (1 - 3 Tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan otonomi.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai keinginan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memulai kekuatan baru

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menerima kenyataan dan prinsip kesetiaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Malu dan ragu-ragu

Usia pra sekolah ( 3 - 6 Tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan inisiatif mencapai tujuan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menyatakan diri sendiri dan lingkungan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Membedakan jenis kelamin.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa bersalah.

Usia sekolah ( 6 - 12 Tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan berprestasi

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dapat menerima dan melaksanakan tugas dari orang tua dan guru

Rasa rendah diri

Remaja ( 12 tahun lebih)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa identitas

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai kesetiaan yang menuju pada pemahaman heteroseksual.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memilih pekerjaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai keutuhan kepribadian

Difusi identitas

Remaja akhir dan dewasa muda

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa keintiman dan solidaritas

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memperoleh cinta.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mampu berbuat hubungan dengan lawan jenis.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Belajar menjadi kreatif dan produktif.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Isolasi

Dewasa

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan keturunan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memperoleh perhatian.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Belajar keterampilan efektif dalam berkomunikasi dan merawat anak