Kontrasepsi The lactational amenorrhea method (LAM)

April 18, 2008

Memberikan ASI ( Laktasi ) dan Pencegahan Kehamilan?

Biasanya Ibu yang memberikan ASI (lakstasi) akan mengalami keterlambatan untuk kembali mendapatkan menstruasinya.

Metode LAM – The lactational amenorrhea method (LAM) adalah salah satu teknik Kontrasepsi atau KB alamiah yang didasarkan pada Ibu memberikan ASI ekslusif akan menyebabkan tidak mendapatkan menstruasi.

Penelitian menyatakan bahwa wanita yang memberikan bayinya ASI secara ekslusif dan belum mendapatkan menstruasinya maka biasanya tidak akan mengalami kehamilan selama masa 6 bulan setelah melahirkan.

Bagaimana cara kerja ASI sebagai kontrasepsi ?

ASI berhubungan dengan pelepasan hormon -hormon yang diperlukan untuk merangsang terjadinya ovulasi, sehingga semakin sering seorang ibu menyusui bayinya (ASI ) maka semakin berkurang untuk terjadinya ovulasi.

Di luar negri karena kebiasaan memberikan ASI masih kurang dan biasanya mereka tidak memberikan ASI dalam jangka waktu lama, maka biasanya para ibu yang memberikan ASI ini akan menkombinasikan dengan metode kontrasepsi lainnya seperti kondom, IUD atau pil progestin / minipil ( pil untuk ibu menyusui).

Dan tentu saja para ibu yang memberikan ASI kepada bayinya akan merasa lebih aman dengan mengetahui bahwa kombinasi dari ASI ekslusif dengan metode kontrasepsi lainnya memberikan perlindungan yang lebih aman dibanding satu metode kontrasepsi saja.

Seberapa Efektif kah Laktasi / Pemberian ASI memberi perlindungan untuk pencegahan kehamilan?

Jika seorang ibu memberikan ASI kepada bayinya sesuai dengan semua criteria LAM, maka kemungkinan ibu untuk hamil dalam 6 bulan pertama setelah melahirkan hanya kurang dari 2 %. Bagaimanapun, untuk kebanyakan wanita, 1 dari 50 kemungkinan untuk terjadinya kehamilan yang tak terduga lebih besar resikonua dibanding mereka yang mengkombinasikan pemberian ASI / laktasi dengan metode kontrasepsi lainnya.

Metode barrier / pelindungan (seperti kondom atau diaphragma), IUD, dan kontreasepsi dengan pil untuk ibu menyusui (mini pil atau pil progestin) sangat cocok sebagai kontrasepsi untuk Ibu yang memberikan ASI.

Satu hal yang pasti Metode LAM tidak memberikan perlindungan apapun terhadap penyakit seksual menular. Jadi bila anda mempunyai resiko dengan Penyakit seksual menular, sebaiknya anda mneggunakan kondom.

Kriteria seorang ibu menggunakan Metode LAM:

Seorang ibu dinyatakan menggunakan metode LAM (Lactational Amenorrhoe Methode) / Cara KB melalui PEMBERIAN ASI secara ekslusif., bila memenuhi beberapa criteria dibawah ini:

- Seorang ibu memberikan ASI secara ekslusif , yang artinya semua kebutuhan susu hanya berasal dari ASI. Ibu memberikan ASI kepada bayinya setiap dibutuhkan baik siang dan malam, dan memberikan ASI setiap 4 jam pada siang hari dan setiap 6 jam pada malam hari. Menyusui bayi secara ekslusif ( bayi belum mendapatkan makanan tambahan).

- Ibu BELUM mendapatkan Menstruasi. Sekali ibu sudah mendapatkan menstruasi, itu menandakan bahwa ibu sudah memulai proses ovulasi ( sel telur matang) kembali.

- Bayi belum berumur 6 bulan. Walaupun pada beberapa wanita tetap tidak mendapatkan menstruasi untuk beberapa bulan, dan memang tidak dapat diperkirakan kapan menstruasi akan terjadi.

Oleh karena wanita biasanya mengalami ovulasi sebelum mereka mendapatkan menstruasi, maka terdapat resiko ibu dapat mengalami kehamilan kembali sebelum menstruasi mulai kembali.

Dan pada beberapa kasus, kehamilan dapat tetap terjadi meskipun ibu memberikan ASI ekslusif, yang artinya LAM tidak efektif 100 %, tetapi memang seorang ibu yang memberikan ASI Ekslusif akan menjadi lebih tidak subur selama 6 bulan pertama setelah melahirkan.

Untuk ASI yang dipompa apakah Ibu dapat menggunakan metode LAM ?

TIdak. Karena isapan dari bayi pada putting susu mempunyai peranan penting dalam menekan ovulasi dan mengeluarkan ASI dengan memompa tidak seefektif isapan dari bayi.

Tips:

Berikan Asi sesering mungkin, karena semakin sering Ibu memberikan ASI dan jarak menyusui yang semakin dekat, adalah terbaik untuk metode LAM ini.

Ibu yang kembali bekerja dan berpisah dengan bayinya sebaiknya perlu untuk mengunakan metode kontrasepsi lainnya untuk melindungi dari kehamilan.

Ibu yang sudah mendapatkan menstruasi pertamanya setelah melahirkan sebaiknya menggunakan metode kontrasepsi lainnya untuk menlindungi dari kehamilan.

Bila bayi sudah mulai mendapatkan tambahan makanan lainnya, atau bayi sudah berusia 6 bulan, sebaiknya perlu untuk mengunakan metode kontrasepsi lainnya untuk melindungi dari kehamilan.

Bicarakanlah dengan dokter atau tenaga medis anda, untuk mendapatkan informasi tentang kontrasepsi yang sesuai untuk anda.

© Dr. Suririnah -www.infoibu.com


Konseling

April 17, 2008

1. Definisi Konseling

Konseling adalah kegiatan percakapan tatap muka dua arah antara klien dengan petugas yang bertujuan memberikan bantuan mengenai berbagai hal yang ada kaitannya dengan pemilihan kontrasepsi, sehingga akhirnya calon peserta KB mampu mengambil keputusan sendiri mengenai alat/metode kontrasepsi apa yang terbaik bagi dirinya (Sheilla, 2006).

Konseling adalah proses komunikasi antara seseorang (konselor) dengan orang lain. (Depkes RI, 2000).

Konseling adalah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan paduan ketrampilan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar/ upaya untuk mengatasi masalah tersebut (Saifuddin, 2001).

Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan klien (Lukman, 2002).

2. Tujuan Konseling

Membantu klien melihat permasalahannya supaya lebih jelas sehingga klien dapat memilih sendiri jalan keluarnya (Fitriasari, 2006).

Dengan melakukan konseling kontap yang baik maka klien dapat menentukan pilihan kontrasepsinya dengan mantap sesuai dengan keinginan mereka sendiri dan tidak akan menyesali keputusan yang telah diambilnya di kemudian hari (Sheilla, 2006).

Konseling yang baik meningkatkan keberhasilan KB dan membuat klien menggunakan kontrasepsi lebih lama serta mencerminkan baiknya kualitas pelayanan yang diberikan (Sheilla, 2006).

3. Tahapan Konseling Kontrasepsi

Menurut Suyono (2004) tahapan konseling tentang kontrasepsi meliputi :

a. Konseling Awal

Konseling awal adalah konseling yang dilakukan pertama kali sebelum dilakukan konseling spesifik. Biasanya dilakukan oleh petugas KB lapangan (PLKB) yang telah mendapatkan pelatihan tentang konseling kontap pria. Dalam konseling awal umumnya diberikan gambaran umum tentang kontrasepsi.

Walaupun secara umum tetapi penjelasannya harus tetap obyektif baik keunggulan maupun keterbatasan sebuah alat kontrasepsi dibandingkan dengan metode kontrasepsi lainnya, syarat bagi pengguna kontrasepsi serta komplikasi dan angka kegagalan yang mungkin terjadi.

Pastikan klien mengenali dan mengerti tentang keputusannya untuk menunda atau menghentikan fungsi reproduksinya dan mengerti berbagai risiko yang mungkin terjadi.

Apabila klien dan pasangannya telah tertarik dan ingin mengetahui lebih lanjut tentang alat kontrasepsi, dirujuk pada tempat pelayanan kontrasepsi untuk tahapan konseling spesifik.

b. Konseling Spesifik

Konseling spesifik dilakukan setelah konseling pendahuluan. Dalam tahap ini konseling lebih ditekankan pada aspek individual dan privasi. Pada konseling spesifik yang bertugas sebagai konselor adalah petugas konselor, para dokter, perawat dan bidan. Konselor harus mendengarkan semua masukan dari klien tanpa disela dengan pendapat atau penjelasan konselor. Setelah semua informasi dari klien tanpa disela penjelasan konselor.

Setelah semua informasi dari klien terkumpul maka lakukan pengelompokan dan penyaringan, kemudian berikan informasi yang tepat dan jelas untuk menghilangkan keraguan, kesalahpahaman. Berbagai penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan rasional sangat membantu klien mempercayai konselor serta informasi yang disampaikan. Di samping itu klien dapat mengambil keputusan tanpa tekanan dan berdasarkan informasi yang benar.

c. Konseling Pra Tindakan

Konseling pra tindakan adalah konseling yang dilakukan pada saat akan dilakukan prosedur penggunaan kontrasepsi. Pada konseling pra tindakan yang bertindak sebagai konselor adalah dokter, operator petugas medis yang melakukan tindakan. Tujuan konseling ini untuk mengkaji ulang pilihan terhadap kontrasepsi, menilai tingkat kemampuan klien untuk menghentikan infertilitas, evaluasi proses konseling sebelumnya, melihat tahapan dari persetujuan tindakan medis dan informasi tentang prosedur yang akan dilaksanakan.

d. Konseling Pasca Tindakan

Konseling pasca tindakan adalah konseling yang dilakukan setelah tindakan selesai dilaksanakan. Tujuannya untuk menanyakan kepada klien bila ada keluhan yang mungkin dirasakan setelah tindakan, lalu berusaha menjelaskan terjadinya keluhan tersebut, memberikan penjelasan kepada klien atau mengingatkan klien tentang perlunya persyaratan tertentu yang harus dipenuhi agar kontrasepsi efektif misalnya pada kontrasepsi vasektomi perlu penggunaan kondom selama 20 kali ejakulasi setelah divasektomi.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Konseling

a. Faktor Individual

Orientasi cultural (keterikatan budaya) merupakan factor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari :

1) Faktor Fisik

Kepekaan panca indera pasien yang diberi konseling akan sangat mempengaruhi kemampuan dalam menangkap informasi yang disampaikan konselor.

2) Sudut Pandang

Nilai-nilai yang diyakini oleh pasien sebagai hasil olah pikirannya terhadap budaya dan pendidikan akan mempengaruhi pemahamannya tentang materi yang dikonselingkan.

3) Kondisi Sosial

Status sosial dan keadaan disekitar pasien akan memberikan pengaruh dalam memahami materi.

4) Bahasa

Kesamaan bahasa yang digunakan dalam proses konseling juga akan mempengaruhi pemahaman pasien.

b. Faktor-faktor yang berkaitan dengan interaksi

Tujuan dan harapan terhadap komunikasi, sikap terhadap interaksi, pembawaan diri seseorang terhadap orang lain (seperti kehangatan, perhatian, dukungan) serta sejarah hubungan antara konselor dan asien akan mempengaruhi kesuksesan proses konseling.

c. Faktor Situasional

Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan kesehatan antara bidan dan klien akan berbeda dengan situasi percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas.

d. Kompetensi dalam melakukan percakapan

Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten dari kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah :

1) Kegagalan menyampaikan informasi penting.

2) Perpindahan topik bicara yang tidak lancar.

3) Salah pengertian.


Efek Samping AKDR

April 15, 2008

A. Spoting

Keluarnya bercak-bercak darah diantara siklus menstruasi, spoting akan muncul jika capek dan stress. Perempuan yang aktif sering mengalami spotting jika menggunakan kontrasepsi AKDR (Republika, 2007).

B. Perubahan Siklus Menstruasi

Setelah pemasangan AKDR siklus menstruasi menjadi lebih pendek. Siklus menstruasi yang muncul lebih cepat dari siklus normal rata-rata yaitu 28 hari dengan lama haid 3 – 7 hari, biasanya siklus haid berubah menjadi 21 hari.

C. Amenore

Tidak didapat tanda haid selama 3 bulan atau lebih. Penanganan efek samping amenore adalah memeriksa apakah sedang hamil, apabila tidak, AKDR tidak dilepas, memberi konseling dan menyelidiki penyebab amenorea apabila dikehendaki. Apabila hamil, dijelaskan dan disarankan untuk melepas AKDR apabila talinya terlihat dan kehamilan kurang dari 13 minggu. Apabila benang tidak terlihat, atau kehamilan lebih dari 13 minggu, AKDR tidak dilepas. Apabila klien sedang hamil dan ingin mempertahankan kehamilan tanpa melepas AKDR maka dijelaskan adanya resiko kemungkinan terjadinya kegagalan kehamilan dan infeksi serta perkembangan kehamilan harus lebih diamati dan diperhatikan.

D. Dismenorhea

Munculnya rasa sakit menstruasi tanpa penyebab organik. Untuk penanganan dismenorhe adalah memastikan dan menegaskan adanya penyakit radang panggul (PRP) dan penyebab lain dari kekejangan. Menaggulangi penyebabnya apabila ditemukan. Apabila tidak ditemukan penyebabnya diberi analgesik untuk sedikit meringankan. Apabila klien mengalami kejang yang berat, AKDR dilepas dan membantu klien menentukan metode kontrasepsi yang lain.

E. Menorrhagea

Perdarahan berat secara eksesif selama masa haid atau menstruasi. Memastikan dan menegaskan adanya infeksi pelvik dan kehamilan ektopik. Apabila tidak ada kelainan patologis, perdarahan bekelanjutan serta perdarahan hebat, melakukan konseling dan pemantauan. Memberi Ibuprofen (800mg, 3 x sehari selama 1 minggu) untuk mengurangi perdarahan dan memberikan tablet besi (1 tablet setiap hari selama 1-3 bulan). AKDR memungkinkan dilepas apabila klien menghendaki. Apabila klien telah memakai AKDR selama lebh dari 3 bulan dan diketahui menderita anemi (Hb <7g/%) dianjurkan untuk melepas AKDR dan membantu memilih metode lain yang sesuai.

F. Fluor Albus

Penggunaan AKDR akan memicu rekurensi vaginosis bacterial yaitu keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang disebabkan bertambahnya pertumbuhan flora vagina bakteri anaerob menggantikan Lactobacillus yang mempunyai konsentrasi tinggi sebagai flora normal vagina.

G. Pendarahan Post Seksual

Pendarahan post seksual ini disebabkan karena posisi benang AKDR yang menggesek mulut rahim atau dinding vagina sehingga menimbulkan pendarahan, akan tetapi pendarahan yang muncul ini jumlahnya hanya sedikit, pada beberapa kasus efek samping ini menjadi pembenar bagi akseptor untuk melakukan drop out, terutama disebabkan dorongan yang salah dari suami.


Alat Kontrasepsi Dalam Rahim

April 15, 2008


A. Pengertian AKDR

AKDR adalah alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim (Hartanto, 2004). Di mana AKDR terdiri dari bermacam-macam bentuk, terdiri dari plastik (polietiline), ada yang di lilit tembaga (Cu), ada pula yang tidak. Tetapi ada pula yang di lilit tembaga bercampur perak (Ag). Selain itu ada pula yang batangnya berisi hormon progesterone.

B. Mekanisme Kerja AKDR

Mekanisme kerja yang pasti dari AKDR belum diketahui, namun ada beberapa mekanisme kerja yang telah diajukan:

a. Timbulnya reaksi radang lokal yang non-spesifik di dalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu.

b. Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi.

c. Gangguan / terlepasnya blastocyst yang telah berimplantasi di dalam endometrium.

d. Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba fallopi.

e. Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri.

f. Dari penelitian terakhir, disangka bahwa AKDR juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur (mencegah fertilisasi).

g. Untuk AKDR yang mengandung Cu :

1) Antagoisme kationic yang spesifik terhadap Zn yang terdapat dalam enzim carbonic anhydrase yaitu salah satu enzim dalam traktus genitalia wanita, dimana Cu menghambat reaksi carbonic anhydrase sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin juga menghambat aktivitas alkali phospatase.

2) Mengganggu pengambilan estrogen endogenous oleh mucosa uterus.

3) Mengganggu jumlah DNA dalam sel endometrium.

4) Mengganggu metabolisme glikogen.

h. Untuk AKDR yang mengandung hormon progesterone :

1) Gangguan proses pematangan proliteratif –sekretoir sehingga timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi (endometrium tetap berada dalam fase decidual/ progestational).

2) Lendir serviks yang menjadi lebih kental/ tebal karena pengaruh progestin.

(Saifuddin, et. al., 2003).

C. Macam - Macam AKDR

a. Un-Medicated AKDR

Lippes Loop - AKDR yang terbuat dari polyethylene (suatu plastik inert secara biologik) ditambah Barium Sulfat.


b. Medicated AKDR

Cooper AKDR - AKDR dengan penambahan selubung Cu yang padat, dimaksudkan untuk memperbesar luas permukaan Cu di dalam uterus dan untuk lebih mendekatkan Cu pada fundus uteri.

(Hartanto, 2004)

D. Prosedur Insersi AKDR

a. Pemberian analgetika dan sedative bila diperlukan.

b. Pasangan speculum dalam vagina dan perhatikan serviks serta dinding-dinding vagina.

c. Bila mungkin terjadi, kerjakan papanicolauo smear dan pemeriksaan bakteriologis terhadap Gonorrhoe.

d. Lakukan pemeriksaan dalam bimanual untuk menentukan besar, bentuk, posisi dan mobilitas uterus, serta untuk menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan adanya infeksi atau keganasan dari organ-organ sekitarnya.

e. Pasang kembali speculum dalam vagina, dan lakukan desinfeksi endoserviks dan dinding vagina.

f. Pasang tenakulum pada bibir serviks atas, lakukan tarikan ringan padanya untuk meluruskan dan menstabilkan uterus. Ini akan mengurangi perdarahan dan resiko perforasi.

g. Lakukan sondage uterus.

h. Masukkan AKDR sesuai dengan macam alatnya.

Lepaskan AKDR dalam bidang transverse dari cavum uteri pada posisi setinggi mungkin di fundus uteri. Bila terasa ada tahanan sebelum mencapai fundus, jangan dipaksakan, keluarkan alatnya dan lakukan re-insersi.

i. Keluarkan tabung inserternya.

j. Periksa dan gunting benang ekor AKDR sampai 2-3 cm dari ostium uteri eksternum.

k. Keluarkan tenakulum dan spekulum

AKDR jangan dibiarkan lebih lama dari 2 menit di dalam tabung insersinya, karena ia akan kehilangan bentuknya (terutama untuk lipess loop).

(Saifuddin, et. al., 2003).

E. Efek Samping AKDR

a. Saat Insersi

Rasa sakit/nyeri, muntah, keringat dingin dan syncope, serta perforasi uterus.

b. Setelah Insersi

Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan), haid lebih lama dan banyak, dan perdarahan (spotting) antar menstruasi dan saat haid lebih sakit.

F. Komplikasi AKDR

Komplikasi pemakaian AKDR yang sering muncul yaitu AKDR tertanam dalam-dalam di endometrium atau miometrium (embedding, displacement) dan infeksi (Hartanto, 2004).

G. Tindakan Diagnostik Persangkaan Perforasi AKDR menurut Hartanto (2004) adalah :

Tentukan ada tidaknya kehamilan ?

a. Ada kehamilan : periksa dengan Ultrasonografi

b. Tidak ada kehamilan :

1) Lakukan sondage cavum uteri

2) Sondage positif : AKDR intra –uterine

3) Sondage negatif :

a) X-foto pelvis (AP dan Lateral) dengan sonde in- utero, atau masukan AKDR macam lain intra –uterine.

b) Histerografi

c) Histeroskopi

d) Ultrasonografi

H. Penanggulangan Perforasi AKDR menurut Hartanto (2004) :

a. Perforasi partial : keluarkan AKDR

b. Perforasi komplit :

1) Closed devices : harus segera dikeluarkan oleh karena bahaya strangulasi usus.

2) Cu devices : harus segera dikeluarkan oleh karena bahaya timbulnya reaksi inflamasi dan adhesi sekitar AKDR di dalam rongga peritoneum (adhesi omentum).

3) Open –linier devices

Sampai sekarang masih ada 2 pendapat :

Menurut Medical Advisory Panel IPPF, tidak perlu dikeluarkan kecuali bila ada gejala-gejala dan keluhan abdominal. Harus dikeluarkan meskipun tidak ada gejala-gejala dan keluhan abdominal.

I. Pengeluaran dan Komplikasi AKDR di Kemudian Hari menurut Hartanto (2004) :

a. Rasa Sakit Perdarahan

1) Merupakan alasan medis utama dari penghentian pemakaian AKDR, yaitu kira-kira 4 -15% dalam 1 tahun. Tetapi menurut penelitian-penelitian, rasa sakit dan perdarahan akan berkurang dengan semakin lamanya pemakaian AKDR.

2) Perdarahan bertambah banyak dapat berbentuk :

a) Volume darah haid bertambah, kecuali pada AKDR yang mengandung hormon.

b) Perdarahan berlangsung lebih lama

c) Perdarahan bercak/ spotting diantara haid.

b. Embedding dan Displacement

AKDR tertanam dalam-dalam di endometrium atau myometrium.

c. Infeksi.

1) Merupakan komplikasi yang paling serius yang berhubungan dengan pemakaian AKDR.

2) Akseptor AKDR mempunyai risiko 2 X lebih besar untuk mendapatkan PID dibandingkan non – akseptor KB.

3) PID adalah suatu istilah luas yang menunjukkan adanya suatu infeksi yang naik dari serviks kedalam uterus, tuba falupi dan ovarium.

4) Komplikasi PID umumnya berat, antara lain dapat menyebabkan sumbatan partial ataupun total pada satu atau kedua tuba falopii, dengan akibat bertambah besarnya kemungkinan insidens kehamilan ektopik dan infertilitas.

5) Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko infeksi :

a) Insersi (terutama dalam 2-4 bulan pertama post-insersi

b) Type/ macam AKDR

c) Penyakit akibat hubungan seks (PHS)

d) Umur

J. Kontraindiaksi Insersi AKDR

a. Kontraindikasi Absolut :

1) Infeksi pelvis yang aktif (akut atau sub-akut), terutama persangkaan Gonorhoe atau Chlamydia.

2) Kehamilan atau persangkaan kehamilan

b. Kontraindikasi relatif kuat

1) Partner seksual yang banyak.

2) Partner memperoleh pertolongan gawat darurat bila terjadi komplikasi.

3) Pernah mengalami infeksi pelvis atau infeksi pelvis yang rekuren, post-partum endometritis atau abortus febrilis dalam tiga bulan terakhir.

4) Kesukaran memperoleh pertolongan gawat darurat bila terjadi komplikasi.

5) Cervitis akut purulent.

6) Kelainan darah yang tidak diketahui sebabnya.

7) Riwayat kehamilan ektopik atau keadaan-keadaan yang menyebabkan predisposisi untuk terjadinya kehamilan ektopik.

8) Pernah mengalami infeksi pelvis satu kali dan masih menginginkan kehamilan selanjutnya.

9) Kelainan pembekuan darah.

c. Keadaan –keadaan lain yang dapat merupakan kontra-indikasi untuk insersi AKDR:

1) Penyakit katup jantung

2) Keganasan endometrium atau serviks.

3) Stenosis serviks yang berat.

4) Uterus yang kecil sekali

5) Endometriosis

6) Myoma uteri

7) Polip endometrium

8) Kelainan kongenital utrerus

9) Dismenorhe yang berat

10) Darah haid yang banyak, haid yang ireguler atau perdarahan bercak (spotting)

11) Alergi terhadap Cu atau penyakit Wilson yaitu penyakit gangguan Cu yang turun temurun

12) Anemia

13) Ketidakmampuan untuk mengetahui tanda-tanda bahaya AKDR

14) Ketidakmampuan untuk memeriksa sendiri ekor AKDR

15) Riwayat Gonorhoe, Chlamydia, Syphilis atau herpes

16) Actinomycosis genitalia

17) Riwayat reaksi vaso-vagal yang berat atau pingsan

18) Inkompatibilitas golongan darah misalnya Rh negatif

19) Pernah mengalami problem ekspulsi AKDR

20) Leukore atau infeksi vagina

21) Riwayat infeksi pelvis

22) Riwayat operasi pelvis

23) Keinginan untuk mendapatkan anak dikemudian hari atau pertimbangan kesuburan dimasa yang akan datang.

(Saifuddin, et. al., 2003).