Archive

Archive for the ‘Persalinan’ Category

Abortus Imminens

January 1, 2010 13 comments

Definisi Abortus Imminens

Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut. Berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan.

Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (Mochtar Rustam, Sinopsis Obstetri. 1998 : 209).

Abortus imminens adalah terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi ini, kehamilan masih mungkin berlanjut dan dipertahankan (Wiknjosastro dkk, 2002 : 147).

Abortus imminens adalah abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya (FK-UNPAD, 1984 : 8).

Partus Immaturus adalah pengeluaran buah kehamilan antara 28 minggu – 37 minggu atau bayi dengan berat badan 1000 gr – 2500 gr.

Partus Maturus atau partus alferme adalah pengeluaran buah kehamilan antara 37 mg – 42 mg atau bayi dengan berat badan 2500 gr atau lebih.

Partus Postmaturus atau partus serotinus adalah pengeluaran buah kehamilan setelah kehamilan 42 minggu. (FK-UNPAD, 1984 : 222).

Etiologi

Faktor-faktor penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti tetapi terdapat beberapa faktor sebagai berikut :

Kelainan Pertumbuhan Hasil Konsepsi

Faktor kromosom

Gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk kromosom.

Faktor lingkungan endometrium

Endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi hasil konsepsi: gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak kehamilan

Pengaruh Luar

Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi. Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.

Kelainan pada Plasenta

Kita jumpai pada ibu yang menderita poenyakit nefritis, hypertensi, tosemia, gravidarum, anomali plasenta.

Penyakit Ibu

Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abnoinalis, malaria, sifilis

Anemia Ibu

Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit diabetes melitus.

Keracunan nikotin, gas racun, alkohol dll.

Kelainan Traktus Genetalis

Retroversio uteri, miomata uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus

Antagenesis Reshus

Pada antagonis rhesus darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.

Penyakit bapak

Umur lanjut, penyakit kronis seperti : TBC, anemi, dekompensasi, kordis, mainutrisi, netritis, sufilis, keracunan, sinar rontgen dan avitaminosis.

(Mochtar, Rustam, Sinopsis Obstetri, 1998 : 209).

III. Klasifikasi

Abortus dapat dibagi atas dua golongan :

Abortus Spontan

Abortus yang terjadi tidak diketahui faktor-faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.

Contoh : Abortus kompletus, Abortus inkompletus, Abortus insipiens, Abortus imminens, missed abortion, Abortus hubitualis, Abortus infeksiosus, Abortus septi

Abortus Provakotus (inducet obortion)

Abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus ini terbagi lagi menjadi :

a)      Abortus Medisinalis (abortus trhapeuticd)

Abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu.

b)      Abortus Kriminalis

Abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

(Mochtar Rustam, Sinopsis Obstetri, 1998 : 211).

IV. Gejala Klinis

  1. Terdapat keterlambatan datang bulan.
  2. Terdapat perdarahan, disertai perut sakit.
  3. Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan da terjadi kontraksi otot rahim.
  4. Hasil pemeriksaan dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontrasi otot rahim.
  5. Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif
  1. Penanganan Abortus Imminens
    1. Istirahat – baring, tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
    2. Anjuran untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlebihan atau melakukan hubungan seksual.
    3. Pemeriksaan USG penting dilakukan untuk menentukan apakah janin masih hidup.

(Wiknjosastro dkk, 2002 : 305)

Categories: Persalinan Tags: ,

58 Langkah APN dan Sanggah Susur

January 8, 2009 33 comments

Untuk melakukan asuhan persalinan normal dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, 2003):

1. Mendengar & Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.

2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.

3. Memakai celemek plastik.

4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air mengalir.

5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.

6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.

7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan vulva ke perineum.

8. Melakukan pemeriksaan dalam - pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.

9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.

10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).

11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.

12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.

13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.

14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.

15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.

16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu

17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan

18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih untuk menderingkan janin pada perut ibu.

20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin

21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan.

22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.

23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.

24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)

25. Melakukan penilaian selintas :

a. Apakah bayi menangi kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?

b. Apakah bayi bergerak aktif ?

26. Mengeringkan tubuh bayi nulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.

27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.

28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.

29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).

30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.

31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.

32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.

33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.

34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva

35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.

36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.

37. melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).

38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.

39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)

40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.

41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.

42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.

43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.

44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.

45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.

46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.

47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.

48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.

49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.

50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.

51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.

52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.

53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian bersih dan kering.

54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum.

55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.

56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%

57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

58. Melengkapi partograf.

Categories: Persalinan

Persalinan Kala II

April 27, 2008 16 comments

Tanda dan Gejala Kala II Persalinan

1) Ibu ingin meneran bersamaan dg kontraksi

2) Ibu merasakan peningkatan tekanan pd rektrum/vaginal

3) Perineum terlihat menonjol

4) Vulva vagina dan sfinger membuka

5) Peningkatan pengeluaran lendir & darah

Penatalaksanaan Fisiologis Kala Dua Persalinan

Berikut ini adalah alur untuk penatalaksanaan kala dua persalinan :

Gambar 1. Penatalaksanaan kala 2 persalinan

1) Mulai Mengejan

Jika sudah didapatkan tanda pasti kala dua tunggu ibu sampai merasakan adanya dorongan spontan untuk meneran. Meneruskan pemantauan ibu dan bayi.

2) Memantau selama penataksanaan kala dua persalinan

Melanjutkan penilaian kondisi ibu dan janin serta kemajuan persalinan selama kala dua persalinan secara berkala. Memeriksa dan mencatat nadi ibu setiap 30 menit, frekuensi dan lama kontraksi selama 30 menit, denyut jantung janin setiap selesai meneran, penurunan kepala bayi melalui pemeriksaan abdomen, warna cairan ketuban, apakah ada presentasi majemuk, putaran paksi luar, adanya kehamilan kembar dan semua pemeriksaan dan intervensi yang dilakukan pada catatan persalinan.

3) Posisi Ibu saat Meneran

Membantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman baginya. Ibu dapat berganti posisi secara teratur selama kala dua persalinan karena hal ini sering kali mempercepat kemajuan persalinan.

Gambar 2. Posisi duduk atau setengah duduk

Gambar 3. Jongkok atau Berdiri

Gambar 4. Merangkak atau berbaring miring ke kiri

4) Melahirkan kepala

Bimbing ibu u/ meneran. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih untuk mengeringkan janin pada perut ibu. Saat sub occiput tampak dibawah simfisis, tangan kanan melindungi perineum dengan dialas lipatan kain dibawah bokong ibu, sementara tangan kiri menahan puncat kepala agar tidak terjadi defleksi yang terlalu cepat saat kepala lahir, Mengusapkan kasa/kain bersih untuk membersihkan muka janin dari lendir dan darah.

Gambar 5. Melahirkan Kepala

5) Memeriksa Tali Pusat

Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti meneran dan bernapas cepat. Raba leher bayi, apakah ada leletan tali pusat. Jika ada lilitan longgar lepaskan melewati kepala bayi.

Gambar 6. Memeriksa tali pusat

6) Melahirkan Bahu

Setelah menyeka mulut dan hidung bayi hingga bersih dan memeriksa tali pusat, tunggu hingga terjadi kontraksi berikutnya dan awasi rotasi spontan kepala bayi. Setelah rotasi eksternal, letakan satu tangan pada setiap sisi kepala bayi dan beritahukan pada ibu untuk meneran pada kontraksi berikutnya. Lakukan tarikan perlahan kearah bawah dan luar secara lembut (Kearah tulang punggung ibu hingga bahu bawah tampak dibawah arkus pubis. Angkat kepala bayi kearah atas dan luar (mengarah ke langit-langit) untuk melahirkan bahu posterior bayi.

Gambar 7. Melahirkan Bahu

7) Melahirkan Sisa Tubuh Bayi

Setelah bahu lahir, tangan kanan menyangga kepala, leher dan bahu janin bagian posterior dengan ibu jari pada leher (bagian bawah kepala) dan keempat jari pada bahu dan dada/punggung janin, sementara tangan kiri memegang lengan dan bahu janin bagian anterior saat badan dan lengan lahir

Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)

Setelah seluruh badan bayi lahir pegang bayi bertumpu pada lengan kanan sedemikian rupa hingga bayi menghadap kearah penolong. Nilai bayi, kemudian letakan bayi diatas perut ibu dengan posisi kepala lebih rendah dari badan (bila tali pusat terlalu pendek, letakan bayi di tempat yang memungkinkan.

Gambar 8. Melahirkan Tubuh Bayi

8) Memotong tali pusat

Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali tali pusat. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari umbilikus bayi. Melakukan urutan pada tali pusat kearah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama. Memegang tali pusat diantara 2 klem menggunakan tangan kiri, dengan perlindungan jari tangan kiri, memotong tali pusat diantara kedua klem.

Gambar 9. Memotong Tali Pusat

Persalinan Preterm / Prematur

April 20, 2008 2 comments

<!–[if gte mso 9]&gt; Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]–><!–[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]–>Pengertian

Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba, 1998 : 221).

<!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Etiologi / Penyebab Persalinan Preterm

Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui :

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Eastman = kausa prematur 61,9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui)

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Holmer = sebagian besar tidak di ketahui.

( Mochtar , 1998 : 219 )

<!–[if !supportLists]–>Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan preterm

Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dapat diklasifikasikan secara rinci sebagai berikut :

Menurut Manuaba (1998 : 221)

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Kondisi umum

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Keadaan sosial ekonomi rendah

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Kurang gizi

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Anemia.

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Perokok berat, dengan lebih dari 10 batang/ hari.

<!–[if !supportLists]–>d) <!–[endif]–>Umur hamil terlalu muda kurang dari atau terlalu tua di atas 35 tahun.

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Penyakit ibu yang menyertai kehamilan

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Penyulit kebidanan

Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya persalinan preterm diantaranya :

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Kehamilan dengan hidramnion, ganda, pre-eklampsia.

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Kehamilan dengan perdarahan antepartum pada solusio plasenta, plasenta previa, pecahnya sinus marginalis.

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Kehamilan dengan ketuban pecah dini: terjadi gawat janin, temperatur tinggi.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Kelainan anatomi rahim

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Keadaan rahim yang sering menimbulkan kontraksi dini : Serviks inkompeten karena kondisi serviks, amputasi serviks.

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Kelainan kongenital rahim:

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Infeksi pada vagina aseden (naik) menjadi amnionitis

Sedangkan menurut Mochtar (1998 : 220), faktor yang mempengaruhi Prematuritas adalah sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Umur ibu, suku bangsa, sosial ekonomi

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Bakteriura (infeksi saluran kencing )

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>BB ibu sebelum hamil, dan sewaktu hamil

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Kawin dan tidak kawin:

Tak syah 15 % prematur; kawin sah 13 %prematur

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Prenatal ( antenantal ) care

<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Anemia, penyakit jantung

<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Jarak antara persalinan yang terlalu rapat

<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>Pekerjaan yang terlalu berat sewaktu hamil berat

<!–[if !supportLists]–>i. <!–[endif]–>Keadaan dimana bayi terpaksa dilahirkan prematur, misalnya pada plasenta praevia, toksemia gravidarum, solusio plasentae, atau kehamilan ganda

<!–[if !supportLists]–>Kondisi yang menimbulkan kontraksi

Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan, kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin :

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Kelainan Bawaan Uterus

Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Ketuban Pecah Dini

Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten, Hidramnion, kehamilan ganda, infeksi vagina dan serviks, dan lain-lain, infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Serviks Inkompeten

Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm , riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya inkompeten. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami konisasi, Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Kehamilan Ganda

Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek.

( Wiknjosastro et. al., 2002 : 313 )

<!–[if !supportLists]–>Penanganan Persalinan Pretern

Penanganan Umum

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.

Prinsip Penanganan.

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya.

( Saifuddin et.al., 2002 : 302 ).

<!–[if !supportLists]–>Kelahiran Prematur

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial.

Kantong ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Episiotomi mengurangi tekanan pada cranium bayi.

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan.

<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar.

<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Kelahiran presipitatus dan yang tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur.

<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran.

( Oxorn, 2003 : 588 ).

<!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Pencegahan Persalinan Preterm

Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Hal – hal yang dapat dicegah

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Menurunkan atau mengobati

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi.

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat.

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Hal – hal yang tidak dapat dicegah :

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Vaktor Ovum.

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Tempat insersi plasenta.

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Insersi tali pusat.

<!–[if !supportLists]–>5) <!–[endif]–>Plasenta previa.

<!–[if !supportLists]–>6) <!–[endif]–>Congenital anomaly.

<!–[if !supportLists]–>7) <!–[endif]–>Hamil ganda.

<!–[if !supportLists]–>8) <!–[endif]–>Suku bangsa.

<!–[if !supportLists]–>9) <!–[endif]–>Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan) ( Mochtar, 1998 : 220 ).

Categories: Persalinan Tags: , ,

Persalinan Kala I

April 20, 2008 14 comments

Pengertian Persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin atau uri) yang telah cukup bulan atau hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba, 1998).

Bentuk Persalinan

Bentuk persalinan berdasarkan definisi adalah sebagai berikut (Manuaba, 1998) :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Persalinan spontan, bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Persalinan buatan, bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Persalinan anjuran, bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan rangsangan.

Gambaran Perjalanan Persalinan

1. Tanda persalinan sudah dekat

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Terjadi lightening.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Terjadi his permulaan (palsu).

2. Tanda persalinan

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Terjadinya his persalinan.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Pengeluaran lendir dan darah (pembawa tanda).

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Pengeluaran cairan (ketuban pecah).

3. Pembagian Waktu persalinan

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Kala I : sampai pembukaan lengkap.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Kala II : pengeluaran janin (lahirnya bayi).

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Kala III : pengeluaran uri (lahirnya plasenta).

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Kala IV : observasi 2 jam (perdarahan postpartum).

Persalinan Kala 1

Persalinan kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kla pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih dapat berjalan-jalan. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve Friedmen, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam. Dengan perhitungan tersebut maka waktu pembukaan lengkap dapat diperkirakan (Manuaba, 1998).

Tanda-tanda persalinan kala I menurut Mochtar (2002) adalah

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Rasa sakit adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan kecil pada servik.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Terkadang ketuban pecah dengan sendirinya.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Servik mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement)

Fase-fase persalinan kala I adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2002) :

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Fase laten (Asuhan persalinan dasar : 2002) Fase laten (Asuhan persalinan dasar : 2002).

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan servik secara kurang dari 4 cm.

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Biasanya berlangsung di bawah hingga 8 jam.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Fase aktif

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat / memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Servik membuka dari 4 ke 10 cm biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap (10 cm).

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Dibagi dalam 3 fase : (Hanif Wiknjosastro : 1998).

<!–[if !supportLists]–>a). <!–[endif]–>Fase akselerasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.

<!–[if !supportLists]–>b). <!–[endif]–>Fase dilatasi maksimal. Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Fase deselerasi : pembukaan menjadi lambat kembali dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap..

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan servik secara kurang dari 4 cm.

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Biasanya berlangsung di bawah hingga 8 jam.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Fase aktif (Asuhan persalinan dasar : 2002)

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat / memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Servik membuka dari 4 ke 10 cm biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap (10 cm).

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Dibagi dalam 3 fase : (Hanif Wiknjosastro : 1998).

<!–[if !supportLists]–>a). <!–[endif]–>Fase akselerasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.

<!–[if !supportLists]–>b). <!–[endif]–>Fase dilatasi maksimal. Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.

<!–[if !supportLists]–>c). <!–[endif]–>Fase deselerasi : pembukaan menjadi lambat kembali dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.

Penatalaksanaan Persalinan Kala 1

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Menyiapkan Kelahiran

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi

Dimanapun persalinan dan kelahiran bayi terjadi, diperlukan hal sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Ruangan yang hangat dan bersih, memiliki sirkulasi udara yang baik dan terlindung dari tiupan angin.

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Sumber air bersih yang mengalir untuk cuci tangan dan mandi ibu sebelum dan sesudah melahirkan.

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Air desinfesi tingkat tinggi (air yang didihkan dan didinginkan) untuk membersihkan vulva dan perineum sebelum periksa dalam selama persalinan dan membersihkan perineum ibu setelah bayi lahir.

<!–[if !supportLists]–>d) <!–[endif]–>Air bersih dalam jumlah yang cukup, klorin, deterjen, kain pembersih, kain pel dan sarung tangan karet untuk membersihkan ruangan, lantai, perabotan, dekontaminasi dan proses peralatan.

<!–[if !supportLists]–>e) <!–[endif]–>Kamar mandi yang bersih untuk kebersihan pribadi ibu dan penolong persalinan.

<!–[if !supportLists]–>f) <!–[endif]–>Tempat yang lapang untuk ibu berjalan-jalan selama persalinan, melahirkan bayi dan memberikan asuhan bagi ibu dan bayinya setelah persalinan.

<!–[if !supportLists]–>g) <!–[endif]–>Penerangan yang cukup baik disiang maupun di malam hari.

<!–[if !supportLists]–>h) <!–[endif]–>Tempat tidur yang bersih untuk ibu.

<!–[if !supportLists]–>i) <!–[endif]–>Tempat yang bersih untuk memberikan asuhan bayi baru lahir.

<!–[if !supportLists]–>j) <!–[endif]–>Meja yang bersih atau tempat tertentu untuk menaruh peralatan persalinan.

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Menyiapkan perlengkapan, bahan dan obat yang dibutuhkan.

Daftar perlengkapan, bahan dan obat yang dibutuhkan untuk asuhan dasar persalinan dan kelahiran bayi adalah sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Partus set yang terdiri dari dua klem kelly atau dua klem kocher, gunting tali pusat, benang tali pusat atau klem plastik, kateter nelaton, gunting episotomi, alat pemecah selaput ketuban atau klem ½ kocher, dusa pasang sarung tangan DTT steril, kasa atau kain kecil, gulungan kapas basah menggunakan air DTT, tabung suntik 2 ½ atau 3 ml dengan larutan IM sekali pakai, kateter penghisap de lee (penghisap lendir) atau bola karet yang baru dan bersih, empat kain bersih, tiga handuk atau kain untuk mengeringkan dan menyelimuti bayi.

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Bahan terdiri dari partograf (halaman depan dan belakang), catatan kemajuan persalinan atau KMS ibu hamil, kertas kosong atau formulir rujukan, pena, termometer, pita pengukur, pinnards, fetoskop, doppler, jam yang mempunyai jarum detik, stetoskop, tensimeter, sarung tangan pemeriksaan bersih (lima pasang), sarung tangan DTT atau steril (lima pasang) larutan klorin atau klorin serbuk, perlengkapan pelindung pribadi, sabun cuci tangan, deterjen, sikat kuku dan gunting kuku, celemek plastik dan gaun oenutup, lembar plastik untuk alas tempat tidur saat persalinan, kantong plastik, sumber air bersih yg mengalir, wadah untuk larutan klorin, wadah untuk air DTT.

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Peralatan resusitasi bayi baru lahir yang terdiri dari balon resusitasi dan sungkup nomor 0 & 1, lampu sorot 60 watt.

<!–[if !supportLists]–>d) <!–[endif]–> Obat dan perlengkapan untuk asuhan rutin dan penatalaksanaan/penanganan penyulit yang terdiri dari 8 ampul oksitosin 1 ml 10 U (atau 4 ampul oksitosin 2 ml 10 U/ml), 20 ml Lidokain 1% tanpa epinefrin atau 10 Lidoksin 2% tanpa epinefrin dan air steril atau cairan garam fisiologis (NS) untuk pengenceran, tiga botol ringer laktat atau cairan garam fisiologis (NS) 500 ml, selang infus, dua kanula IV nomor 16 – 18 G, dua ampul metil ergometrin maleat, dua vial larutan magnesium sulfat 40% (25gr), enam tabung suntik (2 ½ – 3 ml) sekali pakai dengan jarum IM, 2 tabung suntik 5 ml steril sekali pakai dengan jarum IM, satu 10 ml tabung suntik steril sekali pakai dengan jarum IM ukuran 22 panjang 4 cm atau lebih, 10 kapsul/kaplet amoksilin/ampisilin 500 mg atau amoksilin/ampisilin IV 2 g.

<!–[if !supportLists]–>e) <!–[endif]–>Set jahit yang terdiri dari 1 tabung suntik 10 ml steril sekali pakai dengan jarum IM ukuran 22 panjang 4 cm atau lebih, pinset, pegangan jarum, 2-3 jarum jahir tajam ukuran 9 – 11, benang chromic sekali pakai ukuran 2.0 dan 3.0, satu pasang sarung tangan DTT atau steril, satu kain bersih.

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Menyiapkan Rujukan

Menkaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarganya. Jika perlu dirujuk disiapkan dan disertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan dan hasil penilaian yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Memberikan Asuhan Sayang Ibu

Asuhan sayang ibu selama persalinan termasuk, memberikan dukungan emosional, membantu pengaturan posisi, memberikan cairan dan nutrisi, keleluasaan ke kamar mandi secara teratur, pencegahan infeksi.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Pemeriksaan Fisik

Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kesehatan dan kenyamanan fisik ibu dan bayinya. Langkah yang dilakukan sebelum pemeriksaan fisik terdiri dari mencuci tangan sebelum pemeriksaan, bersikap lemah lembut dan sopan serta menentramkan, meminta ibu untuk mengosongkan kandung kemih, menilai kesehatan ibu secara umum, menilai tanda-tanda vital ibu.

Pemeriksaan yang harus dilakukan meliputi :

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Pemeriksaan abdomen bertujuan untuk menentukan tinggi fundus, memantau kontraksi uterus, memantau denyut jantung janin, menentukan presentasi dan menentukan penurunan bagian terbawah janin.

 

Gambar 1 Menentukan tinggi fundus

 

Gambar 2 Kepala sudah turun 2/5

 

Gambar 3 Kepala masih diatas pintu atas panggul = 5/5

Gambar 4 Kepala masih dapat diraba dengan 2 jari diatas pintu atas panggul

 

Gambar 5 Kepala masih dapat diraba dengan 5 jari diatas pintu atas panggul

 

Pemeriksaan dalam yang dilakukan dengan langkah, menutupi badan ibu, minta ibu berbaring terlentang, menggunakan sarung tangan DTT atau steril, menggunakan kas gulung atau kapas dicelupkan air DTT atau anti septik, memeriksa genitalia eksterna, menilai cairan vagina, memiisahkan labia dg jari manis, menilai vagina, menilai pembukaan & penipisan serviks, memastikan plasenta dan bagian2 kecil tdk teraba, menilai penurunan janin, jika kepala dapat dipalpasi menilai apakah kepala janin sesuai dengan jalan lahir, jika pemeriksaan sudah lengkap keluarkan jari pemeriksa dengan hati-hatin, cuci kedua tangan dan segera keringkan, membantu ibu mengambil posisi yg nyaman dan menjelaskan hasil pemeriksaan ke ibu & keluarga.

 

 

Categories: Persalinan Tags: , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 51 other followers