Home > Nutrisi > Karakteristik Daging

Karakteristik Daging


Daging didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produkhasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya (Soeparno 1998). Data dari Direktorat Jenderal Peternakan (2006) menunjukkan bahwa produksi daging sapi di Pulau Sumatera mengalami kenaikan dari tahun-ketahun.   Produksi daging sapi di Propinsi NAD pada tahun 2006 masuk posisi empatbesar di pulau Sumatera (Tabel 1). Data Dinas Peternakan Kabupaten Aceh  Besar tahun 2001 menunjukkan produksi daging sapi hampir 1.000 ton dan pada  tahun 2005 produksi daging sapi mengalami peningkatan menjadi 1.700 ton  dengan urutan produksi tiga besar di Propinsi NAD.

Lawrie (1991) mendefinisikan daging sebagai sesuatu yang berasal dari  hewan termasuk limpa, ginjal, otak serta jaringan lain yang dapat dimakan.  Soeparno (1998) menjelaskan lebih lanjut keadaan fisik daging dapat  dikelompokkan menjadi (1) daging segar yang dilayukan atau tanpa pelayuan,  (2) daging yang dilayukan kemudian didinginkan (daging dingin), (3) daging yang  dilayukan, didinginkan, kemudian dibekukan (daging beku), (4) daging masak, (5)  daging asap, dan (6) daging olahan.

Soeparno (1998) menyatakan bahwa karkas tersusun atas kurang lebih  enam ratus jenis otot yang berbeda ukuran dan bentuknya, susunan syaraf dan  persediaan darahnya serta perlekatannya pada bagian tulang dan tujuan serta  jenis geraknya. Karkas sapi dapat dilihat pada Gambar 1. Kesehatan daging  merupakan bagian yang penting bagi kesehatan makanan dan selalu menjadi  pokok permasalahan yang mendapatkan perhatian khusus dalam penyediaan  daging bagi konsumen.

Daging yang dapat dikonsumsi adalah daging yang berasal dari hewan  yang sehat. Saat penyembelihan dan pemasaran berada dalam pengawasan  petugas rumah potong hewan serta terbebas dari pencemaran mikroorganisme.  Secara fisik, kriteria atau ciri-ciri daging yang baik adalah berwarna merah segar,  berbau aromatis, memiliki konsistensi yang kenyal dan bila ditekan tidak terlalu  banyak mengeluarkan cairan.
Daging sebagai sumber protein hewani memiliki nilai hayati (biological  value) yang tinggi, mengandung 19% protein, 5% lemak, 70% air, 3,5% zat-zat  non protein dan 2,5% mineral dan bahan-bahan lainnya (Forrest et al. 1992).  Komposisi daging menurut Lawrie (1991) terdiri atas 75% air, 18% protein, 3,5%  lemak dan 3,5% zat-zat non protein yang dapat larut. Secara umum, komposisi  kimia daging terdiri atas 70% air, 20% protein, 9% lemak dan 1% abu. Jumlah ini  akan berubah bila hewan digemukkan yang akan menurunkan persentase air  dan protein serta meningkatkan persentase lemak (Romans et al. 1994).  Daging merupakan sumber utama untuk mendapatkan asam amino  esensial. Asam amino esensial terpenting di dalam otot segar adalah alanin,  glisin, asam glutamat, dan histidin. Daging sapi mengandung asam amino leusin,
lisin, dan valin yang lebih tinggi daripada daging babi atau domba. Pemanasan  dapat mempengaruhi kandungan protein daging. Daging sapi yang dipanaskan  pada suhu 70oC akan mengalami pengurangan jumlah lisin menjadi 90 persen,  sedangkan pemanasan pada suhu 160oC akan menurunkan jumlah lisin hingga 50 persen. Pengasapan dan penggaraman juga sedikit mengurangi kadar asam  amino (Lawrie 1991).

Kandungan lemak pada daging menentukan kualitas daging karena  lemak menentukan cita rasa dan aroma daging. Keragaman yang nyata pada  komposisi lemak terdapat antara jenis ternak memamah biak dan ternak tidak  memamah biak adalah karena adanya hidrogenasi oleh mikroorganisme rumen  (Soeparno 1998). Lawrie (1991) menyatakan lemak sapi kaya akan asam  stearat, asam palmitat dan asam oleat.  Protein daging terdiri dari protein sederhana dan protein terkonjugasi.
Berdasarkan asalnya protein dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu protein  sarkoplasma, protein miofibril, dan protein jaringan ikat. Protein sarkoplasma  adalah protein larut air karena umumnya dapat diekstrak oleh air dan larutan  garam encer. Protein miofibril terdiri atas aktin dan miosin, serta sejumlah kecil  troponin dan aktinin. Protein jaringan ikat ini memiliki sifat larut dalam larutan  garam. Protein jaringan ikat merupakan fraksi protein yang tidak larut, terdiri atas  protein kolagen, elastin, dan retikulin (Muchtadi & Sugiono 1992).

  1. GUNDALA WEJASENA
    December 1, 2008 at 9:03 am

    termakasih. semoga dengan tulisan ini anda mendapat pahala dari Allah

  2. aris
    April 4, 2010 at 1:24 am

    tidak ada daftar pustakanya….

  3. ikhwan
    May 3, 2010 at 3:56 am

    kurang direferensinya,?

  4. Anonymous
    October 20, 2011 at 5:00 am

    bagus, cm gak ada dapusx…

  5. December 7, 2012 at 7:34 am

    Secara fisik, kriteria atau ciri-ciri daging yang baik adalah berwarna merah segar, berbau aromatis, memiliki konsistensi yang kenyal dan bila ditekan tidak terlalu banyak mengeluarkan cairan.
    baguss ..

    terimakasih ,,
    semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk banyak orang ..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: