Archive

Archive for the ‘Kesehatan Reproduksi Dewasa’ Category

Diafragma, Alat Kontrasepsi yang Tidak Biasa

April 20, 2009 3 comments

Kontrasepsi diafragma merupakan hal yang tidak biasa di Indonesia. Kontrasepsi ini adalah kontrasepsi barier yang tidak mengurangi kenikamatan berhubungan seksual karena terjadi skin to skin kontak antara penis dengan vagina dan dapat meningkatkan frekuensi sentuhan pada G Spot dalam. Sayangnya diafragma memiliki efektifitas yang paling rendah dibandingkan dengan alat kontrasepsi lainnya, selain itu pemasangannya harus oleh tenaga kesehatan dan harganya relatif lebih mahal. Bentuk dan pemasangannya adalah sebagai berikut :

170491

Nyeri saat Hubungan Seks (Dyspareunia)

April 20, 2009 16 comments

Dyspareunia (Nyeri saat intercourse atau hubungan seks) adalah sebuah kondisi muncunya rasa nyeri pada saat atau setelah intercourse. Selain terjadi karena sebab sebab fisik misalnya infeksi jamur pada liang senggama (Yeast Infection)

causes-of-painful-intercourse

atau adanya penipisan selaput pada liang senggama atau terjadinya vagina ulcer (bisul pada liang senggama)

juga dapat disebabkan oleh kondisi psikis sehingga produksi cairan pelumas berkurang dan trauma pada hubungan seks sebelumnya.


Proses Aborsi

April 20, 2009 27 comments

Berikut ini adalah gambaran proses aborsi, semoga bisa menjadi referensi

abortion11

abortion2

abortion3

Aborsi, Membahayakan Fisik dan Mental

April 20, 2009 6 comments

Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia ?tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang?. Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi.

Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi:
1. Resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik
2. Resiko gangguan psikologis

Resiko kesehatan dan keselamatan fisik

Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku ?Facts of Life? yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd yaitu:
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation)
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

Resiko kesehatan mental

Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita.

Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai ?Post-Abortion Syndrome? (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam ?Psychological Reactions Reported After Abortion? di dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994).

Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut ini:
1. Kehilangan harga diri (82%)
2. Berteriak-teriak histeris (51%)
3. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
4. Ingin melakukan bunuh diri (28%)
5. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
6. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)

Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya.

Aborsi dan Kanker Payudara

April 20, 2009 1 comment

Anggapan bahwa kehamilan terputus dapat memicu kanker payudara terbantahkan. Berdasarkan penelitian ulang Profesor Valeri Beral dari Universitas Oxford, diyakini tak ada kaitan antara penyakit kanker payudara dengan kehamilan yang terputus baik karena aborsi ataupun keguguran.

Penelitian Beral menggunakan data dari 53 studi sebelumnya yang dilakukan di 16 negara. “Kami semakin yakin, baik aborsi ataupun keguguran tidak meningkatkan risiko kanker payudara,” kata Beral. Ia mengatakan hasil penelitian yang menyimpulkan hubungan antara meningkatnya risiko kanker payudara dengan aborsi atau keguguran didasarkan data dan metoda penelitian sederhana.

“Penelitian sebelumnya mencampur-adukkan antara data dan hasil penelitian yang layak dan tak layak kebenarannya.” kata Beral. “Tak ada yang melakukan hal ini sebelumnya (analisa ulang) dan kami memiliki data asli dan dapat menguji dan menganalisanya dengan metoda yang jauh lebih cermat dan teruji.” Penelitian itu juga mengikutsertakan 44 ribu wanita penderita kanker payudara dengan catatan medis pernah mengalami keguguran atau aborsi sebelum dinyatakan positif kanker. Selain itu, dilakukan pula studi banding dari kelompok yang disebut diatas dengan kelompok wanita penderita kanker payudara yang tidak mempunyai catatan kesehatan aborsi ataupun keguguran.

“Untuk pertama kali penelitian dilakukan dengan menggunakan begitu banyak data dan informasi, dan hasil temuannya jelas lebih cermat dan dapat diterima dari yang sebelumnya,” kata ahli epidemiologi Richard Doll juga dari Universitas Oxford. Korelasi antara aborsi dengan kanker sebelumnya menjadi topik hangat dan selama ini dijadikan argumentasi kelompok anti aborsi. Akibatnya, dokter seringkali menganjurkan para wanita mempertimbangkan resiko aborsi terkait risiko terkena kanker payudara. Lebih dari satu juta kasus kanker payudara didiagnosa setiap tahun dan hampir 580.000 kasus terjadi di negara maju.

Pada tahun 1998 penyakit tersebut menjadi penyebab kematian 1,6 persen kaum wanita didunia menurut badan Penelitian Kanker di Lyon, Perancis. Sumber : PDPERSI

Periksa Payudara Sendiri (SADARI/SARARI)

April 19, 2009 9 comments

SADARI merupakan pemeriksaan payudara sendiri secara manual. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk membantu wanita melakukan deteksi dini adanya kelainan pada payudara (Suddarth & Brunner, 2003).

Pilihan waktu yang tepat untuk melakukan SADARI adalah antara hari ke 5 – 10 dari siklus menstruasi dengan menghitung hari pertama haid sebagai hari I. Wanita pascamenopause dianjurkan untuk memeriksa payudaranya pada hari pertama setiap bulan untuk meningkatkan rutinitas pemeriksaan payudara sendiri.

SADARI meliputi :

a.       Langkah 1

1).    Berdirilah di depan cermin

2).    Periksa payudara terhadap segala sesuatu yang tidak lazim

3).    Perhatikan adanya rabas dari puting payudara, keriput, dimpling atau kulit mengelupas.

b.      Langkah 2

Dua langkah berikut ini dilakukan untuk memeriksa segala perubahan dalam kontur payudara. Ketika melakukannya, diharapkan anda harus mampu untuk merasakan otot-otot anda yang terasa menegang.

1).    Perhatikan dengan baik di depan cermin ketika anda melipat tangan di belakang kepala anda dan menekan tangan anda ke arah depan.

2).    Perhatikan setiap perubahan kontur dari payudara anda.

c.       Langkah 3

1).    Selanjutnya tekan tangan anda dengan kuat pada pinggang anda dan agak membungkuk ke arah cermin sambil menarik bahu anda dan siku anda ke arah depan.

2).    Perhatikan setiap perubahan kontur payudara anda

d.      Langkah 4

Beberapa wanita melakukan bagian pemeriksaan berikut ketika sedang mandi dengan shower. Jari – jari anda akan meluncur dengan mudah di atas kulit yang bersabun, sehingga anda dapat berkonsentrasi dan merasakan terhadap setiap perubahan di dalam payudara.

1).    Angkat tangan kiri anda.

2).    Gunakan 3 atau 4 jari tangan kanan anda untuk meraba payudara kiri anda dengan kuat, hati – hati dan menyeluruh.

3).    Mulailah pada tepi terluar, tekan bagian datar dari tangan anda dalam lingkaran kecil, bergerak melingkar dengan lambat di sekitar payudara.

4).    Secara bertahap lakukan ke arah puting susu.

5).    Pastikanlah untuk melakukannya pada seluruh payudara

6).    Beri perhatian khusus pada area di antara payudara dan di bawah lengan termasuk bagian di bawah lengan itu sendiri.

7).    Rasakan adanya benjolan atau massa yang tidak lazim di bawah kulit.

e.       Langkah 5

1).    Dengan perlahan remas puting susu dan perhatikan terhadap adanya rabas.

2).    Jika anda mengeluarkan rabas dari puting susu selama sebulan – yang terjadi ketika anda sedang atau tidak melakukan SADARI, maka segeralah temui dokter anda.

3).    Ulangi pemeriksaan pada payudara kanan anda.

f.        Langkah 6

1).    Langkah 4 dan 5 harus diulangi dalam posisi berbaring.

2).    Berbaringlah mendatar terlentang dengan lengan kiri anda di bawah kepala anda dan sebuah bantal atau handuk yang dilipat di bawah bahu kiri anda   (posisi ini akan mendatarkan payudara anda dan memudahkan anda untuk memeriksanya).

3).    Gunakan gerakan sirkuler yang sama seperti yang diuraikan di atas.

4).    Ulangi pada payudara kanan anda (Suddarth & Brunner, 2003).

Perubahan Psikis Pada Masa Menopause

April 17, 2009 3 comments

Selain fisik, perubahan psikis juga sangat mempengaruhi kualitas hidup seorang wanita dalam menjalani masa menopouse. Memang, perubahan psikis pada masa menopouse sangat tergantung pada masing-masing individu. Pengaruh ini sangat tergantung pada pandangan masing-masing wanita terhadap menopouse. Pengetahuan yang cukup akan membantu mereka memahami dan mempersiapkan dirinya menjalani masa ini dengan lebih baik.

a.             Perubahan psikis yang muncul

Pada wanita pramenoupose muncul kekawatiran, yang disebabkan oleh perubahan fisik dan hormonalnya, yang berakibat pada sensitif terhadap emosi (Kasdu, 2002 : 43). Atas dasar arah aktifitasnya emosi dibagi menjadi empat macam, yaitu : takut, marah, cinta dan depresi  (Sobur, 2003 : 225).

b.            Macam emosi akibat dari perubahan psikis wanita dalam menghadapi menopause

1)            Marah, orang bergerak menentang sumber frustasi.

2)            Cemas, orang bergerak meninggalkan sumber frustasi.

3)            Depresi, orang menghentikan respon-respon terbukanya dan mengalihkan emosi kedalam dirinya sendiri (Mahmud, 1996 : 224).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52 other followers