Manajemen Obat


Fungsi utama kegiatan farmasi di rumah sakit adalah menyediakan obat bagi pasien, baik rawat jalan maupun rawat inap. Aspek penting dari fungsi ini adalah upaya menilai efektivitas dan keamanan obat yang diberikan serta interaksinya dengan modulasi pengobatan yang lainnya. Dalam hal ini sistem informasi yang baik akan amat membantu baik dalam penyediaan obat, pemberian obat dalam sistem unit dose, komunikasi antara dokter perawat dan petugas farmasi, mengurangi kerja rutin keadministrasian yang menyita waktu maupun dalam menyajikan data-data statistik yang akan amat berguna.

Di sebagian besar negara, manajemen obat masih dilakukan secara tradisonal. Artinya, tersedia lemari obat di bangsal yang selalu diisi oleh petugas farmasi sesuai permintaan perawat yang bekerja di bangsal itu. Hal ini menyebabkan tingginya angka pemberian obat (10 – 25%), desentralisasi suplai, buruknya kontrol inventori, manajemen obat tidak di tangan petugas farmasi yang kualisifikasinya lebih baik, pengawasan pemberian obat tidak efektif, dan tidak ada penanganan ahli farmasi klinik. Dengan cara tradisional ini, maka stok bisa mencapai 50 sampai 90 hari, yaitu 50% di gudang farmasi sentral dan 50% di bangsal – bangsal.

Penelitian menunjukkan bahwa kerugian akibat kesalahan pemberian obat sehingga menimbulkan efek samping dalam berbagai bentuknya pada satu rumah sakit dengan 800 tempat tidur adalah sekitar US$ 6 juta per tahunnya. Secara keseluruhan untuk seluruh Amerika Serikat, angka ini adalah US$ 136 miliar per tahunnya.

Karena itu diperkenalkan system unit dose yang prisnsipnya adalah :

1) Resep diserahkan kepada petugas farmasi

2) Petugas farmasi mempersiapkan obat untuk setiap pasien untuk satu kali makan obat

3) Petugas bangsal menerima obat untuk masing-masing pasien pada jadwal waktu yang ditentukan

4) Perawat membagi obat kepada pasien yang telah disiapkan oleh petugas farmasi

Sistem ini ternyata memberikan berbagai keuntungan, seperti turunnya biaya penanganan, peningkatan keamanan pemberian obat, lebih mudah dilakukan perhitungan biaya per pasien dan kuantifikasi dalam Diagnosis Releated Group (DRG), penurunan yang bermakna dari angka kesalahan pemberian obat, peningkatan efisiensi rumah sakit secara keseluruhan, integrasi tim farmasi dalam tim klinik serta kemampuan untuk menilai aspek farmakoterapi pada pasien (Aditama, 2006 : 103).

  1. lestari
    June 4, 2008 at 12:46 pm

    aduw….thanks…. saya sangat membutuhkan artikel ini……makasih yang tak terhingga

  2. creasoft
    June 5, 2008 at 4:10 am

    sama-sama

  3. ifha
    January 15, 2010 at 12:57 pm

    thank banget yah,,, artikel ini sangat membantu saya terutama dalam pembuatan proposal penelitianku tentang pelayanan obat di rumah sakit.

    • creasoft
      January 17, 2010 at 1:54 pm

      sama-sama..

  4. fahmi
    November 1, 2010 at 10:34 pm

    trims…….banyak atas artikelnya..

  5. okta
    February 20, 2011 at 3:23 am

    bisa bantu cariin artikel ttg ifrs beserta peranannya g?
    5ksh sblmny..
    note: u bs bls or kirim email di netiokta@gmail.com

  6. June 1, 2016 at 10:26 am

    We buy houses

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: