Mastitis

May 13, 2008

Definition

Mastitis is an infection of the breast. It usually only occurs in women who are breastfeeding their babies.

Description

Breastfeeding is the act of allowing a baby to suckle at the breast to drink the mother’s milk. In the process, unaccustomed to the vigorous pull and tug of the infant’s suck, the nipples may become sore, cracked, or irritated. This creates a tiny opening in the breast, through which bacteria can enter. The presence of milk, with high sugar content, gives the bacteria an excellent source of nutrition. Under these conditions, the bacteria are able to multiply, until they are plentiful enough to cause an infection within the breast.

Mastitis usually begins more than two to four weeks after delivery of the baby. It is a relatively uncommon complication of breastfeeding mothers, occurring in only approximately 3% to 5% of nursing women.

Causes and symptoms

The most common bacteria causing mastitis is called Staphylococcus aureus. In 25-30% of people, this bacteria is present on the skin lining normal, uninfected nostrils. It is probably this bacteria, clinging to the baby’s nostrils, that is available to create infection when an opportunity (crack in the nipple) presents itself.

Usually, only one breast is involved. An area of the affected breast becomes swollen, red, hard, and painful. Other symptoms of mastitis include fever, chills, and increased heart rate.

Diagnosis

Diagnosis involves obtaining a sample of breast milk from the infected breast. The milk is cultured, allowing colonies of bacteria to grow. The causative bacteria then can be specially prepared for identification under a microscope. At the same time, tests can be performed to determine what type of antibiotic would be most effective against that particular bacteria. Sometimes, women and their physicians confuse mastitis with breast engorgement, or the tenderness and redness that appears when milk builds up in the breasts. Mastitis often can be distinguished if symptoms are accompanied by fever.

Treatment

A number of antibiotics are used to treat mastitis, including cephalexin, amoxicillin, azithromycin, dicloxacillin, and clindamycin. Breastfeeding usually should be continued, because the rate of abscess formation (an abscess is a persistent pocket of pus) in the infected breast goes up steeply among women who stop breastfeeding during a bout with mastitis. Most practitioners allow women to take acetaminophen while nursing, to relieve both fever and pain. As always, breastfeeding women need to make sure that any medication they take is also safe for the baby, since almost all drugs they take appear in the breastmilk. Warm compresses applied to the affected breast can be soothing.

Prognosis

Prognosis for uncomplicated mastitis is excellent. About 10% of women with mastitis will end up with an abscess within the affected breast. An abscess is a collection of pus within the breast. This complication will require a surgical procedure to drain the pus.

Prevention

The most important aspect of prevention involves good handwashing to try to prevent the infant from acquiring the Staphylococcus aureus bacteria in the first place. Keeping the breast clean before breastfeeding also helps prevent infection. Keeping the breasts from becoming engorged may help prevent mastitis by preventing plugging of milk ducts.


Teknik Menyusui Pada Ibu Bekerja dan Teknik Memerah ASI

April 27, 2008
  1. Mulai menabung ASI 1 bulan sebelum kerja
  2. ASI dapat disimpan d idalam lemari es selama 3 hari dan dalam freezer selama 3 bulan
  3. Di tempatkerja, perahsetiap 3 jam
  4. Bawacooler boxASI yang belum diperah, tidakbasi

“Menyusui adalah hadiah yang sangat berharga  yang dapat diberikan oleh seorang ibu  pada bayinya.  Pada keadaan miskin, menyusui mungkin merupakan pemberian  satu-satunya, pada keadaan sakit menyusui dapat merupakan pemberian  yang menyelamatkan jiwanya”

Berilah ASI sejak dini, biarkan dia menemukan sendiri sumber kehidupannya

Teknik Memerah ASI

  1. Sebelumnya(sebaiknya) payudara dipijat dahulu
  2. Memutar dengan 3 jari tengah
  3. Menyisir dengan  jari-jari/ sisir (stroking)
  4. Cuci tangan
  5. Duduk/ berdiri dengan nyaman, penampung dekat payudara

  1. Jemari dan jempol di sisi areola; tekan kearah dalam mengarah ke dinding dada
  2. Pencet di belakang putting susu dan areola dengan jempol dan jemari
  3. Lakukan pula dari arah samping


Hubungan Seks Saat Menyusui

April 27, 2008

Disadur dari : Koran Sindo Minggu, 18/02/2007

BANYAK pasangan muda merasa kehidupan seksualnya berubah setelah mereka memiliki anak. Apalagi pada bulan-bulan pertama pascamelahirkan, kegiatan mengurus bayi dan menyusui membuat istri lebih banyak mencurahkan perhatian kepada si kecil dibandingkan suami.Apakah sebenarnya kegiatan menyusui dapat memengaruhi kegiatan seksual suami-istri? Masa pascamelahirkan mungkin menjadi masa sulit bagi pasangan suami-istri (pasutri) karena segera setelah si kecil lahir, mereka disibukkan dengan kebutuhan-kebutuhan sang buah hati selama 24 jam.

Waktu dan tenaga seakan tercurah hanya untuk si kecil sehingga sulit rasanya mencari waktu untuk memenuhi kebutuhan biologis. Beberapa bulan pertama setelah melahirkan, hormon pada diri wanita akan diprogram ulang untuk menyusui dan mengasuh bayi. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Divisi Uroginekologi, Departemen Obstetri dan Ginekologi, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo dr Budi Imam Santoso SpOG(K). Menurut Budi, secara fisik kondisi ibu pada masa pascamelahirkan masih mengalami kelelahan akibat proses kelahiran.

Ditambah dengan kegiatan menyusui bayi sekitar dua jam sekali setiap hari. Ibu menyusui sering tidak cukup istirahat,padahal menyusui memberi kesempatan ibu untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Isapan bayi saat menyusu akan membuat kelenjar pituitari di otak ibu mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon ini membuat ibu merasa rileks, dan kadang mengantuk sehingga biasanya ibu

bisa beristirahat dengan baik,sekalipun saat ia menyusui di malam hari. Kondisi ini tentunya sangat baik untuk membantu memulihkan tenaga ibu yang terkuras untuk persalinan. Sayangnya, ibu dan orangorang di sekitar ibu sering tidak menyadari hal ini.Tiap kali selesai menyusui, ibu bukannya beristirahat melainkan melakukan berbagai kegiatan yang menguras energi. Dengan demikian ibu menjadi sangat kelelahan dan tidak berminat melakukan hubungan intim. ”Pada prinsipnya tidak ada masalah untuk melakukan hubungan seksual setelah selesai masa nifas yaitu 40 hari. Hormon prolaktin tidak akan membuat ibu kehilangan gairah seksual,” ujar Budi.

Dia menambahkan, beragamnya perilaku seksual bisa terjadi pada ibu-ibu pascamelahirkan yang menyusui. Sebagian merasa tidak bergairah melakukan kegiatan seksual. Sisanya merasakan hasrat seksual yang tinggi. ”Intinya ialah permasalahan psikologis ibu untuk melakukan hubungan seksual jika memang ibu sudah tidak mengalami luka pascapersalinan, maka tidak masalah,”tegas dia. Budi menepis anggapan bahwa menyusui dapat menurunkan hormon-hormon tertentu yang berpengaruh pada gairah seksual. Umumnya, hormonhormon ibu akan kembali normal setelah proses persalinan. Hal senada diungkapkan Dr dr Dwiana Ocviyanti SpOG (K), staf pengajar Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM.

Dia mengungkapkan bahwa kegiatan seksual ibu pada masa menyusui pada dasarnya tergantung dari kondisi fisik. Jika ditelusuri lebih lanjut, ada dua macam penyebab yang mungkin menurunkan gairah seksual ibu pascamelahirkan. Penyebab secara langsung seperti luka pada persalinan normal atau operasi dan penyebab tidak langsung seperti depresi, babyblues,atau kelelahan ketika merawat bayi. (ririn sjafriani)