Home > Uncategorized > Elaboration Likelihood Model (ELM)

Elaboration Likelihood Model (ELM)


Model ini dikemukakan oleh Richard Petty & John Cacioppo (1986) yang menyatakan bahwa proses perubahan sikap perlu mempertimbangkan faktor pemediasi dari proses persuasi, yaitu bobot (valence) dan jumlah pesan yang berkaitan dengan respon kognitif. Oleh karena itu, proses elaborasi yang berkaitan dengan
kesesuaian objek sikap dengan informasi yang sudah dimiliki oleh individu menjadi langkah yang amat penting. Keunggulan model ini ada pada langkah-langkah yang digunakan dalam memandang persuasi, yaitu (a) menemukan kondisi persuasi yang perlu dimediasi oleh pemikiran yang berhubungan dengan pesan (specifies the conditions under which persuasion shoud be mediated by message-related thinking) dan (b) mempostulatkan bahwa mekanisme pheriperal alternatif dapat diterapkan terhadap persuasi apabila kondisi yang disyaratkan tidak dapat terpenuhi.
Petty & Cacioppo mengemukakan ada 7 postulat mengenai sikap,
yaitu: (1) Manusia sesungguhnya mempunyai dorongan untuk penganut sikap yang benar, (2) Walaupun manusia ingin menganut sikap yang benar, jumlah isu relevan yang dibutuhkan individu untuk mengevaluasi
pesan yang berkaitan dengan sikap, bervariasi antara individu. Dalam hal ini motivasi dan kemampuan individu akan sangat menentukan. (3) Variabel-variabel yang mempengaruhi jumlah dan arah sikap dapat berupa: argumen-argumen persuasif, pheriperal cues, dan motivasi dan kemampuan individu. (4) Variabel mempengaruhi motivasi dan kemampuan dalam memproses pesan yang dapat mempengaruhi keinginan merubah sikap, baik ke arah positif maupun negatif. (5) Bila motivasi menurun dibutuhkan peripheral cues, sebaliknya bila motivasi
meningkat maka peripheral cues sudah tidak dibutuhkan lagi, (6) Variabel-variabel yang mempengaruhi proses pembentukan sikap akan berdampak negatif atau positif terhadap motivasi, dan (7) perubahan sikap yang dihasilkan dari proses argumentasi yang relevan dengan topik akan memberikan dampak perubahan yang lebih dapat memprediksi perilaku daripada perubahan sikap yang diperoleh daripada peripheral cues. Apabila individu menerima pesan dalam keadaan nyaman (non-distracting) maka pesan akan dihantarkan melewati central route persuasion sehingga akan lebih kuat. Sebaliknya, apabila pesan diterima pada keadaan yang tidak nyaman (distracting) atau tidak relevan dengan individu maka pesan akan dihantarkan melalui pheriperal route persuasion yang sifatnya lebih lemah daripada central route persuasion. Salah satu faktor yang menentukan kesiapan individu dalam menerima pesan adalah kejelasan informasi yang diterima. Penelitian yang dilakukan oleh Fabrigar, et.al., (2006) menyatakan bahwa jumlah informasi atau luasnya knowledge yang dimiliki individu sebelumnya mengenai objek sikap menentukan kekuatan perubahan sikap yang dialami individu

Categories: Uncategorized Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: