Home > Uncategorized > Pemahaman terhadap argumentasi persuasif

Pemahaman terhadap argumentasi persuasif


Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh McGuire (dalam Eagly & Chaiken 1993) yang sangat dipengaruhi oleh pendapat Hovland, et.all. (1953) mengenai fase-fase pemrosesan informasi. Menurut McGuire, pemahaman individu terhadap pesan terjadi melalui tahap-tahap sebagai berikut, yaitu (a) perhatian
terhadap pesan, (b) pemahaman terhadap isi pesan, dan (c) penerimaan terhadap kesimpulan. Dalam melakukan komunikasi persuasif, ketiga faktor tersebut merupakan rangkaian, yang baik secara langsung (penerimaan terhadap objek sikap) maupun tidak langsung berpengaruh terhadap perhatian individu pada isi pesan atau informasi mengenai objek sikap dan pemahaman terhadap informasi mengenai objek sikap. Dengan demikian, dalam mempengaruhi orang lain, seorang komunikator harus memfokuskan perhatian mereka menjadi bagian yang sangat penting agar isi pesan dapat dipahami oleh pendengar, kemudian menyetujui kesimpulan pesan yang disampaikan. Untuk mencapai tujuan ini, komunikator haruslah seorang yang mampu membuat individu tertarik, dan secara sukarela meluangkan perhatiannya untuk memahami isi pesan.
Hovland & Weiss, 1951) mengemukakan bahwa orang akan lebih tertarik untuk mendengarkan pesan yang disampaikan seorang pakar daripada orang awam karena seorang pakar lebih dipercaya karena keahlian yang dimilikinya (expertise).
Masih berkaitan dengan proses kognitif yang terlibat dalam pembentukan dan perubahan sikap, McGuire (1960) mengemukakan konsep information-processing paradigm bahwa sikap dapat terbentuk melalui 6 langkah, yaitu objek sikap harus disajikan (a. Presentation) terlebih dahulu kepada individu. Apabila presentasi dilakukan dengan tepat dan menarik maka individu akan tertarik (b. Attention) terhadap objek sikap. Objek sikap yang disajikan dengan baik, menyebabkan individu bersedia secara sukarela mencurahkan perhatiannya, sehingga pemahaman (c. Comprehension) terhadap isi pesan akan lebih mudah dilakukan. Dalam belajar juga dikenalkan prinsip fun learning yang mampu melipat gandakan hasil belajar. Apabila isi pesan terkait objek sikap tersebut dipahami, tidak ada alasan bagi individu untuk menolak (d. Yielding). Pada saat ini benih sikap potensial terbentuk pada individu. Satu proses lagi yang dibutuhkan yaitu memperkuat dan memelihara agar pemahaman itu bertahan (e. Retention) sebelum akhirnya terwujud dalam perilaku (f. Behavior)

Categories: Uncategorized Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: