Woman | Caffeine | Cancer

May 8, 2008

The concern raised about caffeine and fibrocystic breast disease led to a concern about possible association between caffeine consumption and breast cancer. However, extensive research conducted to date has shown no association between caffeine consumption and the development of any cancer.

Breast Cancer

In 1990 researchers reviewed scientific data investigating caffeine and malignant breast tumors. Out of 11 studies reviewed, none established a significant link between caffeine intake and breast cancer incidence.

Specifically, three separate studies performed in Israel, the United States and France, analyzed the relationship of coffee consumption to breast cancer development. Each study respectively accounted for dietary intake, medical and reproductive history and frequency of coffee intake. The results of each investigation established no association between coffee consumption and breast cancer.

Furthermore, the 1986 NCI study on breast disease found no association between caffeine consumption and breast cancer. Interestingly, the NCI researchers noted that coffee drinkers had a slightly lower incidence of breast cancer. Patients with questions are advised to consult their health care provider.

Ovarian Cancer

In a thorough review of the research on caffeine’s relationship to ovarian cancer, no evidence indicated that caffeine consumption is a risk factor for ovarian cancer when known factors are taken into account. In fact, the International Agency for Research on Cancer (IARC) found there is inadequate evidence to suggest coffee drinking causes ovarian cancer.

Overall, the universal scientific research does not support a relationship between caffeine consumption and cancer. As a result, both the American Cancer Society and the National Academy of Sciences’ National Research Council report there is no convincing evidence relating caffeine to any type of cancer.


Rosella (Hibiscus Sabdariffa)

May 4, 2008

Plantologi Rosella (Hibiscus Sabdariffa)

Rosella memiliki lebih dari 300 spesies yang tersebar pada daerah tropis dan non tropis. Kebanyakan tanaman rosella dipergunakan sebagai tanaman hias dan beberapa diantaranya dipercaya memiliki kasiat medis, salah satu diantaranya adalah rosella merah atau rosella (Hibiscus Sabdariffa).

Rosella termasuk dalam keluarga Malvaceae yaitu tumbuhan semak tegak yang kebanyakan bercabang, memiliki bunga dan batang yang sewarna dan biasanya mencolok, memiliki daun berwarna hijau gelap sampai dengan merah, dan memiliki kulit dan batang yang berserat kuat. Bunga berwana merah sampai dengan kuning dengan warna gelap ditengahnya, dengan jumlah kelopak antara 3 – 7 buah. Bunga rosella memiliki putik sekaligus serbuk sari sehingga tidak memerlukan bunga lain untuk bereproduksi.

Rosella (Hibiscus Sabdariffa) dapat hidup di daerah yang memiliki iklim lembab dan hangat pada daerah tropis dan sub tropis. Rosella memiliki kelebihan dibandingkan dengan tanaman tropis dan sub tropis lainnya yaitu dapat bertahan dalam cuaca yang sangat dingin serta dapat hidup dalam ruangan yang memiliki sedikit pencahayaan akan tetapi pertumbuhan terbaik diperoleh pada ruang terbuka dengan cahaya matahari (Morton, 1987) dalam (Qi, et. al. 2005).

Kandungan Rosella (Hibiscus Sabdariffa)

Per 100 g, buah rosella 49 calories, 84.5% H2O, 1.9 g protein, 0.1 g fat, 12.3 g karbohidrat, 2.3 g serat, 1.2 g abu, 1.72 mg Ca, 57 mg P, 2.9 mg Fe, 300 mg setara b-carotene, dan 14 mg asam ascorbic. Per 100 g, daun mengandung 43 Kalori, 85.6% H2O, 3.3 g protein,0.3 g lemak, 9.2 g karbohidrat, 1.6 g serat, 1.6 g abu, 213 mg Ca, 93 mg P, 4.8 mg Fe, 4135 mg setara b-carotene, 0.17 mg thiamine, 0.45 mg riboflavin, 1.2 mg niacin, and 54 mg asam ascorbic. Per 100 g kelopak, mengandung 44 Kalori, 86.2% H2O, 1.6 g protein,O.l g lemak, 11.1 g karbohidrat, 2.5 g serat, 1.0 g abu, 160 mg Ca, 60 mg P, 3.8 mg Fe, 285 mg setara b-carotene, 0.04 mg thiamine, 0.6 mg riboflavin, 0.5 mg niacin, dan 14 mg asam ascorbic (Duke, 1984 dalam Purdue, 2008).

Dalam setiap 100 gr kelopaknya mengandung 7.6% moisture, 24.0% protein, 22.3% lemak, 15.3% serat, 23.8% N-free extract, 7.0% abu, 0.3% Ca, 0.6% P, dan 0.4% S. Ekstrak kelopaknyanya mengandung 0.7% lemak, 29.0% protein, and 32.9% N-free extract (Samy, 1980 Zeits Ernahungwiss. 19:47 dalam Purdue, 2008). Komponen asam amino yang terkandung dalam kelopak adalah lipids 2.1% myristic-, 35.2% palmitic-, 2.0% palmitoleic-, 3.4% stearic-, 34.0% oleic-, 14.4% linoleic-, 3 lemak tak jenuh HBr-reacting (cis-12, 13-epoxy-cis-9-octadecenoic (12,13-epoxoleic) 4.5%; sterculic, 2.9%; dan malvalic, 1.3%) (Ahmad et al. dalam Purdue,2008). Salama and Ibrahim (Planta Medica 36: 221. 1979) dalam Purdue (2008) melaporkan adanya sterols dalam minyak daun, 61.3% b-sitosterol, 16.5% campasterol, 5.1% cholesterol, dan 3.2% ergosterol.

Dalam 100 gram rosela kering menurut () mengandung sejumlah asam amino dan mineral yang diperlukan tubuh. Seperti protein 1,145 g, lemak 2, 61 g, serat 12,0 g, kalsium 1.263 mg, fosfor 273,2 mg, besi 8,98 mg, karoten 0,029 mg, tiamin 0,117 mg, riboflavin 0.277 mg, dan niasin 3,765 mg. Sedangkan asam lemaknya ada 18, seperti asam askorbat 6,7 mg, arginin 3,6 mg, sistein 1,3 mg, histidin 1,5 mg, isoleusin 3,0 mg, leusin 5,0 mg, lisin 3,9 mg metionin 1,0 mg, fenilalanin 3,2 mg, threonine 3,0 mg, tryptophan 2,2 mg, valine 3,8 mg, asam aspartat 16,3 mg, asam glutamat 7,2 mg, alanin 3,7 mg, glisin 3,8 mg, proline 5,6 mg, dan serin 3,5 mg.

Manfaat Rosella (Hibiscus Sabdariffa)

Sebelumnya nama rosela merah (Hibiscus sabdariffa) jarang dikenal orang lantaran kalah pamor dibanding dengan nama kenaf yaitu bahan untuk karung goni. Pada tahun 2006, dilakukan penelitian tentang manfaat medis dari rosela merah (Hibiscus sabdariffa) dan diperoleh hasil terdapat 1,7 mmmol/prolox antioksidan. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan kumis kucing yang antioksidannya teruji klinis meluruhkan batu ginjal. Itu diperoleh dengan menggerus 3 kuntum rosela menjadi 1,5 gram bubuk dan diberi air 200 ml. Lantas, hasilnya dimasukkan ke spektrofotometer (Nurfarida, 2006) dalam Fitriana (2008).

Radikal bebas yang dominan dalam rosela adalah antosianin. Antosianin berperan menjaga kerusakan sel akibat peyerapan sinar ultraviolet berlebih. Ia melindungi sel-sel tubuh dari perubahan akibat radikal bebas. Penelitian yang dilakukan oleh Lin (2000) dalam Fitriana (2008), menyebutkan bahwa delphinidin 3-sambubioside, antosianin rosela yang ampuh mengatasi kanker darah alias leukemia. Cara kerjanya dengan menghambat terjadinya kehilangan membran mitokondria dan pelepasan sitokrom dari mitokondria ke sitosol.

Khasiat rosela tak sebatas antikanker. Fungsi rosela sebagai antikejang otot diteliti Al (1998) dalam Fitriani (2008), injeksi 2,5 ml ekstrak gerusan 125 mg rosela kering terbukti menghambat kejang pada berbagai otot. Antara lain, otot aorta kelinci, otot rahim tikus, otot diafragma pada babi, dan perut rahim katak. Injeksi ekstrak rosela itu bagai anestesi. Sebab, tekanan darah langsung turun, kejang otot pun musnah. Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Essa (2005), hasil ekstrasi bunga rosella dapat menekan produksi thiobarbituric acid and reactive substances (TBARs) yang berfungsi sebagai katalisator dalam meningkatkan tekanan darah.

Wang (1998) dalam Fitriani (2008) menemukan ekstrak rosela kering melindungi liver tikus yang telah diinduksi carbon tetrachloride (CCl4), perusak hati.


Cara Mencegah Kanker Leher Rahim / Serviks

April 20, 2008

<!–[if gte mso 9]&gt; Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]–><!–[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]–>1. Menghindari berhubungan seksual pada usia muda

Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda

2. Membatasi jumlah anak (2 anak saja cukup)

Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.

3. Cukup satu pasangan saja

Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.

4. Hindari terinfeksi virus herpes

Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks

6.Menjaga  Hygiene dan sirkumsisi

Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.

7. Tidak Merokok dan Rajin Periksa Jika Menggunakan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.