Proses menua

May 5, 2008

Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua ( Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitifitas emosional meningkat dan kurang gairah.

Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya lanjut usia harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan :

1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial

2) Mampu melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat

(Rahardjo, 1996)

Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh Munandar Ashar Sunyoto ( 1994) menyebutkan masalah-masalah yang menyertai lansia yaitu :

1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain

2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupnya

3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau pindah

4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak

5) Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan perubahan fisik, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yan g mendasar adalhan perubahan gerak.

Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat, terkhir minta terhadap kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri lansia untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi tersebut diperlikan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya.

Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan yang diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonmi atau pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992).

Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri-ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia ( Hurlock, 1979) di kutip oleh Munandar (1994) adalah :

1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya

2) penarikan diri ke dalam dunia fantasi

3) Selalu mengingat kembali masa lalu

4) Selalu kwuatir karena pengangguran

5) Kurang ada motivasi

6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik

7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan

Dilain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah : Minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan memiliki kekuatiran minimal terhadap diri dan orang lain.


ORGASME - PSIKOLOGI DAN FISIOLOGI

April 30, 2008

Bangkitnya gairah seksual wanita dan orgasme merupakan proses yang kompleks yang melibatkan pikiran dan tubuh. Pikiran manusia menerima rangsangan seksual dari tubuh, memprosesnya dan berdasarkan pada pembelajaran terdahulu dan pengamalan menyebabkan tubuh meresponnya. Otak dapat mulai memproses gairah seks dalam respon pikiran (khayalan seksual), rangsangan secara visual (melihat pasangan yang telanjang), rangsangan yang dapat didengar (mendengar suara pasangan), rangsangan penciuman (bau dari tubuh pasangan), dan rasa (rasa tubuh pasangan). Tubuh mulai proses bangkitnya gairah sebagai hasil dari seorang wanita, atau pasangannya, menyentuh alat kelaminnya atau payudaranya, perasaan serasa udara mengalir melalui kulitnya yang terekspose, atau pakaiannya yang merangsang alat kelaminnya atau payudaranya. Pikiran dan tubuh selama dapat mengalami bangkitnya gairah seksual secara terpisah, tidak bisa mengalami orgasme secara terpisah. Orgasme membutuhkan keduanya, pikiran dan tubuh yang bekerja bersama-sama.

Orgasme mungkin lebih merupakan sebuah persepsi mental daripada sebuah pengalaman fisik bagi para wanita melebihi pria, sebagai hasil dari berbagai pelarangan seksual diberikan kepada wanita. Kemampuan seorang pria untuk mencapai ereksi dan ejakulasi merupakan sebuah simbol kejantanannya, gairah seksual seorang wanita dan kenikamatan seksual mungkin terlihat sebagai “diluar kontrol” dan “ceroboh”. Itu mungkin mengapa para wanita seringkali kurang mengalami orgasme daripada pria karena salah satunya karena harus berpura-pura bahwa keduanya sama-sama orgasme.

Ada dua perubahan secara phisik yang harus dialami tubuh jika seorang wanita mengalami orgasme. Yang pertama adalah “vasocongestion”, darah berkumpul dalam payudara dan alat kelamin. Hal ini mengakibatkan payudara dan alat kelamin menjadi lebih besar, tubuh merasa hangat atau panas untuk disentuh, perubahan warna payudara dan alat kelamin, dan pelumasan vagina. Yang kedua adalah “Myotonia” atau “ketegangan otot-otot syaraf (neuromuscular)”, terbentuknya energi/kekuatan dalam ujung-ujung syaraf dan otot-otot dari seluruh tubuh.

Beberapa wanita mungkin mengalami mytonia yang kuat karena merasakan penuh atau keeratan dalam tubuh anda sebelum orgasme, titik dimana tidak bisa kembali. Beberapa wanita tidak bisa membiarkan diri mereka sendiri lebih jauh, melepaskannya, dan oleh karena itu mereka tidak mengalami orgasme.

Berikut ini adalah tiga contoh impuls seksual wanita. Contoh 1 memperlihatkan orgasme berganda; contoh 2 memperlihatkan gairah yang mencapai level stabil tanpa terus mencapai orgasme dan contoh 3 memperlihatkan beberapa penurunana singkat dalam tahap perangsang diikuti sebuah tahap resolusi yang bahkan lebih cepat

Gambar Contoh Impuls Respon Seksual Pada 3 Jenis Orgasme

Para ahli seks telah memecahkan siklus respon tersebut ke dalam 4 tahapan, perangsangan, kondisi stabil, orgasme, dan resolusi. Definisi dari hal tersebut berubah-ubah dan seseorang mungkin tidak sadar atas apa yang dialami tubuh mereka pada setiap tahap. Lamanya waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengalami setiap tahap, dan bahkan urutan dari tiap tahapan mungkin bervariasi pada setiap orang. Seorang wanita yang sedang berkencan dapat mengalami gairah seksual beberapa kali, bahkan tanpa diketahuinya, tanpa pernah mengalami tahap stabil. Dia mungkin mengalami gairah seksual dan tahap stabil selama dia berdansa, tetapi kembali pada tahap tidak bergairah selama menuju ke rumah. Sekali di rumah dia dapat mengalami gairah secara cepat dan orgasme sebagai akibat dari perangsangan secara langsung pada alat kelamin tanpa mengalami tahap stabil. Cara di mana seseorang mengalami setiap tahapan adalah unik bagi mereka, dan bahkan hal ini akan berubah tergantung pada mood mereka dan bersama siapa mereka.

Gambar Kondisi Genital Internal dalam Siklus Respon Seksual

Bangkitnya gairah dapat disertai oleh respon-respon phisik dan mental dan atau rangsangan phisik:

* Dimulai dengan pelumasan vagina, dalam 10- 30 detik.

* 2/3 bagian dalam vagina membesar.

* Uterus (rahim) dan cervix ( mulut rahim ) tertarik ke atas.

* Labia majora menipis dan berpisah.

* Ukuran labia minora meningkat.

* Ukuran clitoris (kelentit) membesar.

* Puting susu menjadi tegak sebagai akibat dari kontraksi-kontraksi otot-otot.

* Saat berada pada gairah puncak, ukuran payudara dapat membesar.

Seperti yang disebutkan di atas, pelumasan vagina sebagai akibat dari vasocongestin pada dinding vagina. Cairan lembab “merembes” dari dinding vagina sebagai akibat meningkatnya darah yang terdorong ke sana. Proses ini disebut “Transudation”. Tetesan kecil dari cairan lembab terbentuk di dalam vagina sebagai akibat dari rembesan ini. Tetes-tetes cairan ini terkumpul bersama-sama dan mengalir keluar dari vagina, menyebabkan vulva menjadi lembab. Banyaknya, ketebalan, dan bau pelumas vagina wanita bervariasi di antara wanita satu dengan yang lainnya, dan dengan wanita yang sama tergantung pada banyak faktor, termasuk kondisi menstruasinya, dan apa yang telah dia makan. Adanya pelumasan vagina tidak menandakan bahwa seorang wanita betul-betul siap untuk melakukan hubungan intim, juga bukan berarti tidak adanya pelumasan menandakan dia tidak bergairah seksual. Beberapa wanita menghasilkan sedikit cairan lembab dan memerlukan penggunaan pelumas berbahan dasar air, seperti Jelly K-Y. (Penggunaan pelumas dengan bahan dasar petroleum bisa mengakibatkan infeksi vagina). Sementara hal itu sangat normal atau bersifat sementara, jika anda mengalami masalah dengan kekeringan vagina selama hubungan intim, periksalah ke dokter anda. Wanita yang lainnya menghasilkan begitu banyak cairan lembab sehingga mereka membasahi semuanya, yang mana dapat memalukan pada saat itu terjadi di tempat umum. Hal ini juga normal, dan ini hanya merupakan akibat dari berbagai variasi dalam tubuh wanita.

Gambar Perubahan Pada Vulva Selama Siklus Respon Seksual

Selama tahap stabil seorang wanita dapat mengalami:

1. Ditandai dengan peningkatan ketegangan seksual.

2. Peningkatan vasocongestion dalam vagina disebabkan 1/3 dari bagian luar vagina membengkak, menyebabkan ukuran lubang vagina menurun mungkin 30%.

3. 2/3 bagian dalam dari vagina menggembung. Seorang wanita bisa mengalami hasrat yang kuat untuk dipenuhi, rasa sakit pada vagina.

4. Jumlah pelumasan vagina bisa menurun selama tahap ini, khususnya jika diperpanjang.

5. Clitoris (kelentit) menjadi ereksi secara meningkat, kelenjar bergerak ke arah tulang panggul, menjadi lebih tersembunyi oleh bagian tudungnya.

6. Labia minora sangat meningkat ketebalannya, sekitar 2-3 kali.

7. Peningkatan ukuran labia bagian dalam bisa memisahkan labia bagian luar mengakibatkan lubang vagina menjadi lebih menonjol.

8. Warna labia minora berubah dari merah muda menjadi merah bagi wanita yang belum melahirkan, dari merah terang menjadi merah gelap pada wanita yang telah melahirkan. Warna yang sebenarnya bisa bervariasi, tetapi tidak ditandai perubahan warna.

9. Areola, daerah berwarna disekeliling puting susu menjadi membengkak.

10. Payudara, meningkat ukurannya 20-25% bagi wanita yang belum menyusui bayi, bagi wanita yang telah menyusui, kurang atau tidak ada peningkatan ukuran.

11. 50% -70% wanita mengalami “gejolak seks” pada dada mereka dan daerah tubuh lainnya akibat dari meningkatnya aliran darah dekat permukaan kulit.

12. Detak jantung meningkat, mungkin berdebar dengan jelas.

13. Adanya suatu tanda peningkatan dalam besarnya tegangan seksual pada paha dan pantat.

14. Tubuh seorang wanita sekarang secara penuh siap untuk melakukan hubungan intim melalui vagina.

Gambar Perubahan Payudara dalam Respon Siklus Seksual

Selama tahap orgasmik seorang wanita dapat mengalami:

  1. Kontraksi otot berirama terjadi di bagian 1/3 terluar dari vagina, uterus (rahim), dan anus. Kontraksi otot yang pertama adalah sangat kuat, dan terjadi dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dari ada 1 detik (0,8 detik). Ketika orgasme terus berlanjut, kontraksi menjadi kurang kuat dan terjadi pada kecepatan yang lebih jarang. Sebuah orgasme yang ringan bisa memiliki 3-5 kontraksi, orgasme yang kuat memiliki 10–15 kontraksi.
  2. “Gejolak seks” terjadi bahkan lebih jelas dan menutupi bagian tubuh yang lebih besar.
  3. Otot-otot diseluruh tubuh berkontraksi selama orgasme, bukan hanya yang berada di daerah pelvic (panggul).
  4. Orgasme juga berperan dalam otak, sebagaimana ditunjukkan dari oleh pengontrolan gelombang otak.
  5. Beberapa wanita akan mengeluarkan atau menyemprotkan cairan dari urethra mereka selama orgasme. Hal ini sering sekali disebut ejakulasi wanita. Sementara para pengamat masih mencari tahu apakah yang dikeluarkan itu merupakan urine atau ejakulasi wanita, sumber cairan tersebut tidaklah sangat penting, para wanita seringkali dilaporkan mengalami orgasme yang sangat kuat ketika hal itu terjadi. Itu semua betul-betul merupakan cara-cara, kesenangan wanita. Tidak seorang pun mempertanyakan ejakulasi pria, bahkan jika itu begitu kotor berbau.
  6. Myotonia jelas berubah diseluruh tubuh, khususnya dalam wajah, tangan, dan kaki. Ekpresi muka seorang wanita menandakan bahwa dia merasakan sakit saat dia sedang mengalami orgasme yang menyenangkan.
  7. Pada puncak orgasme seluruh tubuh menjadi kaku selama sesaat.

Depresi

April 19, 2008

<!–[if gte mso 9]&gt; Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]–><!–[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]–>Pengertian Depresi

Depresi merupakan salah satu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa tidak berharga, merasa kosong, dan tidak ada harapan, berpusat pada kegagalan dan menuduh diri, dan sering disertai iri dan pikiran bunuh diri, klien tidak berminat pada pemeliharaan

Diri dan aktivitas sehari-hari. (Kelliat, B.A, 1996)

Etiologi Depresi

Etiologi depresi yang pasti belum diketahui. Beberapa faktor yang diketahui berkaitan dengan terjadinya depresi:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Berbagai penyakit fisik

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Faktor psikis

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Faktor sosial dan lingkungan

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Faktor obat

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Faktor usia

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Faktor genetik

Depresi Sebagai Bagian dari Gangguan Alam Perasaan

Kelainan fundamental dan kelompok gangguan alam perasaan yang membedakan dengan kelompok gangguan kejiwaan lainnya adalah adanya perubahan suasana perasaan (mood), biasanya ke arah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau ke arah elasi. Perubahan efek ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktifitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut. (Muslim, 2001)

 

 

Tabel 2.3 Klasifikasi Gangguan Perasaan (mood) (Rusdi, Jakarta, 2001)

Kode

Jenis Gangguan Suasana Perasaan (mood)

F.32.

Episode depresi

F.32.0

Episode depresi ringan

F.32.00

Tanpa gejala somatik

F.32.01

Dengan gejala somatik

F.32.1

Episode depresi sedang

F.32.10

Tanpa gejala somatik

F.32.11

Dengan gejala somatik

F.32.2

Episode depresi berat tanpa gejala psikotik

F.32.3

Episode depresi berat dengan gejala psikotik

F.32.8

Episode depresi lainnya

F.32.9

Episode depresi yang tidak tergolongkan (unspecified)

F.33

Gangguan depresi berulang

F.33.0

Gangguan depresi berulang, episode kini ringan

F.33.00

Tanpa gejala somatik

F.33.01

Dengan gejala somatik

F.33.1

Gangguan depresi berulang, episode kini sedang

F.33.01

Tanpa gejala somatik

F.33.11

Dengan gejala somatik

F.33.2

Gangguan depresi berulang, episode kini berat tanpa gejala psikotik

F.33.3

Gangguan depresi berulang, episode kini berat dengan gejala psikotik

F.33.4

Gangguan depresi berulang, kini di atas remisi

F.33.8

Gangguan depresi berulang lainnya

F.33.9

Gangguan depresi berulang yang tidak tergolongkan (unspecified)

 

 

Gejala dan Penegakan Diagnosis Depresi

Untuk menegakkan diagnosa depresi seseorang, maka yang dipakai pedoman adalah ada tidaknya gejala utama dan gejala penyerta lainnya, lama gejaa yang muncul, dan ada tidaknya episode depresi ulang (Rusdi Maslim, 2001). Sebagaimana tersebut berikut ini :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Gejala utama pada derajat ringan, sedang dan berat

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Afek depresi

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Kehilangan minat dan kegembiraan

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan yang mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Gejala penyerta lainnya:

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Konsentrasi dan perhatian berkurang

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis

<!–[if !supportLists]–>5) <!–[endif]–>Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

<!–[if !supportLists]–>6) <!–[endif]–>Tidur terganggu

<!–[if !supportLists]–>7) <!–[endif]–>Nafsu makan berkurang

Untuk episode depresi dan ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.

 

Kategori diagnosis depresi ringan (F.32.0), sedang (F.32.1) dan berat (F.32.2) hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresi berikutnya harus diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis gangguan depresi berulang (F.33).

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Pedoman Diagnostik Episode Depresi Ringan

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama depresi seperti tersebut di atas

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu

<!–[if !supportLists]–>(4) <!–[endif]–>Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya.

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Pedoman Diagnostik Episode Depresi Sedang

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Ditambah sekurang-kurangnya 3 atau 4 dari gejala lainnya

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Lamanya seluruh episode berlangsung minimum 2 minggu

<!–[if !supportLists]–>(4) <!–[endif]–>Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan rumah tangga.

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Pedoman Diagnostik Episode Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Semua 3 gejala utama depresi harus ad

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Bila ada gejala penting (misal retardasi psikomotor) yang menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresi berat masih dapat dibenarkan.

<!–[if !supportLists]–>(4) <!–[endif]–>Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Pedoman Diagnostik Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik

Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut No. 3 di atas (F.32.2) tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau alfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.

Depresi sebagai Bagian dari Reaksi Kehilangan

Murray (1991) menyatakan bahwa kehilangan, berpisah dengan barang, orang, status, sesuatu yang dicintainya, atau tempat dimana ia berada adalah faktor pencetus terjadinya depresi. Kehilangan dapat berupa kehilangan yang nyata atau aktual ataupun yang dirasakan sementara ataupun menetap.

E. Kubler Ross (1998), menyatakan bahwa reaksi kehilangan ada 5 tahap, yaitu :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Deniel

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Anger

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Bergaining

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Depresi

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Accpetance

Istrumen Pemeriksaan Tingkat Depresi

Menurut Mengel dan Scwibert (2001), hingga saat ini belum ada preparat biokimia yang handal untuk pemeriksaan depresi yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat depresi seseorang.

Tingkat depresi dibagi menjadi empat tingkatan (Beck Depression Inventory):

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Skor <11 = Tidak ada depresi

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Skor 11-15 = Depresi ringan

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Skor 16-25 = Depresi sedang

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Skor > 25 = Depresi berar