Archive

Archive for the ‘Bayi, Anak dan remaja’ Category

Imunisasi DPT

April 16, 2008 Leave a comment

Imunisasi adalah tindakan untuk memberikan kekebalan terhadap
suatu penyakit atas tubuh manusia (Kamisa, 1998 : 241).
Imunisasi DPT suatu kombinasi vaksin penangkal difteri, pertusis,
dan tetanus……. (download)

Categories: Bayi, Anak dan remaja

tali pusat/pusar dan perawatan

April 15, 2008 Leave a comment

Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik,
kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting stalk
tersebut akan menjadi tali pusat….(download)

Categories: Bayi, Anak dan remaja

Penyapihan / Sapih

April 15, 2008 8 comments

Definisi menyapih

Menyapih adalah proses berhentinya masa menyusui secara berangsur angsur atau sekaligus. Proses itu dapat disebabkan oleh si anak itu sendiri untuk berhenti menyusu atau bisa juga dari sang ibu untuk berhenti menyusui anaknya. Atau dari keduanya dengan berbagai alasan (NN, 2007).

Menyapih adalah proses bertahap yaitu mula-mula dengan mengurangi frekuensi pemberian ASI, sampai dengan berhentinya proses pemberian ASI (Carnain, 2007) .

Cara-cara menyapih yang benar

Beberapa ahli laktasi menyarankan hal hal berikut ini:

a. Lakukan proses menyapih ini secara perlahan. Misalnya dengan mengurangi frekuensi menyusu dari 5 kali menjadi 3 atau 4 kali. Lakukan bertahap sampai akhirnya berhenti sama sekali.

b. Alihkan perhatian si anak dengan melakukan hal lain. Bernyanyilah dan bermain bersamanya, sehingga anak tidak ingat saatnya menyusu pada mama.

c. Komunikasikan hal ini dengan anak. Jangan takut anak anak tidak mengerti dengan keinginan anda untuk menyapihnya. Berikan pengertian yang baik dan dengan komunikasi yang mudah dicerna olehnya. Walau masih kecil tapi ia mengerti kata kata dari orang dilingkungannya.

d. Jangan menyapih anak ketika ia tidak sehat, atau sedang merasa sedih, kesal atau marah. Hal itu akan membuat anak anda merasa anda tidak menyayangi dirinya.

e. Hindari menyapih anak dari menyusui ke pacifier (empeng) atau botol susu. Selalu bina komunikasi dengan sang anak. Mintalah bantuan dari sang Ayah untuk melengkapi komunikasi dengan anak dan sebagai figure pendamping ibu.

f. Jangan menyapihnya secara mendadak dan langsung, hal itu akan membuat perasaan anak anda terguncang.

g. Jangan menipu anak anda dengan cara mengoleskan jamu di putting saat menyusui atau apapun yang membuat rasanya tidak nyaman. Pemaksaan seperti itu akan membuat hubungan batin anak dan ibu menjadi rusak.

Waktu penyapihan yang tepat

Tidak pernah ada waktu yang pasti kapan sebaiknya anak disapih dari ibunya. Menurut WHO, masa pemberian ASI diberikan secara eksklusif 6 bulan pertama, kemudian dianjurkan tetap diberikan setelah 6 bulan berdampingan dg makanan tambahan hingga umur 2 th atau lebih. Ada juga ibu ibu yang menyapih anaknya ketika usia 1 -2 tahun, bahkan ada yang diusia 4 tahun.

Tidak benar jika anak yang terlalu lama disusui akan membuatnya manja dan tidak mandiri. ASI akan membuat anak dekat dengan orang tuanya dan hal itu memang sangat dibutuhkan sang anak dan membuatnya merasa penuh dengan kasih sayang. Kemandirian adalah hal yang diajarkan oleh orang tuanya, bukan karena selalu disusui ASI (NN, 2007).

Hal – hal yang dilarang dalam menyapih

a. Mengoleskan Obat Merah Pada Puting

Selain bisa menyebabkan anak mengalami keracunan, juga membuat anak belajar bahwa puting ibu ternyata tidak enak, bahkan bisa membuatnya sakit. Keadaan ini akan semakin parah jika ibu melakukannya secara tiba-tiba. Si kecil akan merasa ditolak ibunya. Dampak selanjutnya mudah diduga, anak akan merasa ibu tidak mencintainya.

Gaya kelekatan yang muncul selanjutnya adalah avoidance (menghindar dalam suatu hubungan interpersonal). Hal ini dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak. Ia akan mengalami kesulitan untuk menjalin suatu hubungan intensif dengan orang lain. Hal ini terjadi karena di masa kanak-kanak ia merasa ditolak oleh orang tua, dalam hal ini ibunya.

b. Memberi Perban/Plester Pada Puting

Dibanding cara nomor 1, cara ini akan terasa lebih menyakitkan buat anak. Jika diberi obat merah, anak masih bisa menyentuh puting ibunya. Tetapi kalau sudah diperban/diplester, anak belajar bahwa puting ibunya adalah sesuatu yang tak bisa dijangkau.

c. Dioleskan Jamu, Brotowali, Atau Kopi Supaya Pahit

Awalnya mungkin anak tak akan menikmati, tetapi lama-kelamaan anak bisa menikmatinya dan malah bergantung pada rasa pahit tersebut. Mengapa? Karena ia belajar, meskipun pahit tetapi masih tetap bercampur dengan puting ibunya.

Dampaknya, anak bisa mengembangkan suatu kepribadian yang ambivalen, dalam arti ia tidak mengerti apakah ibu sebetulnya mencintainya atau tidak. Bunda masih memberikan ASI, tapi kok tidak seperti biasanya, jadi pahit.

Parahnya lagi, kepribadian ambivalen bukan kepribadian yang menyenangkan. Anak akan mengembangkan kecemasan dalam hubungan interpersonal nantinya.

d. Menitipkan Anak ke Rumah Kakek-Neneknya

Kehilangan ASI saja sudah cukup menyakitkan, apalagi ditambah kehilangan figur ibu. Ingat lo, anak kecil umumnya belum memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Jadi, dapat dibayangkan kondisi seperti ini bisa mengguncang jiwa anak, sehingga tak menutup kemungkinan anak merasa ditinggalkan.

Tentunya hal itu tak mudah bagi anak karena ada dua stressor (sumber stres) yang dihadapinya, yakni ditinggalkan dan harus beradaptasi. Jadi jangan kaget, jika setelahnya anak pun butuh penyesuaian lagi terhadap ibunya. Malah akan timbul ketidakpercayaan anak terhadap ibu.

e. Selalu Mengalihkan Perhatian Anak Setiap Menginginkan ASI

Meski masih batita, si kecil tetap bisa merasakan penolakan ibu yang selalu mengalihkan perhatiannya saat ia menginginkan ASI. Kondisi ini juga membuat anak belajar berambivalensi. Misal, ibu selalu mengajak anak bermain setiap kali minta ASI. Tentu anak akan bertanya-tanya, ”Bunda sayang aku enggak sih, kok aku enggak dikasih ASI? Tetapi kalau tidak sayang, kok masih ngajak aku main?”

f. Selalu Bersikap Cuek Setiap Anak Menginginkan ASI

Anak jadi bingung dan bertanya-tanya, mengapa dirinya diperlakukan seperti itu. Dampaknya, anak bisa merasa tak disayang, merasa ditolak, sehingga padanya berkembanglah rasa rendah diri.

(Lianawati, 2007).

Dampak penyapihan ASI usia kurang dari 6 bulan

a. Menyebabkan hubungan anak dan ibu berkurang keeratannya karena proses bounding etatman terganggu.

b. Insiden penyakit infeksi terutama diare meningkat.

c. Pengaruh gizi yang mengakibatkan malnutrisi pada anak.

d. Mengalami reaksi alergi yang menyebabkan diare, muntah, ruam dan gatal-gatal karena reaksi dari sistem imun.

( Hegar, Badriul, 2006 )

Remaja Putri dan Anemia

April 15, 2008 26 comments

Definisi Remaja Putri

Menurut (Stanley Hall, 1991)

Masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan stress (Storm and Stress).Karena mereka mereka telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib sendiri, kalau terarah dengan baik maka ia akan menjadi seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab, tetapi kalau tidak terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik.

Menurut (Yulia S. D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, 1991) istilah asing yang sering digunakan untuk menunjukkan masa remaja antara lain :

a. Puberty (bahasa Inggris) berasal dari istilah latin pubertas yang berarti kelaki-lakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda kelaki-lakian. Pubescence dari kata pubis (pubic hair) yang berarti rambut (bulu) pada daerah kemaluan (genetal) maka pubescence berarti perubahan yang dibarengi dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan.

b. Adolescentia berasal dari istilah latin adolescentia yang berarti masa muda yang terjadi antara 17 – 30 tahun yang merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menunju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial. Proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 12 – 22 tahun.

Menurut Santrock (1998) mendefinisikan pubertas sebagai masa pertumbuhan tulang-tulang dan kematangan seksual yang terjadi pada masa awal remaja.

Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 1998) usia remaja antara 12 sampai usia 23 tahun.

Menurut Erikson masa remaja adalah masa yang akan melalui krisis dimana remaja berusaha untuk mencari identitas diri (Search for self – Identity) (Dariyo, 2004)

Definisi Pubertas

Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Pada masa ini memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Pada cewek pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Kini, dikenal adanya pubertas dini pada remaja. Penyebab pubertas dini ialah bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE, mempunyai efek yang mirip dengan hormon estrogen. Hormon ini diketahui sangat berperan dalam mengatur perkembangan seks wanita.

Ciri Pubertas

Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.

Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll.

Hemoglobin

Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. Mutasi pada gen protein hemoglobin mengakibatkan suatu golongan penyakit menurun yang disebut hemoglobinopati, di antaranya yang paling sering ditemui adalah anemia sel sabit dan talasemia.

Gambar 2.1. Struktur Atom Hemoglobin

Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 subunit protein), yang terdiri dari masing-masing dua subunit alfa dan beta yang terikat secara nonkovalen. Subunit-subunitnya mirip secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap subunit memiliki berat molekul kurang lebih 16,000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi sekitar 64,000 Dalton. Tiap subunit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga secara keseluruhan hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen (Wikipedia, 2006).

Hemoglobin adalah suatu zat di dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut zat asam dari paru-paru ke seluruh tubuh, selain itu yang memberikan warna merah sel darah merah. Hemoglobin terdiri dari 4 molekul zat besi (heme), 2 molekul rantai globin alpha dan 2 molekul rantai globin beta. Rantai globin alpha dan beta adalah protein yang produksinya disandi oleh gen globin alpha dan beta .


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Hb Remaja Putri

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kadar Hb turun pada remaja yaitu :

1. Kehilangan darah yang disebabkan oleh perdarahan menstruasi

2. Kurangnya zat besi dalam makanan yang dikonsumsi

3. Penyakit yang kronis, misalnya TBC, Hepatitis, dsb.

4. Pola hidup remaja putri berubah dari yang semula serba teratur menjadi kurang teratur, misalnya sering terlambat makan atau kurang tidur.

5. Ketidakseimbangan antara asupan gizi dan aktifitas yang dilakukan

(Wijanarka, 2007).

Konsep Penanggulangan Anemia Defisisiensi Besi

Definisi Anemia

Anemia adalah Anemia defisiensi besi (ADB) selama kehamilan merupakan faktor risiko yang sangat menarik untuk dikaji, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia karena prevalensinya cukup tinggi. Beberapa penulis telah mengindikasikan bahwa ADB selama kehamilan berhubungan dengan kelahiran prematur, BBLR, dan pe-ningkatan kematian perinatal (Wiriadinata, 2005).

Baik dinegara maju maupun di negara berkembang, seseorang disebut menderita anemia bila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr%, disebut anemia berat, atau bila kurang dari 6gr%, disebut anemia garavis.

Secara definisi, anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga kebutuhan besi untuk eritropoesis tidak cukup yang ditandai dengan gambaran sel darah merah yang hipokrom mikrositik, kadar besi serum dan saturasi (jenuh) transferin menurun, mampu ikat besi total (TIBC) meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang dan tempat lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali (Gultom, 2003).

Patogenesis Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi terjadi sebagai akibat dari gangguan balans zat besi yang negatif, jumlah zat besi (Fe) yang diabsorbsi tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Pertama -tama balans Fe yang negatif ini oleh tubuh diusahakan untuk diatasinya dengan cara menggunakan cadangan besi dalam jaringan-jaringan depot. Pada saat cadangan besi tersebut habis, baru anemia defisiensi besi menjadi manifest.

Perjalanan keadaan kekurangan zat besi mulai dari terjadinya anemia sampai dengan timbulnya gejala-gejala yang klasik, melalui beberapa tahap :

Tahap I : Terdapat kekurangan zat besi ditempat-tempat cadangan besi (depot iron), tanpa disertai dengan anemia (anemia latent) ataupun perubahan konsentrasi besi dalam serum (SI). Pada pemeriksaan didapati kadar feritin berkurang.

Tahap II : Selanjutnya mampu ikat besi total (TIBC) akan meningkat yang diikuti dengan penurunan besi dalam serum (SI) dan jenuh (saturasi) transferin. Pada tahap ini mungkin anemia sudah timbul, tetapi masih ringan sekali dan bersifat normokrom normositik. Dalam tahap ini terjadi eritropoesis yang kekurangan zat besi (iron deficient erythropoesis).

Tahap III : Jika balans besi tetap negatif maka akan timbul anemia yang tambah nyata dengan gambaran darah tepi yang bersifat hipokrom mikrositik.

Tahap IV : Hemoglobin rendah sekali. Sumsum tulang tidak mengandung lagi cadangan besi, kadar besi plasma (SI) berkurang. Jenuh transferin turun dan eritrosit jelas bentuknya hipokrom mikrositik. Pada stadium ini kekurangan besi telah mencapai jaringan-jaringan. Gejala klinisnya sudah nyata sekali (Gultom, 2003).

Pengaruh Anemia Terhadap Kemampuan Kognitif

Kognitif dalam konteks ilmu psikologi didefinisikan secara luas mengenai kemampuan berpikir dan mengamati, suatu perilaku yang mengakibatkan seseorang memperoleh pengertian. Kemampuan berkonsentrasi terhadap suatu rangsang dari luar, memecahkan masalah, mengingat atau memanggil kembali dari memorinya suatu kejadian yang telah lalu, memahami lingkungan fisik dan sosial termasuk dirinya sendiri. Fungsi kognitif antara lain:

1. Taraf inteligensia: yaitu kemampuan untuk mencapai prestasi di sekolah dan berbagai bidang kehidupan antara lain pergaulan sosial, teknis, perdagangan, pengaturan rumah tangga.

2. Bakat khusus yaitu kemampuan yang menonjol di suatu bidang, misal matematika, bahasa asing.

3. Organisasi kognitif menunjukkan materi yang sudah dipelajari, disimpan dalam ingatan secara sistematis atau tidak.

4. Kemampuan berbahasa.

5. Daya fantasi, mempunyai kegunaan kreatif, antisipatif, rekreatif, dan sosial.

6. Gaya belajar.

7. Teknik atau cara belajar secara efisien dan efektif.

Proses belajar mengajar di sekolah pada dasarnya berlangsung demi meningkatkan makna kehidupan manusia. Bukti penelitian menyokong bahwa besi memegang peranan penting dalam perkembangan sistem saraf pusat. Bila terjadi deplesi besi selama proses perkembangan susunan saraf terutama pada masa bayi akan mengakibatkan gangguan kognitif yaitu kontrol motorik, memori, dan perhatian, rendahnya prestasi sekolah, meningkatnya problem tingkah laku dan disiplin.

Penelitian Halterman (2001) di Amerika Serikat, mendapatkan nilai catarata matematika pada anak yang menderita anemia defisiensi besi lebih rendah dibanding remaja tanpa anemia defisiensi besi.

Penelitian Bidasari dkk., di daerah perkebunan Aek Nabara bekerjasama dengan Facultas Psikologi USU (2006) pada remaja usia 15–18 tahun yang menderita anemia defisiensi besi diperoleh Full IQ tidak melebihi rata-rata dengan gangguan pemusatan perhatian dan fungsi kognitif terutama dalam bidang aritmatika.

Anemia defisiensi besi pada periode perkembangan otak dini menyebabkan oligodendrosit imatur yang mengakibatkan gangguan proses mielinisasi dan transmisi saraf cenderung lebih lambat. Semakin dini usia dan lama saat terjadi anemia dan semakin luas otak yang terkena, akan menyebabkan gangguan fungsi kognitif semakin permanen dan sulit diperbaiki (Lubis, 2008).

Penanggulangan Anemi

Tindakan penting yang dilakukan untuk mencegah kekurangan besi antara lain :

1. Konseling untuk membantu memilih bahan makanan dengan kadar besi yang cukup secara rutin pada usia remaja.

2. Meningkatkan konsumsi besi dari sumber hewani seperti daging, ikan, unggas, makanan laut disertai minum sari buah yang mengandung vitamin C (asam askorbat) untuk meningkatkan absorbsi besi dan menghindari atau mengurangi minum kopi, teh, teh es, minuman ringan yang mengandung karbonat dan minum susu pada saat makan.

3. Suplementasi besi. Merupakan cara untuk menanggulangi ADB di daerah dengan prevalensi tinggi. Pemberian suplementasi besi pada remaja dosis 1 mg/KgBB/hari.

4. Untuk meningkatkan absorbsi besi, sebaiknya suplementasi besi tidak diberi bersama susu, kopi, teh, minuman ringan yang mengandung karbonat, multivitamin yang mengandung phosphate dan kalsium.

5. Skrining anemia. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit masih merupakan pilihan untuk skrining anemia defisiensi besi (Lubis, 2008).

Categories: Bayi, Anak dan remaja

Pacaran

April 15, 2008 Leave a comment

Pacar adalah kekasih atau orang yang dicintai atau orang yang dikasihi
(Kamisa, 1997). Pacaran adalah hubungan pertemanan antar lawan jenis yang
diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui
pasangan sebagai pacar (Mulamawitri, 2003)………(download)

Categories: Bayi, Anak dan remaja

Kualitas Tumbuh Kembang Anak

April 15, 2008 Leave a comment

Upaya peningkatan kualitas tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor pranatal, perinatal dan post natal. Dalam pembahasan ini difokuskan pada faktor post natal.

Faktor post natal yang mempengaruhi kualitas anak adalah faktor bio-fisiko-psiko-sosial. Misalnya komponen biologis : kesehatan tubuh/organ, keadaan gizi, kekebalan terhadap penyakit; kornponen fisis : perumahan, kebersihan lingkungan, fasilitas kesehatan dan pendidikan; komponen psikososial : kesehatan jiwa, stimulasi mental, pengaruh keluarga/sekolah/masyarakat, nilai sosial budaya, tradisi, adat dan agama, dll. Pertumbuhan pesat: terjadi pada masa bayi dan prasekolah, dimana anak sangat sensitive terhadap lingkugannya. Status pertumbuhan anak pada masa ini secara luas dipakai untuk mengukur bagaimana kualitas lingkungan anak tersebut. Agar anak tumbuh kembang dengan optimal sesuai dengan kemampuan genetiknya, harus mendapat dukungan yang positif dan lingkungan disekitar anak tersebut.

Berhubungan majemuknya faktor-faktor lingkungan postnatal yang mempengaruh tumbuh kembang anak, maka pada makalah ini akan dibahas hal-hal yang penting saja yaitu:

a. Gizi Anak

Makanan memegang peranan yang penting dalam tumbuh kembang anak, karena anak sedang tumbuh sehingga kebutuhannya berbeda dengan orang dewasa. Kekurangan makanan yang bergizi akan menyebabkan retardasi pertumbuhan anak. Makan yang berlebihan juga tidak baik, karena dapat menyebabkan obesitas. Kedua keadaan itu dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas anak.

Air susu ibu (ASI) dapat menurunkan mordibitas dan mortalitas anak, karena ASI disamping nilai gizinya tinggi juga mengandung berbagai macam zat anti yang melindungi anak dari berbagai macam infeksi. Disamping itu dengan menyusui, akan mendekatkan hubungan anak-ibu yang penting untuk perkembangan kejiwaan anak, bahkan sejak hari-hari pentama setelah lahir, sehingga rawat gabung antara ibu dan bayi sangat menguntungkan. Agar produksi ASI lancar, maka dianjurkan agar ibu makan lebih banyak (tambahan 500 kkal/hari) dan minum 8-12 gelas/hari. Kepada ibu yang menyusui dianjurkan untuk tidak minum obat yang bisa menurunkan produksi ASI, misalnya pil KB yang mengandung estrogen; atau obat-obat yang dikeluarkan melalui ASI, antara lain:

Sulfa – jangan diberikan pada ibu dengan bayi yang usianya terlalu muda, karena merupakan kompetitor dan bilirubin terhadap albumin, memudahkan terjadinya kern ikterus.

Tetrasiklin - “staining” pada gigi bayi.

Thiourasil/Tolbutamid – menekan fungsi kelenjar endoknin bayi.

Monitoring pertumbuhan anak dengan menggunakan KMS, merupakan usaha untuk mencegah terjadinya malnutrisi (retardasi pertumbuhan maupun obesitas) pada anak. Sebaiknya setiap anak, antara 4 bulan – 3 tahun ditimbang setiap bulan, karena pada periode umur tersebut merupakan penyesuaian dengan makanan orang dewasa, intake makanan tidak adekuat, dan ASI mulai tidak mencukupi kebutuhan anak-anak, tetapi anak masih rentan terhadap penyakit, sehingga sering terjadi gangguan kesehatan Disamping itu dengan KMS kita bisa mengetahui status kesehatan anak faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan anak tersebut, dengan KMS kita bisa memberikan penyuluhan kepada ibunya, selain mengenai pertumbuhan anaknya, juga mengenai cara pemberian makanan yang benar, status kesehatan, pencegahan dehidrasi dengan oralit, pemberian vitamin A bahkan mengenai keluarga berencana.

Kalau grafik berat badan pada KMS tidak naik selama 2 bulan berturut-turut, kita harus mencari sebabnva. Mumgkin anak tersebut sakit, makannya kurang, kecacingan, atau kurang mendapat perhatian.Seperti yang dikatakan oleh James Grant dari UNICEF bahwa untuk mempertahankan kelangsungan hidup anak yaitu dengan GOBI-FFF (Growth monitoring, oral dehydration, breast feeding, Immunization, Family Planning, Female Education dan Food Supplementation).

Sebaiknya tidak menambahkan makanan selain ASI sampai anak berumur 4 bulan, dan pemberian makanan pada anak usia dibawah 3 tahun 5 – 6 kali perhari untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya. Setelah menderita sakit anak perlu mendapat ekstra makanan untuk mengganti berat badan yang hilang pada waktu sakit, sehingga tumbuh kembang anak dapat dipertahankan.

b. Kesehatan anak

Kesehatan anak harus mendapat perhatian orang tua yaitu dengan cara segera membawa anaknva yang sakit ke tempat pelayanan kesehatan yang terdekat. Jangan sampai penyakit tersebut berkembang yang bisa membahayakan jiwanya. Pertolongan pertama dengan orang rumah tangga lainnya oleh ibu dirumah pada anak yang diare. Demikian pula dengan penyakit ISPA yang sering memberi dampak pada tumbuh kembang anak harus ditanggulangi sedini mungkin.

Anak yang sehat pada umumnya akan tumbuh dengan baik. Berbeda dengan anak yang mudah sakit, biasanya pertumbuhannya terganggu. Oleh karena itu kita perlu memberikan makanan ekstra pada setiap anak sesudah menderita suatu penyakit.

Anak yang menderita penyakit menahun seperti asma, sakit jantung, sakit ginjal dll, tidak hanya terganggu tumbuh kembangnya tetapi juga pendidikannya. Oleh karena itu kita harus memberikan perhatian ekstra pada anak-anak ini, misalnya dengan mengupayakan pengobatan yang murah sehingga bias dijamin kontinuitas pengobatan, makanan ekstra, dan bahkan sarana pendidikan selama anak dirawat di rumah sakit misalnya buku-buku bacaan, alat-alat bermain dll, juga perhatian serta kasih saying. Karena pada umumnya akan yang berpenyakit kronis sering disertai gangguan kejiwaan, akibat dari stress berkepanjangan yang disebabkan penyakitnya.

c. Imunisasi

Pemberian imunisasi pada anak adalah penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas terhadap penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi misalnya penyakit TBC, diphteri tetanus, pertusis, polio, campak, dan hepatitis B. Bahkan sekarang telah masuk ke Indonesia vaksin MMR untuk mencegah measles (campak), mumps (parotitis) dan rubela (campak jerman). Dengan melaksanakan imunisasi yang lengkap maka diharapkan dapat dicegah timbulnya penyakit-penyakit yang menimbulkan cacat dan kematian.

d. Perumahan

Keadaan perumahan yang layak dengan konstruksi bangunan yang tidak membahayakan penghuninya, akan menjamin keselamatan dan kesehatan penghuninya. Misalya fentilasi dan pencahayaan yang cukup, tidak penuh sesak, cukup leluasa bagi anak untuk bermain, bebas polusi, maka akan menjamin tumbuh kembang anak.

e. Sanitasi lingkungan

Kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun kebersihan lingkungan memegang peranan penting pada tumbuh kembang anak. Kebersihan perorangan yang kurang akan memudahkan terjadinya penyakit-penyakit kulit dan saluran pencernaan : diare, cacing, dll. Sedangkan kebersihan lingkungan erat hubungannya dengan penyakit saluran pernafasan, saluran pencernaan, serta penyakit akibat nyamuk sebagai fektornya seperti : malaria dan demam berdarah. Oleh karena itu pendidikan kesehatan kepada masyarakat harus ditujukan bagaimana membuat lingkungan menjadi layak untuk tumbuh kembang anak, sehingga meningkatkan rasa aman bagi ibu / pengasuh anak dalam menyediakan kesempatan bagi anaknya untuk mengeksplorasi lingkungan.

f. Stimulasi

Yang dimaksud dengan stimulasi disini adalah perangsangan yang datang dari lingkungan luar anak. Stimulasi merupakan hal yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang banyak mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi. Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Berbagai macam stimulasi seperti stimulasi visual, verbal, auditif, taktil dan lain-lain dapat mengoptimaikan perkembangan anak. Perhatian dan kasih sayang juga merupakan stimulasi yang penting pada awal perkembangan anak, misalnya dengan mengajaknya bercakap-cakap, membelai, mencium, bermain, dan lain-lain.

Pada saat ini di Indonesia telah dikembangkan program BKB (Bina Keluarga dan Balita) untuk anak-anak prasekolah yang bertujuan untuk menstimulasi perkembangan anak sedini mungkin, dengan menggunakan APE (alat permainan edukatif). APE adalah alat permainan yang berfungsi untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak antara lain motorik, bahasa, kecerdasan dan sosialisasi.

Program BKB merupakan program yang menunjang program-program yang sudah ada di Posyandu, dalam upaya peningkatan kualitas tumbuh kembang anak di Indonesia. Berbagai macam alat permainan edukatif yang dibuat sesuai dengan golongan umur anak diperkenalkan pada ibu-ibu kelompok BKB. Karena bermain, mengajak anak berbicara, dan kasih sayang adalah “makanan’ yang penting untuk perkembangan anak, seperti halnya kebutuhan makan untuk pertumbuhan badan. Bermain bagi anak tidak sekedar hanya mengisi waktu luang anak saja, tetapi melalui bermain anak belajar mengendalikan dan mengkoordinasikan otot-ototnya, melibatkan perasaan, emosi dan pikirannya. Sehingga melalui bermain anak mendapat berbagai pengalaman hidup. Manfaat lain dari bermain apabila dilakukan bersama orang tuanya adalah hubungan orang tua dan anak menjadi semakin akrab dan juga kita akan segera rnengetahui kalau terdapat gangguan perkembangan anaknya secara dini.

Buku bacaan anak-anak juga penting untuk stimulasi perkembangan anak, karena akan menambah kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta menambah wawasan anak terhadap lingkungan disekitamya.

Morley (1986) mengatakan bahwa prioritas untuk anak adalah makanan, perawatan kesehatan, dan bermain. Makanan yang baik, pertumbuhan yang adekuat dan kesehatan yang terpelihara adalah penting, tetapi perkembangan intelektual adalah penting. Bermain merupakan sekolah yang berharga bagi amak sehingga perkembangan intelektualnya optimal.

Untuk perkembangan motorik serta pertumbuhan otot-otot tubuh diperlukan stimulasi yang terarah dengan bermain. Latihan-latihan atau olahraga yang teratur. Anak perlu diperkenalkan dengan olah raga sedini mungkin, karena dengan olab raga tidak hanya membentuk fisik, juga mentalnya agar anak tumbuh dengan baik. Olahraga yang baik bagi anak harus mempunyai nilai bermain. Misalnya olahraga untuk anak Balita ialah melempar/menangkap bola, melompat-lompat main tali, main dengklek/engklek, naik sepeda roda tiga, dll. Yang harus dijaga adalah kemungkinan terjadinva cidera pada saat anak bermain atau melakukan aktifitas.

g. Keluarga Berencana

Dengan keluarga berencana (KB) maka sebuah keluarga dapat merencanakan kapan mulai punya anak, berapa jumlah anak yang diinginkan, berapa tahun jarak antara anak satu dengan lainnya dan kapan berhenti tidak hamil lagi. Pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan kawin muda, dianjurkan untuk menunda kehamilannya dulu sampai paling sedikit umur 18 tahun. Karena kalau hamil kurang dari 18 tahun sering melahirkan BBLR yang angka kesakitan dan kematiannya tinggi, disamping itu risiko terhadap ibunya juga tinggi. Demikian pula dianjurkan untuk tidak hamil sesudah umur 35 tahun, karena nisiko terhadap bayi maupun ibunya rneningkat lagi.

Untuk menjaga kesehatan ibu dan anak sebaiknya jarak antar kehamilan tidak kurang dari 2 tahun. Karena kalau jaraknya terlalu dekat dapat mengganggu tumbuh kembang anak baik fisik maupun mentalnya. Hal mi disebabkan karena ASI terpaksa dihentikan, ibu tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan makanan anak, juga berkurangnya perhatian dan kasih sayang. Paling tidak memerlukan waktu sekitar 2 tahun untuk memulihkan kesehatannya sebelum hamil lagi. Kalau ibu hamil terlalu cepat, maka sering melahirkan BBLR, mempunyai anak lebih dari 4 orang juga akan menambah resiko terhadap ibu dan bayinya. Lebih-lebih kalau jarak antar kehamilan kurang dan 2 tahun, maka ibu akan lemah akibat dari seringnya hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat anak-anaknya. Sehingga sering mengakibatkan berbagai masalah seperti ibu yang mendenita anemia, kurang gizi, dan bahkan sering terjadi perdarahan setelah melahirkan yang membahayakan nyawa ibunya. Resiko melahirkan bayi cacat dan BBLR jugá meningkat setelah empat kali kehamilan dan setelah usia ibu 35 tahun.

h. Keluarga

Suasana damai dan kasih sayang dalam keluarga sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Interaksi orangtua anak merupakan suatu proses yang majemuk yang dipengaruhi banyak faktor, yaitu kepribadian orang tua, sifat bawaan anak, kelahiran anak yang lain. Tingkah laku setiap anggota keluarga, interaksi antar anggota keluarga, dan pengaruh luar. Faktor yang mempunyai dampak negatif terhadap pola interaksi keluarga adalah perkawinan yang tidak harmonis, penyakit menahun yang diderita saat ini dan adanya gangguan jiwa dan salah satu anggota keluarga.

Categories: Bayi, Anak dan remaja

Nutrisi Anak

April 15, 2008 Leave a comment

PENGERTIAN

Nutrisi atau zat makanan adalah merupakan bagian dari makanan termasuk didalamnya air, protein dan asam amino yang membentuknya, lemak dan asam lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin.

ZAT GIZI YANG TERKANDUNG DALAM MAKANAN

  1. Air

Kebutuhan tubuh akan air merupakan urutan kedua setelah kebutuhan oksigen. Fungsi dari air bermacam-macam. Air merupakan komponen terpenting dari struktur tubuh dan dalam fungsinya sebagai pelarut, maka air memainkan peranan dasar dalam reaksi seluler. Air mengatur suhu tubuh dengan mengambil panas yang dihasilkan pada reaksi seluler dan mendistribusikannya ke seluruh tubuh. Air penting sebagai pelumas tubuh misalnya saliva, memungkinkan makanan masuk ditelan.

  1. Protein dan Asam Amino

Fungsi protein adalah :

a. Penunjang pertumbuhan, protein merupakan bahan padat utama dari otot, organ dan glandula endokrin. Merupakan unsur utama dari matrix tulang dan gigi, kulit, kuku, rambut, sel darah dan serum.

b. Pengaturan proses tumbuh, protein mempunyai fungsi yang sangat khusus dalam pengaturan proses-proses tubuh misalnya, Hb melakukan peranan vital membawa oksigen ke jaringan

c. Energi, protein merupakan sumber energi potensial, setiap gramnya menghasilkan 4 Kkal (0,01 MJ), jika protein digunakan untuk energi maka tidak akan dipakai untuk kebutuhan sintesis.

Sumber protein :

· Kandungan protein tinggi pada susu, daging, ikan, unggas, keju, biji-bijian

· Kandungan protein menengah pada telur, kacang-kacangan, tepung, biji-bijian, susu cair.

· Kandungan protein rendah sebagian besar pada buah-buahan dan sayur-sayuran.

  1. Lemak dan Asam Lemak

Fungsi utama lemak adalah memberikan energi, Lemak bertindak sebagai karier dari vitamin A,,D ,E, K, yang larut dalam air dan memberikan rasa yang menyenangkan dan memberikan perasaan kenyang karena kecepatan pengosongan dari lambung.

Sumber makanannya adalah baik susu ASI dan sapi mengandung sekitar 50% kal lemak. Sekitar 4% dari kalori total dalam ASI diberikan oleh asam linoleat. Sumber makanan lain adalah minyak, LARD, mentega, margarine dan bumbu selada yang merupakan sumber lemak yang paling pekat.

  1. Karbohidrat

Gula dan zat tepung merupakan sumber utama energi manusia.

Fungsi karbohidrat :

a. energi, setiap gram karbohidrat yang dioksidasi rata-rata menghasilkan 4 kal. Sejumlah karbohidrat dalam bentuk glukose, akan digunakan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan energi jaringan. Sebagian kecil disimpan sebagai glikogen dalam hepar dan otot dan beberapa akan disimpan sebagai jaringan adiposa.

b. Aksi pencadangan protein, tubuh akan menggunakan karbohidrat sebagai sumber utama energi, karena itu jika terdapat defisiensi kalor dalam diet maka akan digunakan jaringan adiposa dan protein

c. Pengaturan metabolisme lemak, diperlukan sejumlah karbohidrat dalam diet sehingga oksidasi lemak dapat berlangsung dengan normal. Jika karbohidrat dalam diet terbatas, maka lemak akan dimetabolisir lebih cepat daripada penanganan tubuh terhadap produk metabolisme ini. Jika lemak tidak dioksidasi dengan lengkap maka akan terbentuk keton.

d. Peranan dalam fungsi gastrointestinal, diduga laktosa mempercepat pertumbuhan bakteri yang diperlukan dalam usus kecil, bakteri ini berguna untuk sintesis vit B kompleks dan vit K.

Sumber Karbohidrat : pada diet bayi muda laktosa merupakan karbohidrat predominan yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi. Dengan semakin besarnya anak-anak ditambahkan biji-bijian, roti dan makanan lain seperti kentang.

CARA PEMBERIAN MAKAN SELAMA ANAK SAKIT DAN SEHAT

  1. Umur 0 – 4 Bulan

· Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai dengan keinginan anak, paling sedikit 8 kali sehari, siang maupun malam.

· Jarngan diberikan makanan atau minuman lain selain ASI

  1. Umur 4 – 6 Bulan

· Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai dengan keinginan anak, paling sedikit 8 kali sehari, siang maupun malam.

· Beri makanan pendamping ASI 2 kali sehari, tiap kali 2 sendok makan

· Pemberian makanan pendamping ASI dilakukan setelah pemberian ASI

· Makanan pendamping ASI adalah :

Þ Bubur tim lumat ditambah kuning telur/ayam/ikan/tempe/tahu/daging sapi/wortel/bayam/kacang hijau/santan/minyak.

  1. Umur 6 – 12 Bulan

· Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai dengan keinginan anak

· Berikan bubur nasi ditambah telur / ayam / ikan / tempe / tahu / daging sapi/ wortel / bayam / kacang hijau / santan / minyak.

· Makanan tersebut diberikan 3 kali sehari. Setiap kali makan diberikan sebagai berikut :

Umur 6 Bulan : 6 sendok makan

Umur 7 Bulan : 7 sendok makan

Umur 8 Bulan : 8 sendok makan

Umur 9 Bulan : 9 sendok makan

Umur 10 Bulan : 10 sendok makan

Umur 11 Bulan : 11 sendok makan

· Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti : bubur kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari dan sebagainya.

  1. Umur 12 – 24 Bulan

· berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai keinginan anak

· Berikan nasi lembik yang ditambah telur/ayam/ikan/tempe/tahu/daging sapi/wortel/bayam/kacang hijau/santan/minyak.

· Berikan makan tersebut 3 kali sehari

· Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti:

· Bubur kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari dan sebagainya.

  1. Umur 2 Tahun atau Lebih

· Berikan makanan yang biasa dimakan oleh keluarga 3 kali sehari yang terdiri dari nasi, lauk,pauk,sayur dan buah.

· Berikan juga makanan yang bergizi sebagai selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti :

Þ Bubur kacang hijau

Þ Biskuit

Þ Nagasari.

Catatan : (Cucilah tangan sebelum menyuapkan makanan anak).

(Gunakan bahan makanan yang baik dan aman, peralatan masak yang bersih dan cara memasak yang benar).

Anjuran Pemberian Makan untuk anak dengan Diare Persisten :

· Jika masih mendapatkan ASI, berikan lebih sering dan lebih lama, siang dan malam.

· Jika anak mendapat susu selain ASI :

Þ Gantikan dengan meningkatkan pemberian ASI atau

Þ Gantikan dengan setengah bagian susu dengan bubur nasi dan ditambah tempe

Þ Jangan diberi susu kental manis.

Þ Untuk makanan lain, ikuti anjuran pemberian makanan yang sesuai dengan umur anak.

Categories: Bayi, Anak dan remaja

leukimia pada anak

April 15, 2008 1 comment

Definisi

Leukemia adalah istilah umum yang digunakan untuk keganasan pada sumsum tulang dan sistem limpatik (Wong, 1995). Sedangkan menurut Robbins & Kummar (1995), leukemia adalah neoplasma ganas sel induk hematopoesis yang ditandai oelh penggantian secara merata sumsum tulang oleh sel neoplasi.

Klasifikasi

1. Leukemia Limfosit Akut (ALL)

2. Leukemia Limfosit Kronik (CLL)

3. Leukemia Mielosit (mieloblastik) Akut (AML)

4. Leukemia Mielosit Kronik (CML)

Pada klien anak, dua bentuk yang umum ditemukan adalah ALL dan AML

Patofisiologi

Leukemia merupakan proliferasi yang tidak terbatas dari sel darah putih yang immatur pada jaringan pembentuk darah. Walaupun bukan berwujud sebagai tumor sebagaimana biasanya, sel leukemia menunjukkan property suatu neoplasma dari kanker yang solid. Manifestasi klinik yang timbul merupakan akibat dari infiltrasi atau penggantian dari jaringan-jaringan tubuh oleh sel leukemia yang non-fungsional. Organ vaskuler atas seperti limpa dan hati merupakan organ yang sering diserang oleh sel ini.

Ada dua miskonsepsi yang harus diluruskan mengenai leukemia ini yaitu 1)Walaupun leukemia merupakan overproduksi dari sel darah putih, tetapi sering ditemukan pada leukemia akut bahwa jumlah leukosit rendah. Ini diakibatkan karena produksi yang dihasilkan adalah sel yang immatur. 2)Sel immatur tersebut tidak menyerang dan menghancurkan sel darah normal atau jaringan vaskuler. Destruksi celluler diakibatkan proses infiltrasi dan sebagai bagian dari konsekwensi kompetisi untuk mendapatkan element makanan metabolik.


Patofisiological Pathway

Acute Leukemia

Kompetisi terhadap makanan

Infiltrasi

Replacement

Sumsum Tulang Infiltrasi Ekstra Meduller CNS Hipermetabolisme Umum[8]

RBC WBC Platelets Pressure Pembesaran

Spleen, Hati dan Limfe Meningitis Starvasi

[6] leukemia [7] celluler

Anemia Infeksi Perdarahan Nyeri Sendi & Tulang Tulang Mengecil dan Kurus

[1] [2] [3] [4] [5]

Frakture Fisiologis

Masalah Keperawatan :

[1] Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, Resiko infeksi

[2] Resiko infeksi, Infeksi aktual

[3] Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, Resiko gangguan perfusi jaringan

[4] Gangguan rasa nyaman : Nyeri

[5] Gangguan mobilitas fisik, Resiko Injury

[6] Gangguan rasa nyaman : Nyeri

[7] Infeksi aktual, Resiko gangguan tumbuh kembang

[8] Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, Gangguan keseimbangan cairan & elektrolit

Manajemen terapeutik :

Chemotherapi dengan tiga fase yaitu 1)Induksi, 2)CNS profilaksis terapi, 3)Konsolidasi.

Masalah Keperawatan yang timbul karena kemoterapi :

1. Kerusakan membran mukosa

2. Gangguan integritas kulit

3. Cemas

Categories: Bayi, Anak dan remaja

Perumbuhan dan Perkembangan Anak

April 15, 2008 Leave a comment

<!–[if gte mso 9]&gt; Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]–><!–[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]–>
A. <!–[endif]–>MENGAPA ANAK PERLU DIASUH DAN DIBIMBING

Anak perlu diasuh dan dibimbing karena mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah bertumbuhnya anak dari segi jasmani. Perkembangan ialah berkembangnya kepribadian anak, dari seorang mahluk yang tadinya secara mutlak bergantung pada lingkungannya, menjadi seorang yang secara relatif mandiri dan berguna bagi lingkungannya.

 

Perkembangan anak merupakan proses. Artinya, perkembangan itu meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, dan terjadi sebagai hasil interaksi antara faktor bawaan dan faktor lingkungan. Agar perkembangan itu berjalan sebaik-baiknya, anak perlu diasuh dan dibimbing oleh orang dewasa, terutama dalam lingkungan kehidupan berkeluarga.

 

<!–[if !supportLists]–>B. <!–[endif]–>HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK

Sebagaimana dijelaskan diatas, perkembangan anak dipengaruhi oelh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Kedua faktor itu perlu diperhatikan dalam mengasuh anak.

  1. Faktor bawaan

Faktor bawaan adalah sifat yang dibawa anak sejak lahir :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ada anak yang penyabar, pemarah, pendiam, banyak bicara, ceradas, bodoh, dll

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kedaan fisik yang berbeda-beda , ada yang tinggi/pendek, ada yang berkulit hitam/putih, hidung mancung/pesek, dll

Faktor bawaan dapat mempercepat, menghambat, atau melemahkan pengaruh faktor lingkungan. Setiap anak itu unik, artinya bahwa tidak ada satu anak pun yang persis sama. Dalam mengasuh dan membimbing anak, kita tidak boleh membandingkan perkembangan anak yang satu dengan yang lainnya, tanpa memperhatikan sifat mereka masing-masing.

  1. Faktor lingkungan

Adalah pengaruh luar atau lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak. Faktor lingkungan meliputi suasana lingkungan dalam keluarga dan hal lain yang berpengaruh dalam perkembangan anak, seperti sarana dan prasarana yang tersedia, misalnya alat bermain, lapangan bermain atau televisi.

Faktor lingkungan dapat merangsang berkembangnya fungsi tertentu dari anak, shingga mempercepat perkembangan anak. Namun, faktor lingkungan juga dapat mmeperlambat atau mengganggu kelangsungan perkembangan anak. Peran orangtua adalah menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak ke arah yang positif.

 

<!–[if !supportLists]–>C. <!–[endif]–>HAKIKAT MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam mendidik anak. Pendidikan di lingkungan keluarga merupakan dasar-dasar pertama perkembangan anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan membimbing anak ialah mendidik anak agar kepribadian anak dapat berkembang dengan sebaik-baiknya, sehingga menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan mebimbing anak melibatkan seluruh aspek kepribadian anak, baik aspek jasmani, intelektual, emosional dan keterampilan, serta aspek norma dan nilai.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Hakikat mengasuh dan membimbing anak meliputi pemberian kasih sayang dan rasa aman, sekaligus disiplin dan contoh yang baik. Oleh karena itu, diperlukan suasana kehidupan keluarga yang stabil dan bahagia

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan membimbing anak selain merupakan tantangan dalam kelauraga, juga merupakan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengasuh dan membimbing anak membutuhkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan kesabaran orangtua

 

<!–[if !supportLists]–>D. <!–[endif]–>MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK UMUR 0 – 1,5 TAHUN

  1. Ciri dan tuntutan perkembangan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memperoleh rasa aman dan rasa percaya dari lingkungan merupakan dasar yang penting dalam hubungan anak dengan lingkungannya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa aman ini diperolehnya melalui sentuhan fisik yang menyenangkan dengan ibunya dan sesedikit mungkin mengalami hal-hal yang kurang mneynangkan

  1. Sikap orangtua

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Penuh kasih sayang dalam merawat dan mengasuh akan menimbulkan perasaan aman serta percaya pada bayi

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesiapan ibu pada setiap saat dibutuhkan oleh bayi, juga menimbulkan rasa aman dan percaya pada bayi

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah ASI sesuai dengan kebutuhan bayi anda. Jangan terlalu ketat dengan jadwal pemberian makanan, karena setiap bayi mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Bila ibu terpaksa memberikan susu botol, perlakukanlah seperti bayi minum ASI, yaitu dengan cara memeluknya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ketika bayi rewel, carilah penyebabnya dan atasilah masalahnya. Tangisan tidak selalu berarti bayi lapar.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Angkat dan peluklah bayi anda serta gendonglah berkeliling rumah/halaman sambil menunjukkan benda-benda yang ada di sekitarnya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sering-seringlah berbicara kepada bayi anda setiap hari, pada saat memakaikan pakaian, memberinya makan, memandikan, atau ketika melakukan kesibukan rumah tangga lainnya. Bayi tidak pernah terlalu muda untuk diajak berbicara

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ajaklah bayi anda bermain sambil tersenyum dan tirukanlah gerakan, mimik, dan kegiatannya. Bayi anda akan menirukan kegiatan anda pula.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Senandungkan dan ayunkanlah bayi anda pada saat menidurkan, sehingga ia akan tertidur dengan nyaman.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perkenalkan dengan berbagai macam benda, bunyi-bunyian, dan warna. Hal ini akan mempercepat perkembangan bayi anda.

 

Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu dan anak pada tahap ini akan menyebabkan terganggunya pembentukan rasa aman dan percaya. Hal ini menyebabkan goyahnya tahap perkembangan berikutnya. Anak diliputi rasa tidak aman dan tidak percaya.

 

  1. Gagguan/penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesulitan makan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mudah terangsang, marah, tersinggung (Irritabilitas)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menolak segala sesuatu yang baru

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sikap dan tingkah laku yang seolah-olah ingin melekat pada ibu dan menolak lingkungan

 

Bila gangguan tersebut tidak diatasi dengan baik, maka pada masa dewasa kemungkinan besar akan timbul kelainan jiwa yang bercorak ketergantungan yang kuat seperti :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Depresi (rasa murung, sedih, dan perasaan tertekan)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Adiksi obat (ketergantungan obat)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Skizofrenia (gangguan jiwa dengan kepribadian terpecah)

 

<!–[if !supportLists]–>E. <!–[endif]–>MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK UMUR 1,5 – 3 TAHUN

  1. Ciri dan tuntutan perkembangan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak akan bergerak dan berbuat sesuatu sesuai dengan keamuannya sendiri, sehingga ia seolah-olah ingin mencoba apa yang dapat dilakukannya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak dapat menuntut atau menolak apa yang ia kehendaki atau tidak ia kehendaki

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Akan tertanam perasaan otonomi diri, yaitu rasa kemampuan mengatur badannya dan lingkungannya sendiri. Hal ini menjadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri di kemudian hari

 

  1. Sikap orangtua

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Doronglah agar anak dapat bergerak bebas dan berlatih melakukan hal-hal yang diperkirakan mampu ia kerjakan, sehingga akan menumbuhkan rasa kemampuan diri. Namun harus bersikap tegas untuk melindungi dari bahaya, karena dorongan anak berbuat belum diimbangi oleh kemmapuan untuk melaksanakannya secara wajar dan rasional

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Usahakan agar anak mau bermain dengan anak lainnya. Dengan demikian ia akan belajar bagaimana mengikuti aturan permainan. Namun jangan lupa bahwa dalam bermain atau berhubungan dengan orang lain, anak masih bersifat egoistis, yaitu mementingkan diri sendiri dan memperlakukan orang lain sebagai obyek atau benda sesuai dengan kemauannya sendiri

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Banyaklah berbicara kepada anak dalam kalimat pendek yang mudah dimengerti

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Bacakan buku cerita atau dongeng kepada anak setiap hari, dan doronglah agar ia mau menceritakan kepada anda apa yang ia lihat atau dengar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ajak anak ke taman, toko, kebun binatang, lapangan, atau tempat lainnya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Usahakan agar anak membereskan mainannya setelah bermain, membantu kegiatan rumah tangga yang ringan dan menanggalkan pakaiannya tanpa dibantu. Hal ini akan melatih anak untuk bertanggung jawab.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Latihlah anak dalam hal kebersihan diri, yaitu buang air kecil dan buang air besar pada tempatmnya, namun jangan terlalu ketat

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Latihlah anak untuk makan sendiri memakai sendok dan garpu, dan ajaklah ia makan bersama keluarga

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah alat permainan yang sederhana, dan doronglah agar anak mau bermain balok-balok atau menggambar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jangan terlalu banyak memberikan larangan. Namun orangtua pun jangan terbiasa menuruti segala permintaan anak. Bujuk dan tenangkanlah anak ketika ia kecewa dengan cara memeluknya dan mengajaknya berbicara.

 

Gangguan dalam mencapai rasa otonomi diri akan berakibat bahwa anak dikuasai oleh rasa malu dan keragu-raguan serta pengekangan diri yang berlebihan. Sebaliknya, dapat juga terjadi sikap melawan dan memberontak.

 

  1. Gangguan / penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesulitan makan, terutama bila ibu memaksa makan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Suka mengadat (ngambek/tempertantrum)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tingkah laku kejam

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tingkah laku menentang dan keras kepala

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Gangguan dalam berhubungan dengan orang lain yang diwarnai oleh sikap menyerang

 

<!–[if !supportLists]–>F. <!–[endif]–>MENGASUH DAN MEMBIMBING ANAK UMUR 3 – 6 TAHUN

  1. Ciri dan tuntutan perkembangan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya berbagai macam, dan meniru kegiatan di sekitarnya.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak mulai melibatkan diri dalam kegiatan bersama dan menunjukkan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu, tapi ia tidak mementingkan hasilnya. Pengalaman dalam melakukan aktivitas ini amat penting artinya bagi anak.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Seringkali kita lihat bahwa anak cenderung berpindah-pindah dan meninggalkan tugas yang diberikan kepoadanya untuk melakukan yang lain. Hal ini dapat menimbulkan krisis baru karena hal itu bertentangan dengan lingkungan yang semakin menuntut, sehingga anak mengalami kekecewaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jika dalam tahap sebelumnya hanya tokoh ibu yang bermakna bagi anak, dalam tahap ini tokoh ayah mempunyai peran penting baginya. Disini terbentuk segitiga hubungan kasih sayang ayah-ibu-anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang kepada ibunya, dan anak perempuan lebih sayang kepada ayahnya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Melalui peristiwa ini, anak dapat mengalami perasaan sayang, benci, irihati, persaingan, memiliki dan lain-lain. Begitu pula perasaan takut dan cemas.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kedua orangtua harus bekerjasama untuk membantu anak melalui tahap ini. Peranan orangtua sebagai tokoh ayah dan tokoh ibu sangat penting

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ayah dan ibu merupakan suatu kesatuan. Oleh karena itu jangan mau dimanipulasi oleh anak. Ayah dan ibu memberikan kasih sayang yang sama, baik terhadap anak perempuan ataupun anak laki-laki

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dengan terselesaikannya hubungan segitiga tersebut, maka anak wanita akan beridentifikasi dengan ibunya dan anak laki-laki dengan ayahnya (identitas seksual maupun identitas diri)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Bila ibu terlalu dominan (menonjol pengaruhnya) dalam rumah tangga, sedangkan ayah kurang tegas atau ayah tidak ada (absen) baik secara lahiriah maupun kejiwaan, maka akan terjadi identifikasi (proses meniru) yang salah. Anak laki-laki akan beridentifikasi dengan ibunya, sehingga ia lebih mengembangkan sikap kewanitaan dan sebaliknya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin. Kadang-kadang, ia terpaku pada alat kelaminnya. Sering kita melihat anak laki-laki memegang alat kelaminnya sampai ereksi. Jangan dimarahi karena hal ini tetapi alihkanlah perhatiannya. Bila diatasi dengan baik, fase ini akan berakhir dengan baik pada usia 6 tahun.

 

  1. Sikap orangtua

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah kesempatan kepada anak untuk menyalurkan inisiatifnya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ikut sertakan anak dalam aktivitas keluarga, misalnya menyapu, berbelanja ke pasar, memasak, atau membetulkan mainan yang rusak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jangan menakut-nakuti anak. Pada anak laki-laki akan berakibat cemas, karena pada tahap ini ia sangat takut akan kehilangan alat kelaminnya (kastrasi), sedangkan pada anak perempuan timbul rasa iri hati.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dengar dan hargailah pendapat serta usul yang dikemukakan oleh anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jangan menuntut yang melebihi kemampuan anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ibu perlu lebih dekat kepada anak perempuannya. Sedangkan ayah perlu lebih akrab dengan anak laki-lakinya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Jawablah pertanyaan anak dengan benar, jangan membohongi atau menunda jawaban, misalnya bila anak bertanya bagaimana caranya adik keluar dari perut mama, jawablah bahwa keluarnya melalui jalan lahir, jangan katakan dibelah dari perut. Hal ini akan menakutkan bagi anak yang dapat berdampak negatif pada jiwanya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Sering-seringlah membacakan buku cerita atau dongeng. Kemudian diskusikanlah isi ceritanya dan tanyakanlah beberapa pertanyaan kepada anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Berilah ia kesempatan untuk mengunjungi tetangga, teman, dan saudara tanpa ditemani.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Luangkan waktu setiap hari untuk berdialog dengan anak. Dengarkanlah ia dan tunjukkanlah bahwa anda mengerti pembicaraannya dengan mengulangi apa yang dikatakannya. Pada saat ini janganlah menggurui, mencaci dan menyepelekannya

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Ajarkanlah untuk membedakan yang salah dan yang benar, serta tata tertib dan sopan santun yang berlaku di masyarakat setempat

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Peranan ayah menjadi penting disini. Oleh karena itu ajaklah anak bermain bersama. Disini, ayah perlu bersikap sebagai teman bagi anak

 

Gangguan dalam mencapai rasa inisiatif akan menyebabkan anak merasa bersalah, rasa takut berbuat sesuatu, takut mengemukakan sesuatu, serta serba salah dalam bergaul

 

  1. Gangguan/ Penyimpangan yang dapat timbul pada tahap ini

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kesulitan belajar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Masalah sekolah

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Masalah pergaulan dengan teman

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Anak yang pasif dan takut serta kurang kemauan, kurang inisiatif

 

Riwayat Tumbuh Kembang

Menurut Ibu anak bisa mengangkat bahu umur bulan. Bisa duduk umur bulan. Berdiri umur tahun dan bicara lancar umur tahun. Hingga saat ini anak berat badan anak kg, TB : cm, LK : cm, LD : cm, LLA : cm.

 

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Faktor Keturunan ; yaitu faktor gen yang diturunkan dari kedua orang tuanya.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Faktor Hormonal ; banyak hormon yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, namun yang paling berperan adalah Growth Hormon (GH).

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Faktor Gizi ; Setiap sel memerlukan makanan atau gizi yang baik. Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik dibutuhkan gizi yang baik.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Faktor Lingkungan; Terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan biologi dan lingkungan psikososial.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Faktor keturunan (genetik)

Seperti kita ketahui bahwa warna kulit, bentuk tubuh dan lain-lain tersimpan dalam gen. Gen terdapat dalak kromosom, yang dimiliki oleh setiap manusia dalam setiap selnya. Baik sperma maupun ovum masing masing mempunyai 23 pasang kromosom. Jika ovum dan sperma bergabung akan terbentuk 46 pasang kromosom, yang kemudian akan terus smembelah untuk memperbanyak diri sampai akhirnya terbentuk janin, bayi. Setiap kromosom mengandung gen yang mempunyai sifat diturunkan pada anak dari keluarga yang memiliki abnormalitas tersebut.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Faktor Hormonal

Kelenjar petuitari anterior mengeluarkan hormon pertumbuhan (Growth Hormone, GH) yang merangsang pertumbuhan epifise dari pusat tulang panjang. Tanpa GH anak akan tumbuh dengan lambat dan kematangan seksualnya terhambat. Pada keadaan hipopetuitarisme terjadi gejala-gejala anak tumbuh pendek, alat genitalia kecil dan hipoglikemi. Hal sebaliknya terjadi pada hiperfungsi petuitari, kelainan yang ditimbulkan adalah akromegali yang diakibatkan oleh hipersekresi GH dan pertumbuhan linear serta gigantisme bila terjadi sebelum pubertas. Hormon lain yang juga mempengaruhi pertumbuhan adalah hormon-hormon dari kelenjar tiroid dan lainya.

 

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Faktor Gizi.

Proses tumbuh kembang anak berlangsung pada berbagai tingkatan sel, organ dan tumbuh dengan penambahan jumlah sel, kematangan sel, dan pembesaran ukuran sel. Selanjutnya setiap organ dan bagian tubuh lainnya mengikuti pola tumbuh kembang masing-masing. Dengan adanya tingkatan tumbuh kembang tadi akan terdapat rawan gizi. Dengan kata lain untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal dibutuhkan gizi yang baik.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Faktor Lingkungan

Lingkungan fisik; termasuk sinar matahari, udara segar, sanitas, polusi, iklim dan teknologi

Lingkungan biologis; termasuk didalamnya hewan dan tumbuhan. Lingkungan sehat lainnya adalah rumah yang memenuhi syarat kesehatan.

Lingkungan psikososial; termasuk latar belakang keluarga, hubungan keluarga.

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Faktor sosial budaya

Faktor ekonomi, sangat memepengaruhi keadaan sosial keluarga.

Faktor politik serta keamanan dan pertahanan; keadaan politik dan keamanan suatu negara juga sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang seorang anak.

Teori Kepribadian anak Menurut Teori Psikoseksual Sigmund Freud

Kepribadian ialah hasil perpaduan antara pengaruh lingkungan dan bawaan, kualitas total prilaku individu yang tampak dalam menyesuaikan diri secara unit dengan lingkungannya.

Tiori kepribadian yang dikemukakan oleh ahli psikoanlisa Sigmund freud (1856 – 1939). Meliputi tahap-tahap :

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Fase oral, usia antara 0 – 11/2 Tahun

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Fase anal, usia antara 11/2 – 3 Tahun

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Fase Falik, usia antara 3 – 5 Tahun

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Fase Laten, usia antara 5 – 12 Tahun

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Fase Genital, usia antara 12 – 18 Tahun

Tahap perkembangan anak menurut Teori Psikososial Erik Erikson.

Erikson mengemukakan bahwa dalam tahap-tahap perkembangan manusia mengalami 8 fase yang saling terkait dan berkesinambungan.

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Bayi (oral) usia 0 – 1 Tahun

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Usia bermain (Anal ) yakni 1 – 3 Tahun

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Usia prasekolah (Phallic) yakni 3 – 6 Tahun

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Usia sekolah (latent) yakni 6 – 12 tahun

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Remaja (Genital) yakni 12 tahun lebih

<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Remaja akhir dan dewasa muda

<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Dewasa

<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>Dewasa akhir

TUGAS PERKEMBANAGAN

BILA TUGAS PERMKEMBANGAN TIDAK TERCAPAI

Bayi (0 – 1 tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa percaya mencapai harapan,

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dapat menghadapi frustrasi dalam jumlah kecil

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mengenal ibu sebagai orang lain dan berbeda dari diri sendiri.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Tidak percaya

Usia bermain (1 – 3 Tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan otonomi.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai keinginan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memulai kekuatan baru

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menerima kenyataan dan prinsip kesetiaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Malu dan ragu-ragu

Usia pra sekolah ( 3 – 6 Tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan inisiatif mencapai tujuan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menyatakan diri sendiri dan lingkungan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Membedakan jenis kelamin.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa bersalah.

Usia sekolah ( 6 – 12 Tahun)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan berprestasi

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Dapat menerima dan melaksanakan tugas dari orang tua dan guru

Rasa rendah diri

Remaja ( 12 tahun lebih)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa identitas

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai kesetiaan yang menuju pada pemahaman heteroseksual.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memilih pekerjaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai keutuhan kepribadian

Difusi identitas

Remaja akhir dan dewasa muda

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Rasa keintiman dan solidaritas

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memperoleh cinta.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mampu berbuat hubungan dengan lawan jenis.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Belajar menjadi kreatif dan produktif.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Isolasi

Dewasa

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan keturunan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Memperoleh perhatian.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Belajar keterampilan efektif dalam berkomunikasi dan merawat anak

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menggantungkan minat aktifitas pada keturunan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Absorpsi diri dan stagnasi

Dewasa akhir

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Perasaan integritas

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mencapai kebijaksanaan

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>keputusasaan

 

ensefalitis

April 15, 2008 3 comments

Pengertian

Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent.

Patogenesis Ensefalitis

Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:

ü Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.

ü Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah

Kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.

ü Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di

Permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.

Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat .

Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang.

Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak.

Penyebab Ensefalitis:

Penyebab terbanyak : adalah virus

Sering : – Herpes simplex

- Arbo virus

Jarang : – Entero virus

- Mumps

- Adeno virus

Post Infeksi : – Measles

- Influenza

- Varisella

Post Vaksinasi : – Pertusis

Ensefalitis supuratif akut :

Bakteri penyebab Esenfalitis adalah : Staphylococcusaureus, Streptokok, E.Coli, Mycobacterium dan T. Pallidum.

Ensefalitis virus:

Virus yang menimbulkan adalah virus R N A (Virus Parotitis) virus morbili,virus rabies,virus rubella,virus denque,virus polio,cockscakie A,B,Herpes Zoster,varisela,Herpes simpleks,variola.

Gejala-Gejala yang mungkin terjadi pada Ensefalitis :

- Panas badan meningkat ,photo fobi,sakit kepala ,muntah-muntah lethargy ,kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.

Anak tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan ,pendengaran ,bicara dan kejang.

Categories: Bayi, Anak dan remaja
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52 other followers